يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ

mereka berkeliling di antaranya dan air mendidih yang sangat panas.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. يَطُوفُونَ بَيْنَهَاyathuufuuna baynahaamereka berkeliling di antaranya
  2. وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍwa-bayna hamiimin aanindan air mendidih yang sangat panas

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. يَطُوفُونَyathuufuunamereka berkeliling
  2. بَيْنَهَاbaynahaadi antaranya
  3. وَبَيْنَwa-baynadan antara
  4. حَمِيمٍhamiiminair mendidih
  5. آنٍaaninyang sangat panas

Inti bacaan

Detail siksaan yang spesifik: 'mereka berkeliling di antaranya dan air mendidih yang sangat panas', gambaran konkret yang berfungsi sebagai peringatan serius, bukan abstraksi kosong yang mudah diabaikan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ, yathuufuuna baynahaa wa-bayna hamiimin aanin), "mereka berkeliling di antaranya dan air mendidih yang sangat panas". Akhiran pada (بَيْنَهَا, baynahaa), "di antaranya", kembali kepada Jahanam di 55:43, sehingga kedua ayat ini tersambung dalam satu gambaran, dan pelaku (يَطُوفُونَ, yathuufuuna), "mereka berkeliling", adalah para pendosa yang baru disebut.

Kata kerja itu berasal dari akar ط-و-ف. Dalam bentuk ini akar tersebut dipakai di delapan ayat, dan enam di antaranya menggambarkan surga, ketika sesuatu diedarkan kepada penghuninya atau orang lain berkeliling melayani mereka: (يُطَافُ عَلَيْهِمْ, yuthaafu 'alayhim), "diedarkan kepada mereka", di 37:45, 43:71, dan 76:15, serta (وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ, wa-yathuufu 'alayhim), "dan berkeliling melayani mereka", di 52:24 dan 76:19, juga 56:17. Ayat 68:19 memakainya untuk bencana yang menyambangi sebuah kebun, (فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ, fa-thaafa 'alayhaa thaa'ifun), dan ayat ini menjadi yang kedelapan.

Di ayat-ayat surga, penghuninya dilayani, karena orang lain berkeliling di sekitar mereka membawa gelas dan piring. Di ayat ini arahnya terbalik. Para pendosa sendiri yang berkeliling, bolak-balik di antara dua tempat, dan tidak ada yang dibawakan kepada mereka.

Kata (بَيْنَهَا, baynahaa) dan (وَبَيْنَ, wa-bayna), "di antara", mengingatkan pada 55:20, ketika surah ini menyebut pembatas (بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ, baynahumaa barzakhun), "di antara keduanya ada pembatas". Di 55:20 batas yang dijaga berada di antara dua laut, dan batas itu termasuk nikmat yang ditanyakan. Di ayat ini para pendosa sendiri berada di antara api dan air mendidih, tanpa batas yang melindungi mereka.

Bentuk lain dari akar yang sama dipakai untuk tawaf, (وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ, wa-l-yaththawwafuu bi-l-bayti l-'atiiqi), "dan melakukan tawaf di sekeliling Rumah Purba itu" (22:29), dan untuk bertawaf di antara Safa dan Marwah di 2:158. Teks tidak menghubungkan ayat ini dengan tawaf, dan penjelasan ini sekadar mencatat bahwa akarnya sama.

Kata (حَمِيمٍ, hamiimin), "air mendidih", dipakai di 19 ayat, antara lain 6:70, 10:4, dan 22:19. Di lima di antaranya kata yang sama berarti teman karib, yaitu di 26:101, 40:18, 41:34, 69:35, dan 70:10, misalnya (وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ, wa-laa shadiiqin hamiimin), "dan tidak pula teman yang akrab" (26:101). Kata (آنٍ, aanin), "yang sangat panas", hanya dipakai di ayat ini, sedangkan akarnya muncul lagi di 88:5, (مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ, min 'aynin aaniyatin), "dari mata air yang mendidih".

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan siksaan berulang: berkeliling antara neraka dan air mendidih. Kalimatnya menyambung 55:43, sehingga Jahanam yang ditunjuk dengan "inilah" langsung digambarkan dari dalam. Para pendosa bergerak di antara api dan air yang mendidih, tanpa tempat untuk berhenti.

Akar kata kerjanya di tempat lain hampir selalu dipakai untuk surga, ketika hidangan diedarkan kepada penghuninya. Di sini akar yang sama menggambarkan gerak orang yang tidak dilayani siapa pun. Perbandingan itu tidak dibuat ayat ini secara langsung, tetapi terlihat bila kata kerja yang sama dibaca di kedua tempat.

