يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَةً ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۚ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian berbicara rahasia dengan Rasul, hendaklah kalian mengeluarkan sedekah sebelum pembicaraan rahasia kalian. Itu lebih baik bagi kalian dan lebih bersih. Akan tetapi, jika kalian tidak mendapatkan, sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (4 jeda)
  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَyaa ayyuhaa lladziina aamanuu idzaa naajaytumu r-rasuulawahai orang-orang yang beriman, apabila kalian berbicara rahasia dengan Rasul
  2. فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَةًfa-qaddimuu bayna yaday najwaakum sadaqatanhendaklah kalian mengeluarkan sedekah sebelum pembicaraan rahasia kalian
  3. ذَٰلِكَ خَيْرٌ لَكُمْ وَأَطْهَرُdzaalika khayrun lakum wa-atharuitu lebih baik bagi kalian dan lebih bersih
  4. فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌfa-in lam tajiduu fa-inna llaaha ghafuurun rahiimunakan tetapi, jika kalian tidak mendapatkan, sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih
Aplikasi

Prasyarat praktis sebelum permintaan khusus: 'apabila kalian (ingin) melakukan pembicaraan rahasia dengan Rasul, hendaklah kalian mengeluarkan sedekah. jika kalian tidak mendapatkan, sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih', mekanisme yang mencegah penyalahgunaan akses istimewa sekaligus tetap fleksibel bagi yang tidak mampu, keseimbangan antara disiplin dan kelonggaran.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya, superlatif yang di teks. *Ghafuur* berpola *fa'uul* & *rahiim* berpola *fa'iil*: intensif, superlatif (bandingkan *arham*, pola *af'al* = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151)., kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik KEMENAG SENDIRI: di ia menulis *rahiim* diterjemahkan “penyayang”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus muncul di, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8)., dan itu penting: *ghafara* = (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), *rahima* =. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. bahwa *ghafuur* & *rahiim* memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul di dekat *rahiim* tapi hanya di dekat *rahmaan*, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan *rahmaan* ≠ *rahiim*. Akar tetangga yang BELUM diputuskan (*'aziiz*, *hakiim*, *haliim*, *'aliim* dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Rujukan:, Corpus ayat ini: = LEM:gafuwr ROOT:gfr,; = LEM:r~aHiym ROOT:rHm,. Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.