فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein kesebelas setelah gambaran konsekuensi keras: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang bahkan hadir di tengah peringatan tegas, menegaskan bahwa peringatan itu sendiri adalah bentuk kasih sayang yang patut disyukuri, bukan semata ancaman.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kesebelas dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Uraian tentang bentuk pertanyaan, kata-katanya, dan letak kemunculannya ada di 55:13 sampai 55:34. Di sini dibahas dua hal yang belum disentuh: kata kerja di ujung ayat sebelumnya yang sebentuk dengan kata kerja refrain, dan akar kata kerja itu.
Ayat 55:35 ditutup dengan (فَلَا تَنْتَصِرَانِ, fa-laa tantashiraani), dan ayat ini ditutup dengan (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani). Keduanya kata kerja masa kini untuk dua pihak yang diajak bicara, berawalan t- dan berakhiran -aani. Ayat yang tepat mendahului refrain sejauh ini ada sebelas, yaitu 55:12, 55:15, 55:17, 55:20, 55:22, 55:24, 55:27, 55:29, 55:31, 55:33, dan 55:35, dan hanya 55:35 yang ditutup dengan kata kerja sebentuk itu. Di 55:20 penutupnya, (يَبْغِيَانِ, yabghiyaani), juga dual, tetapi untuk dua pihak yang dibicarakan, seperti diuraikan di 55:21.
Kedua kata kerja itu berdampingan dengan dua cara yang berbeda. Kata kerja pertama ditiadakan dengan (لَا, laa): kalian tidak dapat. Kata kerja kedua diajukan sebagai pertanyaan: yang mana yang kalian dustakan. Kemampuan menolong diri dinyatakan tidak ada. Kemampuan mendustakan tidak ditiadakan, tetapi ditanyakan.
Kata tantashiraani berasal dari akar ن-ص-ر, akar pertolongan. Akar yang sama dipakai dalam pernyataan (وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ, wa-maa n-nashru illaa min 'indi llaahi), "dan tidak ada pertolongan kecuali dari sisi Allah" (3:126, juga 8:10). Bentuk yang sama dengan tantashiraani dipakai Nuh dalam doanya: (أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ, annii maghluubun fa-ntashir), "sesungguhnya aku dikalahkan, maka tolonglah" (54:10). Di 54:10 kata kerja itu menjadi permintaan kepada Tuhan. Di 55:35 kata kerja itu ditiadakan dari diri pendengar. Terjemahan bentuk ini menyesuaikan konteks tanpa meninggalkan makna mengupayakan pertolongan bagi diri: "menolong diri" di 55:35, "membela dirinya" di 18:43, "membela diri" di 28:81, "menolong diri sendiri" di 51:45, dan "tolonglah" di 54:10, ketika kata kerja itu ditujukan kepada Tuhan.
Ayat 55:35 memakai kata kerja pasif (يُرْسَلُ, yursalu), tanpa menyebut pengirim. Dalam dua ayat berurutan ini, Dia disebut sebagai pihak lain di samping pendengar, lewat rabbikumaa, "Tuhan kalian berdua". Pengirim yang tidak disebut di 55:35 hadir di sini dengan sebutan hubungan.
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah gambaran azab nyala api dan tembaga. Untuk pertama kalinya, ayat sebelum refrain menyebut sesuatu yang dikirimkan kepada pendengar sendiri. Teks tidak menyebut nikmat mana yang dimaksud di sini, dan azab itu tidak disebut nikmat. Teks hanya memperlihatkan urutannya: kabar tentang ketidakberdayaan, lalu pertanyaan tentang pemberian Tuhan.
Urutan itu punya arah di dalam Al-Qur'an. Pertolongan dinyatakan hanya datang dari sisi Allah (3:126), dan Nuh, ketika dikalahkan, memakai kata kerja yang sama dengan tantashiraani sebagai doa (54:10). Ketika 55:35 menyatakan bahwa jin dan manusia tidak dapat menolong diri, ayat sesudahnya menyebut Dia yang dari sisi-Nya pertolongan datang. Pertanyaan nikmat diajukan kepada pihak yang baru saja diberi tahu bahwa di dalam dirinya sendiri tidak ada penolong. Di 18:43 dan 28:81, ketiadaan pertolongan dari diri sendiri disandingkan dengan ketiadaan golongan yang menolong selain Allah. Frasa "selain Allah" di sana menyisakan satu kemungkinan, yaitu pertolongan dari Allah sendiri. Refrain di sini, yang menyebut Tuhan kalian tepat sesudah 55:35, menunjuk ke arah yang sama tanpa menyatakannya.
