ذَوَاتَا أَفْنَانٍ
Keduanya mempunyai dahan-dahan yang bercabang.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ذَوَاتَا أَفْنَانٍdzawaataa afnaaninkeduanya mempunyai dahan-dahan yang bercabang
Terjemahan per kata (2 kata)
- ذَوَاتَاdzawaataakeduanya memiliki
- أَفْنَانٍafnaanindahan-dahan
Inti bacaan
Rincian pertama kedua taman: 'keduanya mempunyai dahan-dahan yang bercabang', perhatian diarahkan pada bentuk pohonnya, sehingga ganjaran di akhirat dilukiskan dengan wujud yang bisa dibayangkan mata, tidak sebagai konsep abstrak.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (ذَوَاتَا أَفْنَانٍ, dzawaataa afnaanin), "keduanya mempunyai dahan-dahan yang bercabang". Ayat ini terdiri dari dua kata, tanpa kata kerja dan tanpa pokok kalimat sendiri. Seperti dicatat di 55:47, bentuk kata pertamanya menyambung kembali ke (جَنَّتَانِ, jannataani) di 55:46, sehingga 55:46 dan ayat ini adalah satu kalimat yang dipotong oleh refrain. Di surah ini, ayat yang terdiri dari satu atau dua kata ada enam: 55:1 sampai 55:4 di awal surah, ayat ini, dan 55:64. Empat ayat di awal masing-masing memuat kata kerja, kecuali 55:1 yang berupa satu nama, sedangkan ayat ini dan 55:64 tidak memuat kata kerja dan sama-sama menerangkan taman.
Kata (ذَوَاتَا, dzawaataa) adalah bentuk dual perempuan dari kata yang berarti "yang mempunyai". Bentuk perempuannya mengikuti kata taman, dan bentuk dualnya mengikuti jumlah taman. Terjemahan menuliskan dual itu sebagai "keduanya mempunyai". Bentuk dual perempuan kata ini dipakai lagi di 34:16, juga untuk menerangkan dua kebun: (جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ, jannatayni dzawaatay ukulin khamthin), "dua kebun yang berbuah pahit". Di sana kebun kaum Saba' yang subur diganti dengan dua kebun yang berbuah pahit sesudah mereka berpaling. Di ayat ini kedua taman mempunyai dahan-dahan.
Di surah ini kata yang sama sudah dipakai tiga kali sebelumnya, dan bentuknya selalu menyesuaikan diri dengan hal yang diterangkannya. Di 55:11 pohon kurma disebut (ذَاتُ الْأَكْمَامِ, dzaatu l-akmaami), "yang mempunyai kelopak mayang", dengan bentuk tunggal perempuan. Di 55:12 biji-bijian disebut (ذُو الْعَصْفِ, dzuu l-'ashfi), "yang berkulit", dengan bentuk tunggal laki-laki. Di 55:27 wajah Tuhan disebut (ذُو الْجَلَالِ, dzuu l-jalaali), "yang memiliki kebesaran", dan kata yang sama menerangkan Tuhan sekali lagi di 55:78, ayat terakhir surah ini. Kata ini dipakai untuk tumbuhan di bumi, untuk Tuhan, dan di ayat ini untuk taman yang dijanjikan.
Kata (أَفْنَانٍ, afnaanin) berbentuk jamak dan berasal dari akar ف-ن-ن. Akar ini tidak dipakai di ayat lain, sehingga maknanya tidak bisa dibandingkan dengan pemakaian lain. Kata itu juga tidak diberi kata sandang, sehingga jumlah dahannya dibiarkan tanpa ukuran. Terjemahan memakai "dahan-dahan yang bercabang": bentuk ulangnya menandai jamak, dan kata "bercabang" menggambarkan dahan yang tumbuh ke banyak arah. Ayat-ayat di sekitarnya sejalan dengan gambaran pepohonan itu. Di 55:54 disebut (وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ, wa-janaa l-jannatayni daanin), "dan buah kedua taman dekat", sehingga kedua taman itu memang berpohon dan berbuah. Pasangan taman kedua di 55:64 juga diperkenalkan lewat satu kata, kali ini tentang warnanya, "keduanya hijau tua".
Tafsiran
Ayat ini merinci kesuburan kedua taman: dipenuhi dahan yang rimbun dan bercabang. Dahan menjadi rincian pertama yang disebut tentang kedua taman itu, sebelum dua mata air di 55:50, buah-buahan berpasangan di 55:52, dan buah yang dekat untuk dipetik di 55:54. Surah ini memperkenalkan taman dari pepohonannya lebih dulu, dan pohon yang dahannya banyak memberi naungan jauh sebelum memberi buah.
