فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein kedua belas setelah citra langit terbelah: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan di tengah gambaran kehancuran kosmik menegaskan konsistensi pola pertanyaan, terlepas dari nada peringatan atau anugerah pada ayat sebelumnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kedua belas dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Uraian tentang bentuk pertanyaan, kata-katanya, dan letak kemunculannya ada di 55:13 sampai 55:36. Di sini dibahas hal yang belum pernah terjadi pada refrain sebelumnya: refrain ini berdiri di tengah sebuah kalimat yang belum selesai.
Ayat 55:37 dibuka dengan (فَإِذَا, fa-idzaa), "maka apabila". Kalimat yang dibuka dengan kata ini menyebut syarat lebih dulu, lalu menunggu akibatnya. Syaratnya ada di 55:37: langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti minyak. Akibatnya baru datang di 55:39, yang dibuka dengan (فَيَوْمَئِذٍ, fa-yawma'idzin), "maka pada hari itu". Refrain ini berdiri di antara keduanya. Kata idzaa hanya dipakai sekali di surah ini, dan kata yawma'idzin juga hanya sekali, sehingga kalimat bersyarat ini satu-satunya di surah ini yang dipotong refrain.
Sebelas kemunculan sebelumnya datang sesudah ayat yang kalimatnya sudah selesai. Di 55:12 daftar tumbuhan sudah lengkap, di 55:20 batas dua laut sudah dinyatakan, di 55:35 azab sudah disebut sampai akibatnya. Di sini untuk pertama kalinya pendengar ditanya sebelum kalimat yang sedang didengarnya selesai. Kata "hari itu" di 55:39 hanya bisa dipahami dengan kembali melewati refrain ke 55:37. Pendengar harus membawa gambaran langit yang terbelah melintasi pertanyaan ini supaya tahu hari mana yang dimaksud. Kata-kata refrain tetap sama, tetapi kedudukannya berubah: refrain tidak lagi menutup sebuah kabar, tetapi berdiri di dalam kabar yang belum selesai.
Tiga ayat berturut-turut, 55:37, 55:38, dan 55:39, dibuka dengan huruf fa-, "maka": fa-idzaa, fa-bi-ayyi, dan fa-yawma'idzin. Sebelum 55:37, tidak ada ayat pendahulu refrain yang dibuka dengan fa-, sedangkan refrain selalu dibuka dengannya. Baru di rentang ini tiga ayat berurutan tersambung dengan huruf yang sama. Setiap "maka" menyambungkan ayatnya dengan yang sebelumnya: langit terbelah, maka nikmat mana yang kalian dustakan, maka pada hari itu tidak ada yang ditanya tentang dosanya.
Terjemahan menjaga kalimat yang terpotong itu: ayat 55:37 diakhiri koma, "seperti minyak,", 55:39 dibuka "Maka, pada hari itu", dan di antaranya refrain berakhir dengan tanda tanya. Pembaca terjemahan melihat kalimat yang belum selesai, lalu pertanyaan, lalu lanjutan kalimat itu.
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah gambaran langit terbelah. Kali ini refrain tidak menunggu kalimat selesai. Syarat sudah disebut, langit terbelah dan berubah warna, tetapi akibatnya belum. Pertanyaan tentang nikmat disisipkan tepat di celah itu.
Penempatan ini membuat pendengar ditanya sebelum tahu apa yang terjadi pada hari itu. Sejauh itu pendengar baru mendengar gambaran langit; tentang dirinya sendiri belum ada apa-apa. Pertanyaan diajukan selagi pendengar masih menunggu. Baru sesudah itu, di 55:39, datang kabar bahwa pada hari itu tidak seorang manusia pun dan tidak jin ditanya tentang dosanya.
Teks menyandingkan dua jenis pertanyaan dalam satu kalimat yang terpotong. Refrain bertanya sekarang tentang nikmat. Lanjutan kalimatnya menyebut hari ketika tidak seorang pun ditanya tentang dosanya. Kedua pertanyaan itu berbeda, satu tentang pemberian dan satu tentang kesalahan, tetapi letaknya membuat yang pertama terdengar sebagai pertanyaan yang masih bisa dijawab, di tengah kalimat tentang hari ketika sebagian pertanyaan tidak lagi diajukan.
