يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
Wahai golongan jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah; kalian tidak akan menembusnya kecuali dengan kuasa.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِyaa ma'syara l-jinni wa-l-insiwahai golongan jin dan manusia
- إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُواini statha'tum an tanfudzuujika kalian sanggup menembus
- مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِmin aqthaari s-samaawaati wa-l-ardhipenjuru langit dan bumi
- فَانْفُذُواfa-nfudzuumaka, tembuslah
- لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍlaa tanfudzuuna illaa bi-sulthaaninkalian tidak akan menembusnya kecuali dengan kuasa
Terjemahan per kata (17 kata)
- يَاyaawahai
- مَعْشَرَma'syaragolongan
- الْجِنِّl-jinnijin
- وَالْإِنْسِwa-l-insidan manusia
- إِنِinijika
- اسْتَطَعْتُمْstatha'tumkalian sanggup
- أَنْanuntuk
- تَنْفُذُواtanfudzuukalian menembus
- مِنْmindari
- أَقْطَارِaqthaaripenjuru
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- فَانْفُذُواfa-nfudzuumaka tembuslah kalian
- لَاlaatidak
- تَنْفُذُونَtanfudzuunakalian menembus
- إِلَّاillaakecuali
- بِسُلْطَانٍbi-sulthaanindengan kuasa
Inti bacaan
Tantangan terhadap batas kekuasaan manusia dan jin: 'jika kalian sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah; kalian tidak akan menembusnya kecuali dengan kuasa', pengakuan jujur akan keterbatasan mutlak kemampuan makhluk terhadap otoritas yang lebih besar, dasar bagi kerendahan hati di hadapan skala alam semesta yang jauh melampaui kendali individu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ, yaa ma'syara l-jinni wa-l-insi), "wahai golongan jin dan manusia". Seruan persis ini dipakai dua kali, di 6:130 dan di sini. Di 6:130 seruan itu terjadi pada hari mereka semua dikumpulkan, seperti disebut 6:128, dan isinya pertanyaan: (أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ, a-lam ya'tikum rusulun minkum), "tidakkah sudah datang kepada kalian rasul-rasul dari kalangan kalian". Kata (مَعْشَرَ, ma'syara) sendiri dipakai tiga kali, di 6:128, 6:130, dan 55:33, dan ketiganya menyapa jin: sekali jin saja (6:128), dua kali jin bersama manusia. Terjemahannya "golongan" di ketiga tempat, karena kata ini menyebut sebuah kelompok yang dipanggil bersama.
Seruan itu disusul tantangan (إِنِ اسْتَطَعْتُمْ, ini statha'tum), "jika kalian sanggup". Susunan "jika sanggup" dengan sapaan langsung kepada pendengar dipakai juga di 6:35, (فَإِنِ اسْتَطَعْتَ, fa-ini statha'ta), dan yang diandaikan di sana mirip: (نَفَقًا فِي الْأَرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ, nafaqan fii l-ardhi aw sullaman fii s-samaa'i), "lubang di bumi atau tangga ke langit". Di kedua tempat, jalan yang diandaikan menembus bumi atau langit. Di 6:35 ayatnya berlanjut dengan "seandainya Allah menghendaki, tentu Dia akan mengumpulkan mereka semua atas petunjuk". Di ayat ini jawabannya datang di ayat yang sama.
Kata kerja yang dipakai berasal dari akar ن-ف-ذ, dan akar ini hanya dipakai di ayat ini, tiga kali berturut-turut dalam tiga bentuk. (تَنْفُذُوا, tanfudzuu) datang sesudah "jika kalian sanggup", sebagai kemungkinan yang diandaikan; (فَانْفُذُوا, fa-nfudzuu), "maka tembuslah", adalah perintah; dan (تَنْفُذُونَ, tanfudzuuna), dalam "kalian tidak akan menembus", adalah pernyataan yang meniadakan. Satu kata kerja bergerak dari andaian ke perintah lalu ke penyangkalan di dalam satu ayat. Kata kerja ini berarti menembus sampai keluar di sisi yang lain. Titik keluarnya disebut (أَقْطَارِ, aqthaari), "penjuru". Kata ini dipakai dua kali, di sini dan di 33:14, (مِنْ أَقْطَارِهَا, min aqthaarihaa), "dari segala penjurunya", tentang kota yang dimasuki dari semua sisinya. Di 33:14 penjuru adalah jalan masuk dari luar, di ayat ini jalan keluar dari dalam.