Kata yang menerangkan taman di ayat ini sama dengan kata yang dipakai untuk pohon kurma dan biji-bijian di 55:11 dan 55:12. Pendengar sudah mengenal kata itu dari pemberian di bumi, dan kini mendengarnya untuk taman balasan. Gambaran taman di surah ini disusun dari hal-hal yang sudah dikenal: dahan, mata air, buah, dan permadani. Bahan gambarannya sudah ada di ingatan pendengar, dari pohon kurma, biji-bijian, dan tumbuhan yang disebut di awal surah.
Di 34:16 kata yang sama menerangkan dua kebun yang berbuah pahit, sesudah kebun kaum Saba' yang subur diganti karena mereka berpaling. Kebun di dunia bisa hilang dan berganti. Dua taman di ayat ini diterangkan tanpa sebutan tentang layu atau rusak, dan rinciannya terus bertambah dari ayat ke ayat. Perbedaan itu tidak dinyatakan dengan kata-kata, tetapi terlihat bila kedua ayat dibaca berdampingan.
Renungan dan Hikmah
- Taman balasan di ayat ini digambarkan dengan kata yang sama yang dipakai untuk pohon kurma dan biji-bijian di bumi. Tuhan tidak memperkenalkan taman itu dengan gambaran yang sepenuhnya asing. Pendengar diajak membayangkannya dari hal-hal yang sudah pernah ia lihat, seperti dahan yang rimbun dan pohon yang tumbuh ke banyak arah. Pohon di halaman rumah atau di pinggir jalan bisa menjadi pengingat kecil tentang taman yang dijanjikan itu, bagi orang yang mau memperhatikannya.
- Dahan disebut lebih dulu, sebelum mata air dan buah. Orang yang pernah menanam pohon tahu bahwa dahan tumbuh bertahun-tahun sebelum buah pertama bisa dipetik. Urutan rincian di ayat-ayat ini mengingatkan bahwa banyak hal baik datang bertahap. Rasa takut akan kedudukan Tuhan, yang disebut sebagai syarat di 55:46, juga tidak tumbuh dalam sehari. Apakah seseorang cukup sabar merawat sesuatu dalam dirinya yang buahnya belum kelihatan?
- Ayat ini terdiri dari dua kata, dan dalam surah yang panjang dua kata ini mudah terlewat. Padahal kedua kata itu menyambung kalimat yang dipotong oleh pertanyaan, dan memberi gambaran pertama tentang taman yang dijanjikan Allah. Pembaca yang terbiasa membaca cepat bisa belajar dari ayat sependek ini bahwa yang ringkas belum tentu remeh. Ayat yang pendek menuntut perhatian yang sama dengan ayat yang panjang, karena keduanya bagian dari firman yang sama dan sama-sama diturunkan untuk dipahami.
- Kata yang sama dipakai untuk dua kebun kaum Saba', yang berganti menjadi kebun berbuah pahit sesudah pemiliknya berpaling. Setiap orang punya semacam kebun dalam hidupnya: pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau hasil usaha yang sedang tumbuh. Kisah Saba' dan janji di ayat ini berdiri berdampingan dalam Al-Qur'an. Keduanya memperlihatkan bahwa nasib sebuah kebun ditentukan oleh sikap pemiliknya kepada Tuhan lebih daripada oleh kesuburan tanahnya.
- Terjemahan ayat ini dibuka dengan "Keduanya", kata yang menunjuk kembali ke dua taman di 55:46. Pembaca harus mengingat apa yang disebut dua ayat sebelumnya supaya kalimat ini bermakna. Orang yang membaca Al-Qur'an ayat demi ayat tanpa menyambungkan yang satu dengan yang lain akan merasa ayat seperti ini menggantung. Ayat ini mengajak pembaca membaca dalam rangkaian, menyimpan janji Tuhan di ingatan sambil mendengar pertanyaan yang menyela, lalu kembali kepada janji itu.
- Jumlah dahan, tinggi pohon, dan luas taman itu tidak disebut. Dengan kata jamak afnaanin, pendengar membayangkan banyak dahan tanpa batas yang pasti. Gambaran yang dibiarkan terbuka seperti ini memberi ruang kepada setiap pendengar untuk membayangkan kelimpahan menurut pengalamannya sendiri. Kemurahan Allah dalam ayat ini disampaikan dengan kata yang sedikit dan makna yang luas, dan orang yang pernah berteduh di bawah pohon rindang sudah punya bekal untuk membayangkannya.