Kata hamiimin juga dipakai untuk teman karib, dan di 69:35 dinyatakan bahwa pada hari itu (فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌ, fa-laysa lahu l-yawma haahunaa hamiimun), "tidak ada baginya di sini seorang teman setia". Di ayat ini, hamiimin di dekat para pendosa berupa air yang mendidih. Kedua makna itu tidak dihubungkan di ayat ini, tetapi kata yang sama menunjuk dua hal yang sama-sama hilang dari mereka: teman yang menolong dan air yang menyejukkan.

Ayat ini tidak menyebut berapa lama perputaran itu berlangsung. Refrain sesudahnya, 55:45, kembali bertanya tentang nikmat, dan dengan itu gambaran Jahanam di surah ini selesai sebelum surah beralih ke dua taman.

Renungan dan Hikmah

  • Para pendosa berkeliling di antara dua tempat, dan tidak satu pun dari keduanya memberi tempat untuk berhenti. Gambaran ini menyentuh sesuatu yang juga dikenal dalam hidup: berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain, dari satu keinginan ke keinginan lain, tanpa pernah sampai. Allah memperlihatkan ujung dari gerak tanpa tujuan itu, dan pembaca bisa bertanya ke mana sebenarnya langkah-langkahnya sehari-hari sedang menuju. Tujuan yang jelas membuat langkah yang sama terasa berbeda.
  • Kata kerja yang sama menggambarkan dua keadaan akhir. Di surga, hidangan diedarkan dan pelayan berkeliling di sekitar penghuninya. Di ayat ini, para pendosa sendiri yang berkeliling tanpa dilayani. Di dunia, kedudukan orang sering terbalik dari itu: sebagian dilayani, sebagian melayani. Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa kedudukan di akhirat tidak mengikuti kedudukan di dunia, tetapi mengikuti apa yang diperbuat di hadapan Allah. Melayani orang lain hari ini dengan tulus tidak merendahkan kedudukan siapa pun di hadapan-Nya.
  • Kata hamiim juga berarti teman karib, dan di 69:35 dikatakan bahwa pada hari itu tidak ada teman setia bagi orang yang celaka. Teman dipilih dan dikumpulkan selama hidup: teman yang mengajak berbuat baik, dan teman yang mengajak lalai. Teman seperti apa yang sedang dikumpulkan sekarang, dan apakah kehadiran mereka akan menolong ketika setiap orang berdiri di hadapan Tuhannya? Memilih teman karena itu termasuk menyiapkan hari itu.
  • Di surah 76, gelas-gelas perak diedarkan kepada orang-orang yang dulu memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan demi wajah Allah (76:8-9 dan 76:15). Orang yang di dunia memberi makan orang lain kelak dilayani. Ayat ini memperlihatkan keadaan sebaliknya: tidak ada yang diedarkan kepada para pendosa. Memberi hari ini, bahkan sepiring nasi untuk tetangga yang kekurangan, termasuk dalam hitungan yang akan menentukan keadaan itu. Hidangan kecil yang diberikan dengan ikhlas tidak pernah kecil di hadapan Allah.
  • Akar kata kerja di ayat ini juga dipakai untuk tawaf di sekeliling Rumah Purba. Ayat ini tidak menghubungkan keduanya, tetapi perbandingan itu bisa direnungkan. Gerak berkeliling yang sama bisa menjadi ibadah atau siksaan, tergantung pusatnya. Hidup yang berputar mengelilingi Allah punya arah dan tempat kembali. Hidup yang berputar mengelilingi keinginan sendiri bisa berakhir bolak-balik di antara dua hal yang sama-sama menyakitkan. Pertanyaannya sederhana: apa yang selama ini menjadi pusat perputaran hari-hari kita?
  • Sepanjang surah ini air hadir sebagai nikmat: dua laut yang bertemu tanpa bercampur, mutiara dan marjan yang keluar dari keduanya, dan kapal-kapal yang berlayar di atasnya. Di ayat ini air muncul lagi dalam keadaan mendidih. Pemberian yang sama bisa berubah menjadi hukuman bagi orang yang sepanjang hidupnya mendustakannya. Air yang hari ini diminum dengan tenang termasuk nikmat Tuhan yang ditanyakan refrain berulang kali. Meminumnya dengan sadar akan Pemberinya adalah jawaban kecil atas pertanyaan itu.