fa-nfudzuu adalah satu dari dua kata kerja perintah di surah ini. Perintah yang lain (وَأَقِيمُوا, wa-aqiimuu) di 55:9, "dan tegakkanlah timbangan dengan adil". Keduanya jamak, keduanya ditujukan kepada pendengar yang banyak. Perintah di 55:9 bisa dan harus dikerjakan. Perintah di ayat ini langsung disusul pernyataan bahwa perintah itu tidak akan terlaksana, sehingga gunanya menguji pengakuan, tidak menyuruh berbuat.
Pengecualian di ujung ayat memakai kata (سُلْطَانٍ, sulthaanin). Kata ini dipakai di 37 ayat, dan terjemahan ini menerjemahkannya menurut konteks, bukan dengan satu kata baku: "kekuasaan" atau "wewenang" ketika yang dimaksud daya untuk bertindak, misalnya 17:33 dan 28:35, dan "keterangan" ketika yang dimaksud bukti dalam perbantahan, misalnya 7:71, 12:40, dan 53:23. sulthaanin di sini diterjemahkan "kuasa", karena konteksnya kemampuan dan daya menembus batas kosmis, berbeda dari konteks bukti atau keterangan di ayat-ayat lain; terjemahan kata ini tetap kontekstual. Batas kedua makna itu tipis. Di 52:38 kata yang sama muncul bersama tangga ke langit, (فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ, fa-l-ya'ti mustami'uhum bi-sulthaanin mubiinin), dan di sana diterjemahkan "keterangan yang nyata". Teks ayat ini sendiri tidak memastikan makna mana yang lebih tepat.
Dari mana kuasa semacam itu datang? Delapan ayat menyebutnya sebagai sesuatu yang diturunkan Allah, atau yang tidak Dia turunkan: 3:151, 6:81, 7:33, 7:71, 12:40, 22:71, 30:35, dan 53:23, misalnya (مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا, maa lam yunazzil bihi sulthaanan), "sesuatu yang Dia tidak menurunkan keterangan tentangnya" (3:151). Ayat-ayat lain menyebutnya sebagai sesuatu yang diberikan: (فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا, fa-qad ja'alnaa li-waliyyihi sulthaanan), "sungguh Kami telah memberi walinya wewenang" (17:33), dan (وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطَانًا, wa-naj'alu lakumaa sulthaanan), "dan Kami akan berikan kepada kalian berdua kekuasaan" (28:35). Di ayat-ayat itu kuasa datang dari luar diri yang memegangnya: diturunkan atau diberikan. Kuasa yang mana, dan kepada siapa kuasa itu akan diberikan, tidak disebut di ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini menantang jin dan manusia untuk menembus batas alam semesta: sesuatu yang mustahil tanpa kuasa dari Allah sendiri. Tantangannya dibuka dengan persilaan, "jika kalian sanggup, tembuslah", dan ditutup dengan kepastian, "kalian tidak akan menembusnya". Di antara keduanya tidak ada ancaman. Ayat ini hanya menyatakan batas dengan terang, lalu menyisakan satu celah: kecuali dengan kuasa.
Celah itu yang membedakan ayat ini dari 17:88. Di sana manusia dan jin juga ditantang, dan jawabannya juga datang seketika, (لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ, laa ya'tuuna bi-mitslihi), "mereka tidak akan mendatangkan yang serupa dengannya", tanpa pengecualian apa pun. Di sini pintunya tidak tertutup seluruhnya, tetapi kuncinya tidak dipegang yang ditantang. Seperti diuraikan di penjelasan, kuasa dalam pemakaian Al-Qur'an diturunkan atau diberikan. Doa di 17:80 memperlihatkan hal itu dari sisi orang yang meminta: (وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ, wa-akhrijnii mukhraja shidqin), "dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar", disusul permintaan akan wewenang yang menolong dari sisi-Nya. Jalan keluar dan kuasa untuk melewatinya sama-sama diminta, tidak direbut.
