فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein ketiga belas setelah penjelasan modus penghakiman: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang menegaskan bahwa sistem penghakiman yang jelas dan tidak berbelit pun merupakan bentuk keadilan yang patut disyukuri.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan ketiga belas dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Uraian tentang bentuk pertanyaan, kata-katanya, dan letak kemunculannya ada di 55:13 sampai 55:38. Di sini dibahas dua hal yang belum disentuh: cara refrain ini berganti sapaan sesudah 55:39, dan kata dosa yang disebut tepat sebelum refrain ini.

Ayat 55:39 berbicara tentang orang per orang. Kata (إِنْسٌ, insun) dan (جَانٌّ, jaannun) di sana berbentuk tunggal tanpa kata sandang, dan keduanya dibicarakan sebagai pihak ketiga: tidak seorang manusia pun dan tidak seorang jin pun ditanya tentang dosanya. Refrain di ayat ini langsung beralih ke bentuk dual dan menyapa pendengarnya dengan (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani), "kalian berdua dustakan". Dalam dua ayat yang bersebelahan, surah ini berpindah dari membicarakan setiap orang pada hari yang akan datang ke berbicara dengan kedua golongan pada saat ini.

Akar ذ-ن-ب hanya dipakai sekali di surah ini, di 55:39, lewat kata (ذَنْبِهِ, dzanbihi), "dosanya". Kata "para pendosa", (الْمُجْرِمُونَ, l-mujrimuuna), menyusul dua kali tidak lama sesudahnya, di 55:41 dan 55:43, dan akarnya pun tidak dipakai di bagian lain surah ini. Kata dosa dan pendosa berkumpul di rentang pendek ini, sedangkan kata "nikmat" dalam refrain muncul tiga puluh satu kali dari 55:13 sampai 55:77. Kemunculan ketiga belas refrain ini jatuh tepat sesudah penyebutan dosa yang hanya sekali itu.

Dalam delapan ayat, surah ini memakai tiga bilangan untuk dua golongan yang sama. Di 55:33 mereka dipanggil sebagai golongan dengan kata kerja jamak, (إِنِ اسْتَطَعْتُمْ, ini statha'tum), "jika kalian sanggup". Di 55:39 mereka disebut satu per satu dengan kata tunggal. Di refrain mereka disapa sebagai dua pihak dengan bentuk dual. Pergantian itu mengikuti apa yang sedang dibicarakan: tantangan kepada seluruh anggota golongan, pertanggungjawaban setiap orang, dan pertanyaan kepada kedua golongan sebagai dua pihak.

Terjemahan menjaga pergantian sapaan tersebut. Ayat 55:39 berbunyi "tidak ditanya tentang dosanya seorang manusia pun dan tidak jin", dengan kata-kata tunggal yang membicarakan orang lain, sedangkan refrain berbunyi "yang kalian berdua dustakan". Kata "kalian berdua" menandai bahwa pendengar kembali diajak bicara, tidak sekadar diceritakan tentang hari itu.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah menegaskan bahwa dosa tak perlu lagi ditanyakan pada hari itu. Kalimat sebelumnya berbicara tentang hari yang akan datang dan tentang setiap orang satu per satu, sedangkan refrain menarik pendengar kembali ke saat ini, ketika kedua golongan masih disapa bersama dan masih ditanya.

Surah ini menyebut dosa sekali dan menanyakan nikmat tiga puluh satu kali. Perbandingan itu memperlihatkan ke mana surah ini menaruh beratnya. Kabar tentang dosa tidak disembunyikan, tetapi diletakkan di antara pertanyaan-pertanyaan tentang pemberian, sehingga sebelum dan sesudahnya pendengar tetap ditanya nikmat mana yang didustakannya.

Teks tidak menyebut nikmat mana yang dimaksud di sini. Dibaca bersama ayat sebelumnya, pertanyaan ini diajukan kepada jin dan manusia selagi dosa masih bisa dibicarakan, diakui, dan dimohonkan ampun kepada Tuhan mereka. Surah ini tidak menamai keadaan itu nikmat, tetapi urutannya menempatkan pertanyaan tentang nikmat di dalam waktu yang masih terbuka tersebut.

