فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein kelima belas setelah deskripsi siksaan: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', kehadiran refrein bahkan di tengah gambaran paling keras menegaskan konsistensi struktural surah ini, terus mengajak refleksi tanpa henti.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kelima belas dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Uraian tentang bentuk pertanyaan dan kata-katanya ada di 55:13 sampai 55:42. Di sini dibahas dua hal yang belum disentuh: letak refrain ini sebagai penutup bagian tentang hari perhitungan dan Jahanam, serta jarak antarrefrain yang berubah sesudahnya.

Bagian itu dimulai di 55:31, ketika Allah berfirman (سَنَفْرُغُ لَكُمْ, sa-nafrughu lakum), "Kami akan mencurahkan perhatian kepada kalian". Sejak ayat itu refrain muncul tujuh kali, yaitu di 55:32, 55:34, 55:36, 55:38, 55:40, 55:42, dan di ayat ini. Di antara ketujuhnya disebut tantangan menembus penjuru langit dan bumi, nyala api dan cairan tembaga, langit yang terbelah, para pendosa yang dikenali dari tanda mereka, lalu Jahanam beserta air mendidihnya. Ayat ini refrain terakhir di bagian itu, karena ayat sesudahnya dibuka dengan (وَلِمَنْ, wa-li-man), "dan bagi siapa", lalu surah beralih ke dua taman. Kalimat refrain tidak berubah di perbatasan itu, sehingga kalimat yang menutup gambaran Jahanam sama dengan kalimat yang akan menyusul janji dua taman di 55:47.

Di awal bagian itu, kedua golongan disapa langsung di luar refrain. Ayat 55:31 memakai (لَكُمْ, lakum), "kepada kalian", 55:33 memakai (إِنِ اسْتَطَعْتُمْ, ini statha'tum), "jika kalian sanggup", dan 55:35 memakai (عَلَيْكُمَا, 'alaykumaa), "kepada kalian". Sesudah 55:35, ayat-ayat di antara refrain tidak lagi menyapa mereka. Ayat-ayat tentang langit yang terbelah, tentang orang per orang yang tidak ditanya tentang dosanya, dan tentang para pendosa yang berkeliling di Jahanam semuanya membicarakan hal dan orang lain tanpa menyapa pendengar. Sejak itu jin dan manusia diajak bicara lewat refrain saja, dan keadaan itu berlanjut sampai 55:77.

Jarak dari 55:42 ke ayat ini tiga ayat. Jarak itu yang keempat dan terakhir dari empat jarak tiga ayat yang dicatat di 55:21, dan sebabnya sama seperti di sana: dua ayat di antaranya membentuk satu kalimat. Akhiran pada (بَيْنَهَا, baynahaa), "di antaranya", di 55:44 kembali kepada Jahanam di 55:43, sehingga refrain baru datang sesudah gambaran Jahanam selesai. Sesudah ayat ini jaraknya selalu dua ayat. Dari ayat ini sampai 55:77 refrain datang tujuh belas kali, berselang-seling dengan enam belas ayat tentang dua pasang taman dan balasannya, tanpa pengecualian.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah gambaran siksaan neraka. Dengan kemunculan ini, bagian surah tentang hari perhitungan dan Jahanam berakhir dengan sebuah pertanyaan, tidak dengan putusan. Ayat 55:44 menggambarkan para pendosa yang berkeliling di antara api dan air mendidih tanpa menyebut kapan perputaran itu berhenti, dan surah tidak menambahkan kalimat penutup untuk gambaran itu. Sesudah gambaran Jahanam, kalimat berikutnya adalah pertanyaan kepada jin dan manusia tentang nikmat Tuhan mereka.

Para pendosa di 55:41 sampai 55:44 dibicarakan sebagai pihak ketiga, sedangkan pendengar surah ini disapa sebagai "kalian berdua". Pembedaan itu memberi arti pada letak refrain ini. Gambaran Jahanam diperdengarkan kepada orang-orang yang belum berada di sana dan masih ditanya. Mereka masih bisa menjawab pertanyaan itu dengan cara yang berbeda dari para pendosa, yang di 55:43 disebut mendustakan Jahanam.

