فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein kedua puluh setelah gambaran kenyamanan: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang menegaskan bahwa kemudahan dan kenyamanan itu sendiri adalah anugerah yang jarang disyukuri secara sadar.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kedua puluh dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Di pasangan taman pertama ini refrain kelima dari delapan, dan yang pertama sesudah penghuni taman disebut di 55:54.

Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama, dan akhiran dual pada tukadzdzibaani menyapa mereka sebagai orang kedua. Ayat sebelumnya memakai orang ketiga. Kata (مُتَّكِئِينَ, muttaki'iina), "mereka bersandar", membicarakan penghuni taman tanpa menyapa mereka. Dalam dua ayat berurutan dipakai dua sebutan: yang bersandar di taman disebut "mereka", dan yang ditanya disebut "kalian". Terjemahan menandai pergantian itu dengan kata "mereka" di 55:54 dan "kalian" di refrain.

Pembagian itu berlaku di seluruh bagian taman. Dari 55:46 sampai 55:77, di luar refrain, tidak ada ayat yang memakai kata ganti orang kedua. Penghuni kedua pasangan taman selalu dibicarakan: (لِمَنْ خَافَ, li-man khaafa), "bagi siapa yang takut" (55:46), muttaki'iina di 55:54 dan 55:76, serta (قَبْلَهُمْ, qablahum), "sebelum mereka", di 55:56 dan 55:74. Sapaan di bagian itu datang dari refrain saja, yang muncul enam belas kali. Kata ganti orang kedua di luar refrain baru muncul lagi di ayat terakhir surah, (رَبِّكَ, rabbika), "Tuhanmu" (55:78), dalam bentuk tunggal, seperti (وَجْهُ رَبِّكَ, wajhu rabbika) di 55:27.

Bagian peringatan sebelumnya memakai cara yang sama untuk para pendosa. Mereka disebut (الْمُجْرِمُونَ, l-mujrimuuna) di 55:41 dan 55:43, dan di 55:44 digambarkan dengan (يَطُوفُونَ, yathuufuuna), "mereka berkeliling", juga orang ketiga jamak. Perbedaan kedua kata kerja itu, berkeliling dan bersandar, sudah dicatat di 55:54. Di sini dicatat kesamaannya: penghuni neraka dan penghuni taman sama-sama disebut "mereka", dan di antara keduanya pendengar tetap disapa "kalian berdua".

Isi yang mendahului refrain juga berganti di ayat ini. Empat refrain sebelumnya di pasangan taman pertama menyusul benda: dua taman, dahan-dahan, dua mata air, dan buah, seperti dicatat di 55:53. Refrain ini menyusul keadaan orang, yaitu penghuni yang bersandar dengan buah yang dekat, dan dua refrain berikutnya menyusul yang menahan pandangannya di 55:56 serta perumpamaan mereka di 55:58. Kata (آلَاءِ, aalaa'i), "nikmat-nikmat", di ketiga refrain itu mencakup keadaan orang dan mereka yang menemani, tidak hanya benda.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah gambaran kenyamanan dan buah yang dekat, dan setelah penghuni taman untuk pertama kalinya disebut sebagai "mereka". Pendengar tidak diberi tahu bahwa merekalah yang akan bersandar. Kabar tentang taman disampaikan sebagai kabar tentang orang lain, dan kalimat yang ditujukan kepada pendengar berbentuk pertanyaan.

Al-Qur'an bisa menyapa penghuni taman secara langsung, dan di surah lain melakukannya. Di 43:70 mereka dipanggil (ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ, udkhuluu l-jannata antum wa-azwaajukum), "masuklah ke taman, kalian dan pasangan-pasangan kalian". Sapaan itu ditujukan kepada orang yang sudah sampai. Surah Ar-Rahman berbicara kepada pendengar yang belum sampai, sehingga penghuni taman tetap orang ketiga dan pendengar tetap orang kedua.