Teks tidak menyebut nikmat mana yang ditanyakan di celah ini. Di sekitarnya ada langit yang terbelah dan hari ketika tidak ada yang ditanya tentang dosanya. Keduanya belum terjadi. Waktu sebelum keduanya terjadi adalah waktu ketika pertanyaan ini masih bisa dijawab, dan refrain diletakkan tepat di dalam waktu itu.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat tentang langit terbelah belum selesai ketika refrain datang. Akibatnya ditunda satu ayat. Penundaan itu memberi pendengar ruang: sebelum mendengar apa yang terjadi pada hari itu, ia diberi kesempatan menjawab pertanyaan tentang nikmat Tuhannya. Hidup juga berisi jeda seperti itu, waktu antara sebab yang sudah terjadi dan akibat yang belum tiba. Jeda itu bukan kekosongan, tetapi kesempatan yang diberikan Allah untuk menjawab lebih dulu. Selama akibat belum tiba, jawaban masih bisa diberikan.
- Refrain ini memotong kalimat di tengah jalan. Pengingat tentang nikmat dalam hidup juga jarang datang pada waktu yang tepat, dan biasanya datang di tengah kesibukan, di tengah rapat, di tengah perjalanan pulang, ketika pikiran sedang penuh dengan urusan yang belum selesai. Surah ini memperlihatkan bahwa pertanyaan tentang pemberian Tuhan tidak menunggu urusan selesai. Pertanyaan itu layak menyela di tengah apa pun, karena urusan itu sendiri berlangsung di atas pemberian-Nya. Disela oleh ingatan tentang Tuhan tidak mengganggu pekerjaan, tetapi meletakkan pekerjaan itu di tempatnya.
- Tiga ayat berturut-turut dibuka dengan "maka". Langit terbelah, maka pertanyaan tentang nikmat, maka pada hari itu tidak ada yang ditanya. Setiap peristiwa tersambung dengan yang berikutnya. Hidup manusia juga berjalan dengan sambungan semacam itu: pilihan hari ini tersambung dengan keadaan besok. Tidak ada perbuatan yang berdiri sendiri tanpa "maka" sesudahnya. Apakah pilihan hari ini sudah dipikirkan sampai ke "maka" yang akan menyusulnya? Surah ini memperlihatkan sambungan itu dalam tiga ayat, supaya pembaca melihatnya dalam hidupnya sendiri.
- Pendengar ditanya sebelum tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, karena belum mendengar kabar tentang dosa, tanda, taman, atau api. Syukur yang sungguh-sungguh memang tidak menunggu hasil. Orang yang baru bersyukur setelah tahu dirinya selamat sebenarnya bersyukur atas keselamatannya, bukan atas nikmat Tuhannya. Refrain ini datang sebelum hasil diumumkan, ketika yang diketahui baru bahwa langit akan terbelah. Syukur seperti itu tidak bergantung pada hasil, karena tertuju kepada Pemberi, bukan kepada pemberian.
- Langit terbelah, warnanya berubah, bentuknya mencair. Di tengah gambaran itu, kalimat refrain tidak berubah satu kata pun. Tuhan kalian tetap disebut Tuhan kalian. Ketika segala sesuatu yang tampak tetap ternyata bisa berubah, ada yang tidak ikut berubah, yaitu hubungan antara Tuhan dan yang dipelihara-Nya. Orang yang hidupnya sedang diguncang bisa berpegang pada hal itu: keadaan berganti, tetapi Dia yang memelihara tidak berganti. Refrain yang tidak berubah menjadi pegangan di tengah ayat-ayat yang mengguncang.
- Siapa yang berhenti membaca di 55:37 hanya mendapat gambaran langit tanpa akibatnya. Siapa yang berhenti di 55:38 mendapat pertanyaan tanpa lanjutan kalimat. Makna ketiga ayat ini baru utuh kalau dibaca sampai 55:39. Al-Qur'an sering dikutip sepotong-sepotong, dan potongan yang lepas dari kalimatnya bisa memberi kesan yang berbeda. Ayat-ayat ini mengajak membaca firman Allah sampai kalimatnya selesai sebelum menyimpulkan maknanya. Kesabaran membaca adalah bagian dari adab terhadap kalam-Nya.