وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُwa-ammaa idzaa maa btalaahu fa-qadara alayhi rizqahusementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya
  2. فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِfa-yaquulu rabbii ahaananiberkatalah dia, Tuhanku telah menghinaku
Aplikasi

Kesalahan asumsi sebaliknya tentang kesulitan: 'apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia: Tuhanku telah menghinaku', kritik terhadap interpretasi sebaliknya, menafsirkan keterbatasan material sebagai bukti kehinaan, keduanya adalah kesalahan penilaian yang sama-sama keliru.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

qdr per konvensi; per kelas morfologi corpus; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi qdr: qadiir diterjemahkan 'berkuasa'; qaadir diterjemahkan 'kuasa' (75:40/86:8 terjemahan lain jujur); muqtadir diterjemahkan 'berkuasa penuh'; qadar diterjemahkan kadar/ketentuan/ukuran; Lailatulqadar=nama; cabang ukur-sempit pemakaian diteruskan.