Ayat ini berada di dalam rangkaian yang dibuka 55:31, dan jin serta manusia di sini disapa dengan kata kerja jamak. Kapan tantangan ini berlaku, sekarang atau pada saat yang diumumkan 55:31, tidak disebut. Ayat sesudahnya, 55:35, langsung menyebut nyala api dan cairan tembaga yang dikirimkan kepada keduanya, dan seruan yang sama di 6:130 terjadi pada hari pengumpulan. Keduanya memberi arah tanpa memastikan.
Renungan dan Hikmah
- "Jika kalian sanggup, tembuslah." Ayat ini tidak melarang mencoba, tetapi mempersilakan, lalu menyebut hasilnya. Manusia sering baru mengakui batas sesudah menabraknya sendiri, dan Al-Qur'an tidak takut pada percobaan itu. Pernyataan yang benar tidak perlu dilindungi dari pengujian. Orang yang merasa sanggup menembus segala batas dengan kekuatannya sendiri dipersilakan membuktikannya, dan jawaban atas percobaan itu sudah tertulis di ujung ayat yang sama.
- Pintunya tidak tertutup seluruhnya: kecuali dengan kuasa. Tetapi kuasa itu, di banyak ayat, diturunkan atau diberikan oleh Allah. Ada keadaan dalam hidup yang tidak bisa ditembus dengan usaha sekeras apa pun: penyakit yang tidak kunjung sembuh, masalah yang tidak kunjung selesai. Jalan keluarnya tetap ada, tetapi terbuka dari sisi yang lain, dan doa di 17:80 memperlihatkan cara memintanya: keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar, dan berilah aku wewenang dari sisi-Mu.
- Surah ini hanya dua kali memerintah. Perintah pertama, tegakkanlah timbangan dengan adil, bisa dikerjakan setiap hari di pasar, di kantor, di rumah. Perintah kedua, tembuslah penjuru langit dan bumi, langsung dinyatakan tidak akan terlaksana. Manusia sering memimpikan hal besar yang di luar jangkauannya, sambil melalaikan hal kecil yang sepenuhnya dalam jangkauannya. Kalau tidak sanggup menembus langit, apakah timbangan di tangan sendiri sudah ditegakkan?
- Seruan yang sama, "wahai golongan jin dan manusia", di 6:130 disusul pertanyaan: tidakkah sudah datang kepada kalian rasul-rasul dari kalangan kalian sendiri? Di sini seruan itu disusul tantangan. Di kedua tempat, golongan dipanggil bersama, tetapi kata kerjanya jamak dan setiap anggota ikut disapa. Tuhan memanggil jin dan manusia sebagai golongan tidak untuk menyembunyikan orang per orang di dalamnya. Setiap anggota tetap berdiri sendiri di hadapan tantangan itu.
- Kata kerjanya bergerak dalam satu ayat: jika sanggup menembus, maka tembuslah, kalian tidak akan menembus. Rencana manusia sering berjalan dengan urutan yang sama. Mula-mula andaian, "kalau aku sanggup", lalu tekad, "aku akan", lalu kenyataan, "ternyata tidak". Ayat ini memperlihatkan seluruh urutan itu sekaligus, sebelum pendengarnya memulai. Mengetahui ujungnya lebih dulu tidak memadamkan usaha, tetapi mengarahkannya kepada apa yang memang bisa dicapai, dan mengarahkan permintaan kepada Dia untuk yang tidak bisa.
- Di 6:35 bahkan kepada Rasul dikatakan: jika engkau sanggup mencari lubang di bumi atau tangga ke langit untuk mendatangkan tanda kepada mereka, lakukanlah. Batas yang sama berlaku bagi semua, termasuk hamba yang paling dekat kepada Allah. Keinginan untuk menempuh jalan pintas, bahkan demi tujuan yang baik, tetap berhadapan dengan batas itu. Kerendahan hati yang lahir dari ayat ini bukan kerendahan orang yang kalah, tetapi kerendahan orang yang tahu di mana ia berdiri.