فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein keempat belas setelah gambaran tanda pendosa: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang terus menuntut jawaban jujur, bahkan di tengah deskripsi konsekuensi yang keras sekalipun.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan keempat belas dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Uraian tentang bentuk pertanyaan, kata-katanya, dan letak kemunculannya ada di 55:13 sampai 55:40. Di sini dibahas kata kerja refrain yang muncul lagi satu ayat sesudahnya dengan pelaku lain.
Di luar refrain, kata kerja mendustakan dari akar ك-ذ-ب dipakai sekali di surah ini, di 55:43: (الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ, allatii yukadzdzibu bihaa l-mujrimuuna), "yang didustakan oleh para pendosa". Bentuknya sama dengan (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani) di refrain, yaitu bentuk mendustakan yang diuraikan di 55:34, dan kedua ayat itu hanya berjarak satu ayat. Di refrain kata kerja ini dipakai tiga puluh satu kali, sedangkan di luar refrain surah ini memakainya di 55:43 saja.
Kedua kata kerja itu berbeda dalam tiga hal. Refrain menyapa pendengar dengan awalan tu- dan akhiran dual -aani, "kalian berdua", sedangkan 55:43 membicarakan pihak lain dengan awalan yu-, "mereka", yaitu para pendosa. Refrain berbentuk pertanyaan, sedangkan 55:43 berbentuk pernyataan. Refrain menanyakan nikmat, yang ditandai huruf bi- pada (بِأَيِّ, bi-ayyi), sedangkan 55:43 menyebut Jahanam, yang ditandai huruf bi- pada (بِهَا, bihaa), "padanya".
Refrain ini diapit dua ayat yang sama-sama memakai kata (الْمُجْرِمُونَ, l-mujrimuuna), "para pendosa", yaitu 55:41 dan 55:43, dan di surah ini kata itu tidak dipakai di tempat lain. Pendengar yang disapa refrain tidak disebut dengan kata itu. Mereka tetap "kalian berdua", sedangkan para pendosa dibicarakan sebagai "mereka". Kedua kata kerja juga sama-sama berbentuk masa kini tanpa kata kuntum, "dahulu", sehingga pendustaan di kedua ayat disebut sebagai sesuatu yang masih bisa berlangsung sekarang, berbeda dari tujuh ayat yang menaruhnya di masa lalu, seperti diuraikan di 55:43.
Dengan susunan itu, dua ayat yang berdekatan memperlihatkan dua keadaan pendustaan. Kepada pendengar, pendustaan masih diajukan sebagai pertanyaan: nikmat mana yang kalian dustakan. Tentang para pendosa, pendustaan sudah dinyatakan sebagai kenyataan: Jahanam yang mereka dustakan. Terjemahan menjaga kesejajaran itu dengan kata yang sama di kedua tempat, "yang kalian berdua dustakan" di refrain dan "yang didustakan oleh para pendosa" di 55:43.
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah gambaran pengenalan para pendosa. Ayat sebelumnya menyebut para pendosa sebagai pihak ketiga yang dikenali dan direnggut, lalu refrain kembali kepada pendengar dan menanyakan hal yang sama seperti tiga belas kali sebelumnya. Pendengar tidak disamakan dengan para pendosa: mereka masih ditanya, sedangkan para pendosa sudah dikenali.
Satu ayat kemudian, kata kerja refrain dipakai untuk para pendosa, dalam kalimat tentang Jahanam yang mereka dustakan. Pertanyaan kepada pendengar dan pernyataan tentang para pendosa memakai kata kerja yang sama, sehingga jarak di antara keduanya terasa pendek. Perbedaannya terletak pada bentuk kalimat: pendengar masih diberi pertanyaan, sedangkan para pendosa sudah diberi pernyataan.
Teks tidak menyebut nikmat mana yang dimaksud di sini. Letaknya di antara 55:41 dan 55:43 memperlihatkan bahwa keadaan masih ditanya berbeda dari keadaan para pendosa di kedua ayat itu, dan perbedaan tersebut ada selama pertanyaan dari Tuhan kalian masih diajukan.
