هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Adakah balasan kebaikan selain kebaikan?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُhal jazaa'u l-ihsaani illaa l-ihsaanuadakah balasan kebaikan selain kebaikan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. هَلْhalapakah
  2. جَزَاءُjazaa'ubalasan
  3. الْإِحْسَانِl-ihsaanikebaikan
  4. إِلَّاillaakecuali
  5. الْإِحْسَانُl-ihsaanukebaikan

Inti bacaan

Prinsip resiprositas universal yang eksplisit: 'adakah balasan kebaikan selain kebaikan?', hukum sebab-akibat etis yang sederhana namun mendalam, dasar bagi keyakinan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan pada akhirnya akan kembali dalam bentuk kebaikan pula, prinsip yang mendorong konsistensi berbuat baik tanpa perlu jaminan balasan instan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ, hal jazaa'u l-ihsaani illaa l-ihsaanu), "adakah balasan kebaikan selain kebaikan?". Kalimatnya terdiri dari lima kata tanpa kata kerja: kata tanya, kata "balasan", kata "kebaikan", kata pengecualian, dan kata "kebaikan" sekali lagi.

Kata tanya (هَلْ, hal) tidak dipakai di ayat lain dalam surah ini. Di luar refrain, yang bertanya lewat (فَبِأَيِّ, fa-bi-ayyi), Ar-Rahman tidak memuat pertanyaan lain. Susunan hal yang disusul (إِلَّا, illaa), "kecuali", dipakai di dua puluh delapan ayat. Isi pertanyaan semacam itu sudah dikunci oleh illaa, karena yang ditanyakan dibatasi pada hal yang disebut sesudahnya. Di 6:160 isi yang mirip dinyatakan dengan kalimat ingkar, (فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا, fa-laa yujzaa illaa mitslahaa), "ia tidak dibalas kecuali seimbang dengannya". Kalimat tanya di ayat ini berisi hal yang sama dengan kalimat ingkar itu, tetapi pengakuannya diserahkan kepada pendengar. Terjemahan mempertahankan bentuk tanya, dan illaa, yang di terjemahan kata per kata ditulis "kecuali", di terjemahan ayat ditulis "selain" supaya kalimat tanyanya wajar dalam bahasa Indonesia.

Lima dari dua puluh delapan ayat itu menyangkut balasan, dan kelimanya tentang orang yang mendustakan, berbuat zalim, membawa keburukan, atau kufur: 7:147, (هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ, hal yujzawna illaa maa kaanuu ya'maluuna), "apakah mereka dibalas kecuali dengan apa yang telah mereka kerjakan?", lalu 10:52, 27:90, 34:17, dan 34:33. Kelimanya memakai kata kerja "dibalas" atau "membalas". Ayat ini memakai kata benda (جَزَاءُ, jazaa'u), "balasan", dari akar yang sama, ج-ز-ي, sehingga kalimatnya tidak menyebut kapan dan siapa yang dibalas. Susunan yang di lima ayat itu dipakai untuk balasan keburukan, di sini dipakai untuk balasan kebaikan.

Kata (الْإِحْسَانِ, l-ihsaani) berasal dari akar ح-س-ن. Bentuk kata ini dipakai di sebelas ayat, dan di sepuluh ayat selain ayat ini maknanya perbuatan manusia. Lima di antaranya menyangkut sikap kepada kedua orang tua, seperti (وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا, wa-bi-l-waalidayni ihsaanan) di 17:23, "dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua". Di 16:90 kata itu bersanding dengan keadilan, (بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ, bi-l-'adli wa-l-ihsaani), dan di 2:229 menjadi cara melepaskan, (تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ, tasriihun bi-ihsaanin), "melepaskan dengan cara yang baik". Di ayat ini kata yang sama dipakai dua kali, pertama untuk perbuatan yang dibalas dan kedua untuk balasannya. Bunyi akhirnya berbeda, -i pada l-ihsaani dan -u pada l-ihsaanu, karena kedudukannya dalam kalimat berbeda. Terjemahan menulis "kebaikan" untuk keduanya supaya pengulangan kata di teks Arab tetap terlihat.

Susunan (جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ, jazaa'u l-muhsiniina), "balasan orang-orang yang berbuat kebaikan", dipakai di 5:85 dan 39:34, dan akar ج-ز-ي bersama kata untuk orang yang berbuat baik muncul di sebelas ayat, antara lain 77:44, "demikianlah Kami membalas orang-orang yang berbuat kebaikan". Ayat-ayat itu menyebut pelakunya. Ayat ini menyebut perbuatannya tanpa menyebut pelaku. Pelaku dalam rangkaian ini sudah disebut di awal pasangan taman pertama, 55:46: (وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ, wa-li-man khaafa maqaama rabbihi), "bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya".