Tafsiran ini tidak menyatakan bahwa pertolongan dijanjikan pada hari azab itu, karena hal itu tidak tertulis. Teks hanya mengatakan dua hal: pada hari itu mereka tidak dapat menolong diri, dan pertanyaan tentang nikmat masih diajukan kepada mereka sekarang, sebelum hari itu tiba.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah ayat yang paling menakutkan sejauh ini, surah ini tidak berhenti pada rasa takut, tetapi kembali ke pertanyaan yang sama tentang nikmat Tuhan kalian. Ketakutan yang dibiarkan sendirian bisa melumpuhkan, dan orang yang lumpuh karena takut tidak lagi mampu bersyukur. Surah ini menyusul gambaran azab dengan pertanyaan tentang pemberian, sehingga pendengar yang gentar tidak ditinggalkan dalam gentarnya, tetapi diarahkan kembali kepada Dia yang memberi. Rasa takut yang diarahkan kepada-Nya berbeda dari rasa takut yang dibiarkan berputar di dalam diri.
- Dua kata kerja berdampingan: kalian tidak dapat menolong diri, dan yang mana yang kalian dustakan. Kemampuan pertama ditiadakan. Kemampuan kedua dibiarkan, lalu ditanyakan. Bahkan ketika seseorang tidak lagi berdaya atas keadaannya, masih ada yang tetap di tangannya: mengakui atau mendustakan pemberian Tuhannya. Kemampuan itu tidak bisa dirampas oleh sakit, kemiskinan, atau kekalahan. Kemampuan itu tetap ada sampai akhir, dan karena itu kemampuan itulah yang ditanyakan. Orang yang terbaring sakit pun masih bisa berkata dalam hatinya: ini dari Tuhanku.
- Nuh, sesudah bertahun-tahun menyeru kaumnya, berkata kepada Tuhannya: sesungguhnya aku dikalahkan, maka tolonglah (54:10). Kata kerja yang di 55:35 ditiadakan dari diri pendengar, di mulut Nuh menjadi permintaan kepada Tuhan. Mengakui kalah di hadapan Allah bukan tanda lemah. Itu bentuk pertolongan yang masih tersedia bagi orang yang tidak dapat menolong dirinya. Kapan terakhir kali kekalahan diakui kepada-Nya, bukan disembunyikan dari-Nya? Nuh tidak menyembunyikan kekalahannya; ia menyebutnya dengan terang.
- Di 55:35 azab dikirimkan tanpa menyebut pengirimnya. Di ayat ini Dia disebut dengan satu nama: Tuhan kalian berdua. Nama itu tidak berubah sejak refrain pertama, yang datang sesudah buah-buahan, kurma, dan biji-bijian disebut. Nikmat yang ditanyakan sesudah kabar tentang azab datang dari Tuhan yang sama dengan nikmat sesudah kabar tentang buah-buahan. Hubungan-Nya dengan pendengar tidak berganti ketika kabarnya berganti. Isi kabarnya berganti, tetapi Dia yang mengabarkan tetap sama.
- Ini kali kesebelas pertanyaan yang sama diajukan. Pada pengulangan sebanyak itu, pendengar mudah berhenti mendengarkan kata-katanya dan hanya menangkap iramanya. Tetapi setiap kali, kalimat sebelumnya berbeda, sehingga pertanyaan yang sama jatuh di tempat yang berbeda. Kalimat syukur yang diucapkan setiap hari pun bisa tetap baru, asalkan orang yang mengucapkannya memperhatikan apa yang baru saja terjadi sebelum mengucapkannya kepada Tuhannya. Pengulangan tidak membuat kalimat menjadi usang, kecuali kalau yang mendengarnya berhenti memperhatikan.
- Ayat sebelumnya menggambarkan hari ketika tidak ada lagi yang bisa menolong diri. Hari ini tangan masih bisa bekerja, kaki masih bisa melangkah, pikiran masih bisa memilih. Kemampuan-kemampuan itu terasa biasa karena belum pernah hilang. Refrain ini, diletakkan tepat sesudah gambaran ketidakberdayaan, membuat kemampuan yang biasa itu terlihat sebagai pemberian. Apa yang hari ini dianggap milik sendiri ternyata titipan yang suatu hari berhenti. Menyadarinya sekarang adalah cara mengakui Pemberinya sebelum titipan itu diminta kembali.