مُدْهَامَّتَانِ
Keduanya hijau tua,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مُدْهَامَّتَانِmud-haammataanikeduanya hijau tua
Terjemahan per kata (1 kata)
- مُدْهَامَّتَانِmud-haammataanikeduanya hijau tua
Inti bacaan
Kesegaran visual yang intens: 'keduanya hijau tua', warna yang menandakan kesuburan dan kehidupan yang subur, kontras dengan kegersangan yang sering diasosiasikan dengan kekurangan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (مُدْهَامَّتَانِ, mud-haammataani), "keduanya hijau tua". Dari enam ayat pendek yang dicatat di 55:48, dua terdiri dari satu kata: 55:1 dan ayat ini. Kata itu berbentuk dual perempuan dan mengikuti (جَنَّتَانِ, jannataani) di 55:62, sehingga 55:62 dan ayat ini adalah satu kalimat yang dipotong oleh refrain, seperti 55:46 dan 55:48 di pasangan taman pertama. Transliterasinya memisahkan d dan h dengan tanda hubung karena kedua huruf itu berurutan tanpa vokal di antaranya, sedangkan tulisan "dh" dalam transliterasi ini dipakai untuk huruf lain.
Kata Arabnya tidak memuat kata ganti tersendiri. Kata "keduanya" di terjemahan berasal dari akhiran dual -taani, karena kalimat bahasa Indonesia membutuhkan pokok kalimat yang disebut, sedangkan di teks Arab akhiran itu sudah menunjuk dua taman di 55:62. Hal yang sama terjadi di 55:48, (ذَوَاتَا, dzawaataa), "keduanya mempunyai", yang juga tidak memuat kata ganti tersendiri.
Akar kata ini, د-ه-م, tidak dipakai di ayat lain mana pun, sehingga maknanya tidak bisa diuji dengan membandingkan ayat. Polanya pun tidak dipakai di tempat lain. Korpus morfologi menggolongkannya sebagai bentuk kesebelas, dan tidak ada kata lain di Al-Qur'an dengan pola itu.
Pola yang paling dekat, yang oleh korpus morfologi digolongkan sebagai bentuk kesembilan, dipakai di sembilan ayat, dan semua pemakaiannya menyangkut warna. Putih dan hitam pada wajah disebut di 3:106, (تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ, tabyadhdhu wujuuhun wa-taswaddu wujuuhun), "ada wajah yang memutih dan ada wajah yang menghitam", juga di 3:107, 16:58, dan 43:17, dan putih pada mata di 12:84. Hijau pada bumi disebut di 22:63, (فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً, fa-tushbihu l-ardhu mukhdharratan), "sehingga bumi menghijau". Kuning disebut di 30:51, 39:21, dan 57:20, dengan kata (مُصْفَرًّا, mushfarran), "menguning".
Susunan mud-haammataani mirip dengan mukhdharratan: keduanya diawali mu-, dan huruf terakhir akarnya dibaca rangkap. Bedanya ada pada alif panjang sebelum huruf terakhir itu. Korpus morfologi menandai keduanya, bersama mushfarran, sebagai bentuk pelaku, kata yang menyifati sesuatu dengan warnanya. Di 3:106 warna dinyatakan dengan kata kerja, tabyadhdhu, yang terikat pada hari yang disebut di awal ayat itu. Kemiripan pola tersebut membuat bacaan warna masuk akal untuk kata yang akarnya tidak bisa dibandingkan. Warna yang dipilih terjemahan, hijau tua, tidak bisa dibuktikan dari ayat lain. Kata untuk hijau, dari akar خ-ض-ر, dipakai di pasangan yang sama untuk bantal-bantal tempat bersandar, (خُضْرٍ, khudhrin), di 55:76, dan tidak dipakai di ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan taman kedua lewat warnanya saja. Pasangan pertama dibuka dengan (ذَوَاتَا أَفْنَانٍ, dzawaataa afnaanin), "keduanya mempunyai dahan-dahan yang bercabang" (55:48), sebuah gambaran bentuk pohon yang bisa dilihat dari dekat. Pasangan kedua dibuka dengan warna, sesuatu yang sudah bisa terlihat dari kejauhan. Gambaran pasangan kedua juga berakhir dengan warna, bantal-bantal hijau di 55:76, sehingga pasangan itu dibuka dan ditutup dengan hijau, dari hijau tua pada taman sampai hijau pada bantal.
