حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ
Bidadari-bidadari yang terpelihara dalam kemah-kemah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- حُورٌ مَقْصُورَاتٌhuurun maqshuuraatunbidadari-bidadari yang terpelihara
- فِي الْخِيَامِfii l-khiyaamidalam kemah-kemah
Terjemahan per kata (4 kata)
- حُورٌhuurunbidadari
- مَقْصُورَاتٌmaqshuuraatunyang dipingit
- فِيfiidalam
- الْخِيَامِl-khiyaamikemah
Inti bacaan
Kata benda yang tertunda sejak 55:70 akhirnya disebut: 'bidadari-bidadari yang terpelihara dalam kemah-kemah', satu-satunya dari empat ayat bidadari yang tanpa 'bermata elok', dengan kemah sebagai naungan yang tidak muncul di ayat lain mana pun.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ, huurun maqshuuraatun fii l-khiyaami), "bidadari-bidadari yang terpelihara dalam kemah-kemah". Kalimat ini juga tanpa kata kerja, dan kata benda yang tidak ada di 55:70 kini disebut.
Kata huurun dipakai di empat ayat. Di tiga ayat lainnya kata itu diikuti (عِينٍ, 'iinin): (وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ, wa-zawwajnaahum bi-huurin 'iinin), "dan Kami pasangkan mereka dengan bidadari yang bermata elok", di 44:54 dan 52:20, serta (وَحُورٌ عِينٌ, wa-huurun 'iinun), "dan bidadari yang bermata elok", di 56:22. Hanya di ayat ini huurun berdiri tanpa kata sifat itu, dan terjemahannya pun "bidadari-bidadari" saja, tanpa "bermata elok".
Akar ح-و-ر dipakai di delapan ayat lain dalam bentuk yang berbeda: bercakap-cakap di 18:34 dan 18:37, percakapan di 58:1, kembali di 84:14, dan sebutan para pengikut Isa di 3:52, 5:111, 5:112, dan 61:14. Pemakaian-pemakaian itu tidak menerangkan makna huurun. Terjemahan "bidadari" dipakai konsisten di keempat ayat, dan maknanya tidak bisa diturunkan dari pemakaian akar ini di ayat lain.
Kata maqshuuraatun berasal dari akar ق-ص-ر dan hanya dipakai di ayat ini. Kaitannya dengan (قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ, qaashiraatu th-tharfi), "yang menahan pandangannya", sudah dicatat di 55:56: di sana mereka membatasi pandangannya sendiri, di sini mereka dibatasi. Bentuknya pasif, dan pelakunya tidak disebut. Terjemahan ayat memakai "yang terpelihara", sedangkan terjemahan kata per kata memakai "yang dipingit". Keduanya menandai bentuk pasif dengan tekanan yang berbeda: "dipingit" dekat ke makna dibatasi di dalam rumah, sedangkan "terpelihara" menekankan penjagaannya.
Kata l-khiyaami, "kemah-kemah", berasal dari akar خ-ي-م, yang tidak dipakai di ayat lain mana pun. Di ayat-ayat lain tempat tinggal di taman disebut dengan kata yang berbeda. Di 39:20 disebut (غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ, ghurafun mabniyyatun), "kamar-kamar lain yang dibangun" di atas kamar-kamar, dan di 29:58 kamar-kamar taman disebut dengan akar yang sama. Di 9:72 dan 61:12 disebut tempat-tempat tinggal yang baik di taman 'Adn. Kemah hanya disebut di sini. Di seluruh gambaran taman surah ini pun tempat bernaung tidak disebut selain kemah itu. Yang lain berupa tempat bersandar: kasur-kasur di 55:54, bantal dan permadani di 55:76.
Di pasangan pertama tidak ada padanan untuk ayat ini. Sesudah 55:56, pasangan pertama memakai perumpamaan di 55:58, yakut dan marjan, untuk rupa mereka. Pasangan kedua tidak memakai perumpamaan, dan menyebut kata benda serta tempat mereka.
Tafsiran
Ayat ini menyebut yang menemani penghuni taman kedua dengan kata benda, bidadari, dan dengan tempat, kemah. Di pasangan pertama keduanya tidak disebut. Di sana mereka disifati dengan sikap, menahan pandangan (55:56), lalu digambarkan lewat perumpamaan (55:58). Di sini mereka disebut dengan sebutan dan tempatnya, tanpa perumpamaan. Penghuni taman digambarkan bersandar di atas kasur dan permadani, sedangkan yang menemani mereka digambarkan berada di dalam kemah. Teks tidak menyebut apakah penghuni taman juga bernaung di dalamnya.