Sesudah refrain ini, surah kembali membicarakan pihak ketiga, yaitu para pendosa di 55:41 dan 55:43. Refrain ini berdiri di antara ayat tentang setiap orang pada hari itu dan ayat tentang para pendosa, dan di antara keduanya pendengar sendirilah yang disapa langsung.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 55:39 berbicara tentang orang per orang: pada hari itu tidak seorang manusia pun ditanya tentang dosanya. Refrain sesudahnya kembali menyapa jin dan manusia bersama. Kelak setiap orang berdiri sendiri di hadapan Tuhannya, tetapi hari ini pertanyaan tentang nikmat masih diajukan kepada banyak orang sekaligus, sehingga mereka masih bisa saling mengingatkan. Keluarga yang saling bertanya tentang syukur dan teman yang saling menegur ketika lupa hanya mungkin selama pertanyaan ini masih diajukan bersama.
  • Dalam surah ini dosa disebut sekali, sedangkan nikmat ditanyakan tiga puluh satu kali. Orang yang sedang merasa berat oleh kesalahannya sering hanya melihat dosanya, seakan-akan seluruh hidupnya berisi kesalahan. Surah ini memakai takaran lain: kesalahan dicatat dan tidak disembunyikan, tetapi pemberian Allah disebut jauh lebih sering. Bagaimana rasanya kalau takaran itu dipakai juga ketika menimbang hidup sendiri, tanpa menutupi kesalahan dan tanpa melupakan pemberian?
  • Pada hari itu dosa tidak lagi ditanyakan karena sudah terlihat. Hari ini dosa masih bisa dibicarakan dengan Allah: diakui, disesali, diperbaiki, dan dimohonkan ampun. Refrain yang datang tepat sesudah kabar itu mengingatkan bahwa waktu untuk berbicara masih ada. Orang yang menunda pengakuan sampai hari itu akan mendapati bahwa pengakuannya tidak lagi diminta, karena semuanya sudah tampak tanpa perlu dijelaskan oleh pelakunya. Ampunan yang dimohon hari ini masih mungkin diberikan.
  • Sesudah menyebut dosa, surah ini tidak melanjutkan dengan tuduhan. Refrain bertanya tentang nikmat Tuhan kalian. Cara ini berbeda dari cara manusia biasanya menegur, yang langsung menunjuk kesalahan orang lain. Mengingatkan seseorang pada kebaikan yang sudah diterimanya sering lebih menyentuh daripada mengingatkan dosanya, karena ia diajak melihat hubungannya dengan Pemberi, tidak hanya pelanggarannya. Allah menegur jin dan manusia dengan cara itu, berulang-ulang.
  • Dosa disebut sekali di surah ini, dan itu pun dosa masing-masing, bukan dosa tetangga. Dalam percakapan sehari-hari, kesalahan orang lain sering lebih banyak dibicarakan daripada nikmat yang diterima bersama. Surah ini membalik takaran itu. Pembicaraan tentang pemberian Tuhan mendapat tempat tiga puluh satu kali, sedangkan dosa cukup sekali dan diletakkan pada pemiliknya sendiri. Takaran seperti itu bisa dicoba di meja makan dan di ruang kerja.
  • Ini kali ketiga belas pertanyaan yang sama diajukan. Seseorang yang ditanya hal yang sama tiga belas kali biasanya mulai bertanya-tanya kenapa pertanyaan itu terus diulang, dan salah satu jawabannya: karena jawabannya belum juga diberikan. Refrain ini tidak berhenti bertanya. Pengulangan itu memperlihatkan sikap Tuhan terhadap pendengarnya, yang terus memberi kesempatan untuk menjawab sampai pertanyaan itu tidak lagi diajukan. Setiap pengulangan menjadi kesempatan baru untuk menjawab dengan jujur.