فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein kesembilan setelah peringatan perhatian penuh: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', kini konteksnya bergeser dari nikmat ke peringatan, menunjukkan refrein ini berfungsi ganda: menghitung anugerah sekaligus menegaskan tanggung jawab.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kesembilan dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Uraian tentang bentuk pertanyaan, kata-katanya, dan letak kemunculannya ada di 55:13 sampai 55:30. Di sini dibahas dua pergantian yang terjadi di antara 55:31 dan ayat ini: dari "Kami" ke "Tuhan kalian", dan dari "kalian" yang banyak ke "kalian berdua".
Di 55:31 pembicara menyebut diri "Kami" lewat (سَنَفْرُغُ, sa-nafrughu), sekali itu saja di surah ini. Satu ayat kemudian, refrain kembali menyebut-Nya sebagai pihak ketiga, rabbikumaa, "Tuhan kalian berdua". Tidak ada kata yang menandai pergantian itu, seperti "katakanlah" atau "Dia berfirman". Pergantian semacam ini terlihat juga di surah 108: (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ, innaa a'thaynaaka l-kawtsara), "sesungguhnya Kami telah memberimu kelimpahan" (108:1), lalu (فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ, fa-shalli li-rabbika wa-nhar), "maka bersalatlah bagi Tuhanmu, dan berkurbanlah" (108:2). Dia yang berbicara sebagai "Kami" di satu ayat disebut "Tuhanmu" di ayat berikutnya, dan ayat kedua dibuka dengan huruf fa-, "maka", seperti refrain ini dibuka. Di kedua tempat, kabar disampaikan dengan suara Dia sendiri, lalu pendengar diarahkan kepada hubungannya dengan Tuhan.
Pergantian kedua menyangkut bilangan. Di 55:31 kata gantinya (لَكُمْ, lakum), jamak, sedangkan di ayat ini rabbikumaa dan (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani) berbentuk dual. Pihak yang disapa tetap sama, yaitu jin dan manusia. Al-Qur'an memperlihatkan cara kerja pergantian ini di 49:9: (وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا, wa-in thaa'ifataani mina l-mu'miniina qtataluu fa-ashlihuu baynahumaa), "jika ada dua golongan orang-orang mukmin bertikai, damaikanlah keduanya". Golongannya disebut dual, (طَائِفَتَانِ, thaa'ifataani). Kata kerja perbuatan mereka, (اقْتَتَلُوا, qtataluu), berbentuk jamak, karena pertikaian dilakukan orang-orang di dalam kedua golongan itu. Kata ganti untuk yang didamaikan, (بَيْنَهُمَا, baynahumaa), kembali dual, karena keduanya didamaikan sebagai dua pihak. Hal yang sama terlihat di 22:19, (هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا, haadzaani khashmaani khtashamuu), "inilah dua golongan yang bertengkar": dua pihak disebut dual, pertengkarannya jamak.
Dengan pola itu, 55:31 dan ayat ini terbaca jelas. Panggilan (أَيُّهَ الثَّقَلَانِ, ayyuha ts-tsaqalaani) menyebut dua golongan dengan bentuk dual. Perhatian yang diumumkan, lakum, ditujukan kepada semua anggota kedua golongan, sehingga jamak. Pertanyaan refrain ditujukan kepada dua pihak itu sebagai dua pihak, sehingga dual. Dalam terjemahan, perbedaan ini hanya tampak pada kata "berdua": 55:31 berbunyi "kepada kalian", sedangkan ayat ini "yang kalian berdua dustakan", sesuai cara menandai dual yang dijelaskan di 55:23.
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah seruan kepada dua golongan berbeban. Ayat sebelumnya baru saja menyebut sesuatu yang tidak berupa pemberian yang bisa dipegang, dan tidak berupa kabar tentang berakhirnya segala sesuatu, melainkan perhatian: Dia akan luang untuk kalian. Refrain lalu bertanya nikmat mana yang didustakan, dan dengan menempatkan pertanyaan itu di sini, perhatian yang akan datang ikut diletakkan dalam deretan yang ditanyakan. Teks tidak menyatakan bahwa perhatian itu sendiri sebuah nikmat. Teks hanya memperlihatkan urutannya.