Hijau yang pekat pada kebun di dunia biasanya menandai kesuburan: daun yang rimbun dan air yang cukup. Al-Qur'an sendiri mengaitkan hijau dengan air di 22:63, ketika bumi menghijau sesudah Allah menurunkan air dari langit, dan dua ayat sesudah 55:64 menyebut dua mata air yang memancar deras (55:66). Seberapa tua hijaunya, apakah sampai tampak kehitaman atau tidak, tidak bisa dipastikan dari satu kata ini.
Warna lain di surah ini muncul di bagian peringatan: langit yang terbelah menjadi (وَرْدَةً, wardatan), "merah mawar" (55:37). Merah itu dipakai untuk hari yang menakutkan, dan hijau untuk taman. Di antara keduanya, pendengar yang sama ditanya dengan refrain yang sama, sehingga kedua warna itu sampai kepada pendengar sebagai bagian dari satu kabar.
Renungan dan Hikmah
- Orang yang tinggal di daerah kering, atau yang pernah melewati kemarau panjang, tahu nilai warna hijau. Sawah yang retak dan pohon yang meranggas membuat mata merindukan daun. Kepada pendengar yang tahu rasanya kekeringan, taman kedua digambarkan pertama-tama dengan warnanya. Gambaran itu memberi harapan kepada orang yang sedang berada di musim kering dalam hidupnya, bahwa Tuhannya menyiapkan taman yang hijau dan berair.
- Di 22:63 Allah bertanya: tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air dari langit sehingga bumi menghijau? Pemandangan itu biasa di negeri ini, ketika hujan pertama turun sesudah kemarau dan rumput tumbuh dalam beberapa hari. Warna dari keluarga pola yang sama dipakai untuk taman di ayat ini. Pembaca yang melihat sawah menghijau sesudah hujan sedang melihat sesuatu yang oleh Al-Qur'an disebut tanda (16:65), dan warna itu bisa mengingatkannya pada taman yang dijanjikan.
- Kemampuan membedakan hijau muda dan hijau tua jarang disyukuri karena dianggap biasa. Surah ini menyebut tiga warna, merah langit di hari yang menakutkan, hijau taman, dan hijau bantal, dan setiap penyebutan itu disusul pertanyaan tentang nikmat Tuhan. Mata yang bisa menikmati warna termasuk pemberian Tuhan yang sering baru disadari ketika penglihatan mulai kabur. Refrain yang menyusul ayat ini bisa dibaca juga sebagai pertanyaan tentang mata yang dipakai untuk membayangkan warna itu.
- Banyak orang di negeri ini mengenal pemandangan hutan yang ditebang, sungai yang tercemar, dan bukit yang gundul. Di 30:41 Allah menyebut kerusakan di darat dan di laut yang tampak karena perbuatan tangan manusia. Kerinduan pada taman yang hijau dan kebiasaan menghilangkan hijau di bumi sulit berjalan bersama. Orang yang membayangkan hijau di taman bisa mulai dengan menjaga hijau yang dititipkan kepadanya sekarang, sekecil apa pun.
- Pembaca terjemahan mudah mengira setiap kata di dalamnya sepasti teks Arabnya. Ayat ini memperlihatkan sebaliknya: kata aslinya tidak dipakai di tempat lain, dan "hijau tua" adalah bacaan yang dipilih. Mengetahui bahwa sebuah terjemahan berisi pilihan tidak membuat terjemahan itu kurang berguna. Pengetahuan itu membuat pembaca lebih hati-hati untuk tidak membangun keyakinan besar di atas satu kata yang maknanya tidak bisa diuji, dan lebih bersandar pada apa yang dijelaskan Allah berulang kali dalam kitab-Nya.
- Orang yang memandang kebun hijau melihat daunnya, tidak melihat air yang mengalir di dalam tanah. Gambaran pasangan kedua dibuka dengan warna, lalu dua ayat kemudian menyebut dua mata air yang memancar deras. Dalam hidup, orang sering memuji hasil yang tampak dan lupa pada sumber yang tidak terlihat: doa orang tua, pertolongan yang datang diam-diam, rezeki dari Allah yang tidak pernah dihitung. Dengan refrain sesudah setiap gambaran, pendengar diminta menelusuri hasil sampai ke Pemberinya.