Ayat sesudahnya membuka janji dua taman dengan syarat, bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya. Refrain ini berdiri di antara gambaran api dan syarat itu, sehingga pertanyaan tentang nikmat diajukan tepat sebelum surah menyebut rasa takut yang membuka jalan ke taman. Dalam susunan ini, gambaran api tidak berakhir sebagai ketakutan yang berdiri sendiri, karena sesudah satu pertanyaan tentang nikmat, surah langsung menyebut jalan menuju taman bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya.

Renungan dan Hikmah

  • Gambaran paling berat di surah ini, orang-orang yang berkeliling di antara api dan air mendidih, tidak ditutup dengan kesimpulan. Sesudahnya datang pertanyaan yang sama dengan yang diajukan sesudah matahari, bulan, dan buah-buahan. Orang yang baru membaca gambaran Jahanam mungkin menunggu penjelasan atau ancaman lanjutan, tetapi surah ini mengajukan pertanyaan tentang nikmat Tuhan. Pembaca diajak menimbang sendiri apa yang baru didengarnya, dan pertanyaan itu menunggu jawaban dari dirinya sendiri.
  • Para pendosa dalam gambaran itu selalu disebut "mereka", sedangkan pembaca disebut "kalian". Selisih antara kedua kata ganti itu adalah selisih antara orang yang sudah tidak ditanya dan orang yang masih ditanya. Selama pertanyaan ini masih bisa dibaca, pembacanya masih berada di pihak yang diajak bicara oleh Tuhannya. Kesempatan itu tidak diberi nama di ayat ini, tetapi letak pertanyaannya memperlihatkan bahwa kesempatan itu belum ditutup dan datang lagi setiap kali ayat ini dibaca.
  • Surah ini tidak mengakhiri gambaran Jahanam dengan kalimat yang menenangkan, dan tidak pula dengan kalimat yang menambah ngeri. Gambaran itu berhenti di tengah gerak, lalu pertanyaan datang. Banyak orang terbiasa menutup cerita yang berat dengan kesimpulan supaya bisa segera beralih ke hal lain. Di sini pembaca tidak diberi jalan keluar semudah itu, dan pertanyaan tentang nikmat Allah harus dijawab ketika gambaran tadi masih terbayang. Apakah seseorang masih bisa menyebut nikmat yang diterimanya ketika bayangan tentang api belum hilang dari pikirannya?
  • Di bagian tentang hari perhitungan, pertanyaan yang sama diajukan tujuh kali dengan kata-kata yang tidak berubah. Orang yang mendengar ancaman biasanya menduga pertanyaannya ikut berubah menjadi lebih keras. Di surah ini pertanyaannya tetap tentang nikmat. Ketika api sedang dibicarakan pun, pendengar tetap ditanya tentang pemberian Tuhan kepadanya, sehingga peringatan di bagian ini tidak memutus hubungan antara Pemberi dan penerima. Ancaman dan pemberian datang dari Dia yang sama, dan keduanya disampaikan kepada orang yang sama.
  • Antara gambaran api dan janji dua taman, surah ini menyisipkan satu ayat saja, dan ayat itu berupa pertanyaan. Perpindahan dari satu keadaan ke keadaan lain dalam surah ini tidak disertai penjelasan panjang. Bagi pembaca, susunan itu bisa terasa dekat dengan pengalamannya sendiri. Jarak antara keadaan yang paling buruk dan harapan kadang tidak lebih jauh dari sebuah pertanyaan yang dijawab dengan jujur. Susunan surah ini menempatkan pertanyaan tentang nikmat-Nya tepat di titik perpindahan itu, sebelum janji bagi orang yang takut disebut.
  • Para pendosa di 55:43 disebut mendustakan Jahanam, dan di ayat ini pendengar ditanya nikmat mana yang mereka dustakan. Para pendosa mendustakan sesuatu yang kemudian mereka alami sendiri, sedangkan pendengar masih ditanya tentang pemberian yang sedang mereka terima. Pembaca yang menyadari kedekatan dua kalimat itu mungkin bertanya kepada dirinya sendiri: pemberian Tuhan mana yang selama ini dianggapnya biasa saja, sampai tidak lagi terasa sebagai pemberian? Pada hari yang disebut di 55:39, manusia dan jin tidak lagi ditanya tentang dosanya, sedangkan pertanyaan di ayat ini masih diajukan sekarang.