Bentuk pasif maqshuuraatun sejalan dengan pola yang dicatat di 55:65: rincian taman kedua disebut tanpa menyebut pemberinya. Siapa yang memelihara mereka di dalam kemah tidak dinyatakan. Di 55:56 pembatasan datang dari diri mereka sendiri, dan di sini keadaan mereka yang dijaga. Teks tidak mempertentangkan keduanya dan tidak menyatakan mana yang lebih utama. Kedua pasangan memakai dua bentuk berbeda dari akar yang sama.
Kemah juga tidak dijelaskan lebih jauh: bahan, ukuran, dan letaknya tidak disebut, dan kata ini tidak punya pembanding di ayat lain. Di ayat lain tempat tinggal di taman disebut kamar-kamar yang dibangun bertingkat, dan di sini kemah. Hubungan kedua gambaran itu tidak diterangkan, dan masing-masing disebut di tempatnya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Di pasangan pertama mereka menahan pandangannya sendiri, dan di pasangan kedua mereka dijaga di dalam kemah. Dua bentuk kata dari akar yang sama memperlihatkan dua sisi penjagaan: menjaga diri dan dijaga. Dalam hidup kita keduanya dibutuhkan, dan tidak ada yang cukup sendirian. Orang yang menjaga dirinya tetap memerlukan lingkungan yang menjaganya, dan lingkungan yang menjaga tidak menggantikan penjagaan diri. Refrain sesudahnya menanyakan keduanya sebagai nikmat Tuhan.
- Bentuk pasif di ayat ini tidak memuat nama penjaganya. Kita terbiasa menerima rasa aman tanpa bertanya siapa yang menyediakannya, seperti pintu yang terkunci atau lingkungan yang tenang. Ayat ini menyebut penjagaan itu tanpa pelaku, lalu refrain sesudahnya menyebut Tuhan kalian berdua. Rasa aman yang kita nikmati setiap hari pun punya pemberi, walaupun jarang kita sebut. Kita sering baru menyadarinya ketika rasa aman itu hilang.
- Kemah menunjuk bentuk tempat tinggal yang dalam pengalaman manusia di dunia ringan dan bisa dipindahkan, sedangkan di ayat lain tempat tinggal di taman disebut kamar-kamar yang dibangun bertingkat. Kita sering membayangkan kenyamanan dalam satu bentuk saja, biasanya bangunan megah dan kokoh. Gambaran Allah tentang tempat tinggal di taman memakai lebih dari satu bentuk, dan tidak ada ayat yang menyelaraskan keduanya menjadi satu gambaran. Apakah bayangan kita tentang tempat yang nyaman sudah cukup lapang untuk menerima keduanya?
- Hanya sekali di seluruh Al-Qur'an kata kemah terdengar, di ayat ini. Pembaca yang menemukannya tidak punya ayat lain untuk membandingkan, dan harus menerima gambaran itu apa adanya, tanpa bantuan penjelasan dari ayat lain. Ada hal-hal dalam firman Allah yang hanya disebut sekali, dan kesempatan memahaminya hanya ada di satu tempat. Membaca ayat seperti ini dengan perhatian penuh berarti tidak melewatkan kesempatan itu.
- Sebutan bidadari tidak dipakai di pasangan pertama dan baru muncul di sini, sesudah 55:56, 55:58, dan 55:70 yang hanya menyebut sifat dan perumpamaan. Pendengar lebih dulu mengenal sikap dan kebaikan mereka, baru kemudian sebutannya. Urutan ini berlawanan dengan kebiasaan kita, yang sering menilai orang dari sebutan atau julukannya lebih dulu. Mengenal sifat seseorang sebelum sebutannya bisa membuat penilaian kita lebih adil, dan gambaran Tuhan di sini memakai urutan itu.
- Pasangan pertama memakai perumpamaan yakut dan marjan untuk rupa mereka, sedangkan pasangan kedua tidak memakai perumpamaan sama sekali. Perumpamaan membantu membayangkan, tetapi juga bisa membuat pendengar terpaku pada gambaran benda yang dipakai. Ayat ini menyebut mereka secara langsung, dengan sebutan dan tempatnya. Ketika mensyukuri sesuatu, kita kadang terlalu sibuk membandingkannya dengan hal lain sampai lupa melihatnya sebagaimana adanya, sebagai pemberian Tuhan.