Kedua ayat yang mengapit refrain ini sama-sama menyebut para pendosa, tetapi refrain tidak memakai kata itu untuk pendengarnya. Sapaan "kalian berdua" tetap dipertahankan, dan hubungan "Tuhan kalian" tetap disebut.
Renungan dan Hikmah
- Kepada pendengar, pendustaan masih berupa pertanyaan. Tentang para pendosa, pendustaan sudah menjadi pernyataan. Pertanyaan membuka ruang untuk menjawab dengan cara lain, sedangkan pernyataan menutupnya. Selama Allah masih bertanya nikmat mana yang didustakan, jawaban itu masih bisa diubah: nikmat yang selama ini dianggap biasa bisa mulai diakui, dan pemberian yang dilupakan bisa mulai disebut kembali. Pertanyaan yang masih diajukan adalah pintu yang masih terbuka.
- Kata kerja yang sama dipakai untuk pendengar dan untuk para pendosa, dan jaraknya hanya satu ayat. Pendustaan tidak dimulai dari penolakan besar. Pendustaan bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang tidak disadari, seperti menganggap rezeki semata hasil usaha atau menganggap keselamatan sebagai kebetulan. Apakah pendustaan kecil hari ini sedang berjalan pelan-pelan menuju pernyataan yang disebut di 55:43? Memeriksa kebiasaan kecil itu hari ini jauh lebih mudah daripada menjawabnya kelak.
- Sesudah menggambarkan para pendosa, refrain tidak menyebut pendengarnya pendosa. Allah tetap menyapa mereka dengan hubungan, "Tuhan kalian berdua". Manusia cepat memberi cap kepada orang lain begitu melihat kesalahannya, lalu berhenti menyapanya. Cara Tuhan dalam ayat ini berbeda: gambaran tentang akibat diperlihatkan, tetapi pendengar tetap diajak bicara sebagai pihak yang masih bisa menjawab dan memperbaiki. Menahan diri dari memberi cap kepada orang lain berarti meniru cara Tuhan menyapa di ayat ini.
- Refrain menanyakan pendustaan terhadap nikmat, sedangkan 55:43 menyebut pendustaan terhadap Jahanam. Keduanya memakai kata kerja yang sama. Mengingkari pemberian dan mengingkari akibat berangkat dari sikap yang serupa, yaitu menganggap hidup tidak berhubungan dengan Tuhan. Orang yang merasa semua yang dimilikinya datang dari dirinya sendiri akan sulit percaya bahwa semua yang diperbuatnya juga akan kembali kepadanya. Mengakui asal setiap pemberian karena itu juga melatih kesiapan menerima akibat setiap perbuatan.
- Gambaran para pendosa yang direnggut mudah membuat pembaca merasa aman, seakan-akan yang dibicarakan orang lain. Refrain sesudahnya tidak membiarkan rasa aman itu tumbuh, karena kata kerjanya kembali menyapa "kalian berdua". Kisah tentang kesalahan orang lain berguna kalau dipakai sebagai cermin, dan menjadi berbahaya kalau dipakai sebagai alasan untuk tidak memeriksa diri sendiri di hadapan Allah. Setiap kali membaca kisah orang yang binasa, pertanyaan yang patut diajukan tertuju kepada diri sendiri.
- Rangkaian 55:41 sampai 55:44 seperti membawa pendengar mendekati Jahanam, dari pengenalan para pendosa sampai tempat mereka berkeliling. Refrain ini diletakkan di tengah perjalanan itu. Pendengar diberi jeda untuk berhenti dan bertanya kepada dirinya sendiri sebelum gambaran berikutnya datang. Jeda seperti itu jarang ada dalam hidup yang sibuk, dan surah ini menyediakannya berulang kali atas kehendak Tuhan yang memberi. Memakai jeda itu untuk merenung termasuk mengakui salah satu nikmat yang ditanyakan.