Tafsiran

Ayat ini merangkum prinsip di balik seluruh kenikmatan pasangan taman pertama dalam sebuah pertanyaan. Rangkaian itu dibuka di 55:46 dengan menyebut penerimanya, siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya, lalu diisi dahan, mata air, buah, kasur, dan yang menemani penghuni taman. Di ujungnya, penerima itu disebut dari perbuatannya: kebaikan. Rasa takut di awal rangkaian dan kebaikan di akhirnya membingkai seluruh gambaran taman, dan balasan diberikan kepada kebaikan, sebuah perbuatan.

Pola perbuatan baik yang dibalas dengan yang baik, dari akar yang sama, muncul juga di 10:26, (لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ, li-lladziina ahsanuu l-husnaa wa-ziyaadatun), "bagi orang-orang yang berbuat baik, yang terbaik dan tambahan", dan di 53:31, yang menyebut Allah membalas orang-orang yang berbuat baik (بِالْحُسْنَى, bi-l-husnaa). Ukuran balasan tidak disebut di sini. Di 6:160 kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya, sedangkan keburukan tidak dibalas kecuali seimbang dengannya. Terjemahan ini memakai kata "setimpal" untuk balasan keburukan, seperti di 10:27 dan 42:40, dan tidak memakainya untuk balasan kebaikan, sebab yang dijanjikan bisa melebihi perbuatannya.

Pasangan taman kedua, yang dimulai di 55:62, tidak ditutup dengan pertanyaan semacam ini. Gambarannya berakhir di 55:76, dan surah ditutup di 55:78 dengan memuji nama Tuhan. Pertanyaan tentang balasan kebaikan diajukan sekali, di tengah gambaran taman, dan Allah menyerahkan jawabannya kepada pendengar sebelum gambaran berikutnya dimulai.

Renungan dan Hikmah

  • Orang yang berbuat baik kepada sesama sering mendapati kebaikannya tidak dibalas oleh orang yang menerimanya, bahkan kadang dibalas dengan keburukan. Ayat ini tidak menyebut penerima kebaikan sebagai pembalasnya. Rangkaian ini menggambarkan balasannya berupa taman dari Tuhan, bagi siapa yang takut akan kedudukan-Nya. Pembaca yang kecewa karena kebaikannya tidak berbalas dari manusia bisa bertanya ulang kepada dirinya: dari siapa sebenarnya balasan itu dinantikan?
  • Jawaban pertanyaan di ayat ini sudah jelas bagi siapa pun yang mendengarnya. Allah tetap menyampaikannya sebagai pertanyaan, sehingga pendengar sendiri yang mengucapkan jawabannya di dalam hati. Pengakuan yang diucapkan sendiri lebih melekat daripada kalimat yang diterima begitu saja. Di rumah dan di tempat kerja, pertanyaan yang jawabannya sudah jelas sering dipakai untuk mengingatkan, dan orang yang ditanya tahu dirinya sedang diingatkan tanpa digurui.
  • Sebutan "orang baik" mudah melekat dan mudah dibanggakan. Ayat ini menyebut kebaikan, perbuatannya, dan tidak menyebut orang baik. Balasan dikaitkan dengan apa yang dikerjakan, tidak dengan nama yang disandang. Orang yang lama dikenal baik oleh lingkungannya tetap ditimbang dari perbuatannya, dan orang yang belum dikenal siapa pun tidak kehilangan apa-apa karena belum punya nama. Di hadapan Tuhannya, kebaikan yang benar-benar dikerjakan menjadi ukurannya.
  • Kata untuk kebaikan yang di ayat ini dibalas dengan taman dipakai di lima ayat lain untuk sikap kepada kedua orang tua. Kebaikan kepada ayah dan ibu yang sudah tua sering berupa hal kecil, seperti yang dirinci 17:23: tidak berkata "ah", tidak membentak, dan berbicara dengan perkataan yang mulia. Pembaca yang mencari kebaikan besar untuk dibalas Allah bisa mulai dari rumahnya sendiri, dari orang yang paling dekat dan kadang paling mudah diabaikan.
  • Rasa takut kepada Tuhan kadang dipahami sebagai kecemasan yang membuat orang diam. Rangkaian ayat ini dibuka dengan rasa takut akan kedudukan Tuhannya dan ditutup dengan kebaikan sebagai perbuatan yang dibalas. Rasa takut yang diakui dalam rangkaian ini mewujud dalam perbuatan baik. Pembaca bisa memeriksa rasa takutnya sendiri: apakah rasa itu menahannya dari keburukan dan mendorongnya berbuat baik, atau sekadar menjadi kegelisahan yang tidak menghasilkan apa-apa?
  • Kalau balasan kebaikan adalah kebaikan, balasan atas keburukan orang lain tidak harus keburukan. Di 41:34 Allah meminta keburukan ditolak "dengan yang lebih baik", dengan kata dari akar yang sama dengan kebaikan di ayat ini. Orang yang disakiti biasanya ingin membalas setimpal. Ayat itu menyebut bahwa orang yang tadinya bermusuhan bisa menjadi seakan-akan teman yang akrab. Kata kebaikan di 55:60 tidak dibatasi penerimanya, sehingga kebaikan kepada orang yang tidak membalas dengan baik juga termasuk di dalamnya.