Jarak antara "mereka" dan "kalian" diisi oleh syarat di 55:46: takut akan kedudukan Tuhannya. Kata "siapa" di ayat itu terbuka bagi setiap pendengar, dari golongan jin maupun manusia. Kepada pendengar, refrain tidak menjanjikan tempat bersandar dan hanya bertanya. Apakah seorang pendengar kelak termasuk "mereka" tidak dijawab di ayat ini, dan surah ini menyerahkannya pada syarat yang sudah disebut di 55:46.

Renungan dan Hikmah

  • Membaca gambaran taman, orang mudah membayangkan dirinya sendiri yang bersandar di sana. Teksnya lebih berhati-hati. Penghuni yang bersandar disebut "mereka", dan pembaca disebut "kalian", dua sebutan yang dipisahkan satu ayat. Allah tidak menempatkan pendengar di atas kasur-kasur itu lebih dulu. Dia menggambarkan orang lain, lalu bertanya. Jarak antara kedua kata ganti itu adalah jarak yang masih harus ditempuh, dan selama pertanyaan masih diajukan, jarak itu belum tertutup.
  • Kabar tentang keberuntungan orang lain sering menimbulkan iri, atau membuat orang acuh karena merasa itu bukan urusannya. Penghuni taman di 55:54 tidak disebut namanya, sukunya, atau hartanya. Mereka dikenali hanya lewat syarat di 55:46, takut akan kedudukan Tuhannya, syarat yang terbuka bagi siapa pun yang mendengar. Kabar tentang mereka, dengan begitu, tidak menutup pintu bagi pendengar, dan tidak ada alasan untuk iri kepada orang yang jalannya sama-sama terbuka bagi dirinya sendiri.
  • Janji yang diucapkan langsung, "kalian akan bersandar", mudah dipegang sebagai jaminan, seakan urusannya sudah selesai. Refrain memakai bentuk lain. Sesudah penghuni taman digambarkan, refrain bertanya kepada pendengar nikmat mana yang mereka dustakan. Pertanyaan tidak memberi jaminan, dan juga tidak menutup kemungkinan. Bukankah pertanyaan yang masih diajukan menandakan jawabannya masih ditunggu? Pendengar diperlakukan sebagai pihak yang masih bisa menjawab, dan jawabannya belum ditulis.
  • Empat refrain pertama di taman menyusul benda: taman, dahan, mata air, dan buah. Refrain ini menyusul keadaan orang: bersandar dengan tenang, dengan buah yang dekat. Ketenangan jarang dihitung sebagai pemberian, karena tidak bisa disimpan atau dipamerkan seperti benda. Surah ini menempatkannya di bawah pertanyaan yang sama dengan buah dan air. Istirahat yang Allah berikan kepada penghuni taman dihitung sebagai nikmat, dan istirahat seseorang di dunia, sesudah hari yang melelahkan, pantas dilihat dengan cara yang sama.
  • Para pendosa di 55:44 dan penghuni taman di 55:54 sama-sama disebut "mereka". Pendengar berdiri di antara keduanya dan disapa "kalian". Kedua gambaran itu belum menjadi keadaan pendengar; keduanya masih kabar tentang orang lain. Tuhan kalian berdua memperlihatkan dua kemungkinan itu berdampingan, dengan hanya sepuluh ayat di antaranya, lalu bertanya. Pendengar yang membaca keduanya sedang melihat dua ujung jalan dari tempat yang masih di tengah, ketika arah langkahnya masih bisa dipilih.
  • Pertanyaan tentang nikmat mudah terasa wajar sesudah peringatan, ketika orang sedang takut. Refrain ini diajukan sesudah gambaran kenyamanan, ketika pendengar sedang membayangkan tempat bersandar dan buah yang dekat. Kenyamanan sering membuat orang lupa bertanya dari mana datangnya, dan kesulitan lebih cepat mengingatkan orang kepada Tuhannya. Surah ini menaruh pertanyaan yang sama di kedua keadaan, sehingga saat nyaman pun menjadi saat untuk mengakui pemberian-Nya.