Pergantian dari "Kami" ke "Tuhan kalian berdua" memberi arah pada urutan itu. Perhatian di 55:31 diumumkan oleh Dia yang berbicara sendiri. Pertanyaan di ayat ini menyebut-Nya dalam hubungan-Nya dengan pendengar: Tuhan kalian. Pola 108:1-2 sama. Sesudah "Kami telah memberimu", datang "bersalatlah bagi Tuhanmu". Kabar datang dari suara Dia sendiri, sedangkan jawaban pendengar diarahkan kepada hubungan dengan-Nya.
Pergantian bilangan menambahkan hal lain. Pengumuman perhatian menyapa setiap anggota, sedangkan pertanyaan tentang nikmat menyapa kedua golongan bersama. Setiap orang akan diperhatikan sendiri, sedangkan pertanyaan tentang nikmat ditujukan kepada jin dan manusia sebagai dua pihak yang sama-sama menerima dan sama-sama ditanya.
Renungan dan Hikmah
- Di 55:31, perhatian itu diumumkan dengan suara "Kami". Satu ayat kemudian, Dia disebut "Tuhan kalian". Dia yang akan meluangkan perhatian itu tidak asing bagi yang diperhatikan. Dia yang selama ini memelihara, memberi makan, dan mengatur hari-hari mereka. Pemeriksaan oleh orang asing menakutkan karena ia tidak mengenal kita. Perhatian dari Tuhan yang sudah memelihara sejak awal berbeda rasanya, dan refrain ini mengingatkan hubungan itu tepat sesudah pengumuman yang bisa terdengar menggetarkan.
- Banyak orang hidup dengan rasa tidak terlihat: kerjanya tidak dihargai, keluhannya tidak didengar, kebaikannya lewat tanpa dicatat. Ayat sebelumnya mengumumkan bahwa Dia akan meluangkan seluruh perhatian untuk jin dan manusia, dan refrain ini langsung bertanya nikmat mana yang didustakan. Apakah dilihat sepenuhnya itu beban atau pemberian? Bagi yang selama ini merasa tidak terlihat, kabar bahwa tidak ada yang luput dari perhatian-Nya bisa menjadi pemberian yang paling lama ditunggu.
- Kata-kata refrain ini tidak berubah satu huruf pun sejak 55:13. Tetapi sesudah pengumuman di 55:31, kalimat yang sama terdengar lain. Kalimat syukur yang diucapkan setiap hari juga bisa begitu: sama bunyinya, berbeda beratnya tergantung apa yang baru saja terjadi. Ucapan terima kasih sesudah selamat dari kecelakaan tidak sama dengan ucapan yang sama di pagi yang biasa. Bobot kalimat ditentukan oleh apa yang baru disadari orang yang mengucapkannya, bukan oleh kata-katanya.
- Di surah 108, Allah berkata "Kami telah memberimu", lalu "bersalatlah bagi Tuhanmu". Di sini, sesudah "Kami akan luang untuk kalian", datang pertanyaan tentang nikmat Tuhan kalian. Dua kali polanya sama: kabar dari Dia, lalu pendengar diarahkan kepada Tuhannya. Kabar baik yang diterima manusia sering berhenti di rasa senang, dan kabar yang menggetarkan sering berhenti di rasa takut. Pola ini memperlihatkan langkah berikutnya: sesudah kabar, kembali menghadap kepada yang mengabarkan.
- Pertanyaan ini diajukan kepada dua pihak sekaligus, jin dan manusia. Manusia mudah merasa sebagai pusat ciptaan, seakan-akan hanya dia yang diajak bicara dan diperhitungkan. Bentuk dual ini meletakkan manusia di samping pihak lain yang sama-sama menerima nikmat dan sama-sama ditanya. Kesadaran bahwa kita hanya salah satu dari dua tidak merendahkan, tetapi menempatkan manusia pada ukurannya, dan ukuran yang tepat membuat syukur lebih mudah daripada rasa berhak.
- Perhatian di 55:31 jatuh kepada setiap anggota, sedangkan pertanyaan di sini diajukan kepada dua golongan bersama. Seseorang akan diperhatikan sebagai dirinya sendiri, tetapi pertanyaan tentang nikmat ditanggung bersama dengan yang lain. Dalam keluarga atau kampung, nikmat sering datang kepada orang banyak sekaligus: hujan, air bersih, jalan yang aman. Pengakuan atas nikmat semacam itu juga urusan bersama, dan Tuhan yang sama menanyakannya kepada semua yang menikmatinya.