يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
Meminta kepada-Nya siapa yang di langit dan bumi; setiap saat Dia dalam suatu urusan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِyas'aluhu man fii s-samaawaati wa-l-ardhimeminta kepada-Nya siapa yang di langit dan bumi
- كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍkulla yawmin huwa fii sya'ninsetiap saat Dia dalam suatu urusan
Terjemahan per kata (10 kata)
- يَسْأَلُهُyas'aluhumeminta kepada-Nya
- مَنْmanorang yang
- فِيfiidi
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- كُلَّkullasetiap
- يَوْمٍyawminhari
- هُوَhuwaDia
- فِيfiidalam
- شَأْنٍsya'ninurusan
Inti bacaan
Ketergantungan universal dan keaktifan tanpa henti: 'meminta kepada-Nya siapa yang di langit dan bumi; setiap saat Dia dalam suatu urusan', gambaran keterlibatan aktif dan berkelanjutan, bukan pencipta pasif yang menarik diri setelah penciptaan selesai, dasar keyakinan bahwa doa dan kebutuhan terus diperhatikan setiap saat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, yas'aluhu man fii s-samaawaati wa-l-ardhi), lalu (كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ, kulla yawmin huwa fii sya'nin). Kata kerja (يَسْأَلُهُ, yas'aluhu), dari akar س-أ-ل dengan akhiran -hu, "kepada-Nya", hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Akar س-أ-ل mencakup bertanya dan meminta. Terjemahan memilih "meminta", sejalan dengan 14:34, (مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ, min kulli maa sa'altumuuhu), "dari segala yang kalian mohonkan kepada-Nya", tempat Dia disebut memberi dari apa yang diminta. Bentuknya kata kerja masa kini, jadi permintaan itu digambarkan sedang dan terus berlangsung. Apa yang diminta tidak disebut. Ayat ini hanya menyebut siapa yang meminta dan kepada siapa.
Frasa (مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ, man fii s-samaawaati), "siapa yang di langit", muncul tiga belas kali di dua belas surah, kadang disusul "dan bumi", kadang "dan siapa yang di bumi", bersama kata kerja yang beragam. Mereka bersujud di 13:15 dan 22:18, berserah diri di 3:83, datang sebagai hamba di 19:93, terkejut di 27:87, mati di 39:68, dan dinyatakan sebagai milik-Nya di 10:66, 21:19, dan 30:26. Hanya di ayat ini frasa itu dipasangkan dengan meminta. Cakupannya juga lebih luas dari 55:26. Di sana kebinasaan disebut untuk (مَنْ عَلَيْهَا, man 'alayhaa), yang di atas bumi. Di sini permintaan datang dari yang di langit dan bumi. Kata (مَنْ, man), "siapa", sama di kedua ayat.
Keterangan waktunya, (كُلَّ يَوْمٍ, kulla yawmin), hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Kata (يَوْمٍ, yawmin) biasanya diterjemahkan "hari", tetapi terjemahan ini menulis "setiap saat". Pilihan ini bersandar pada Al-Qur'an sendiri, yang tidak mengikat panjang sebuah hari pada hitungan manusia ketika hari itu dikaitkan dengan Tuhan. 22:47 berkata (وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ, wa-inna yawman 'inda rabbika ka-alfi sanatin mimmaa ta'udduuna), "dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun menurut hitungan kalian", dan 70:4 menyebut hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. "Setiap hari" dalam bahasa Indonesia mudah terbaca sebagai sekali dalam sehari semalam, sesuatu yang tidak dikatakan ayat ini. "Setiap saat" menjaga maksud yang dikatakannya, yaitu bahwa tidak ada rentang waktu yang lewat tanpa Dia berada dalam suatu urusan. Pembaca yang ingin makna harfiahnya boleh membacanya "setiap hari".
Kata ganti (هُوَ, huwa), "Dia", adalah satu-satunya kata ganti yang berdiri sendiri untuk-Nya di surah ini. 55:23 mencatat bahwa nama Allah tidak muncul di surah ini. Di sepanjang 78 ayatnya, Dia disebut lewat Ar-Rahmaan, lewat sebutan Tuhan, lewat akhiran -Nya, dan di sini lewat kata "Dia" yang berdiri sendiri. Kata (شَأْنٍ, sya'nin), "urusan", berasal dari akar ش-أ-ن yang dipakai di empat ayat: 10:61, 24:62, 55:29, dan 80:37. Tiga di antaranya tentang urusan manusia. 10:61 memakai susunan yang sama untuk manusia, (وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ, wa-maa takuunu fii sya'nin), "dan engkau tidak berada dalam suatu urusan", lalu melanjutkan bahwa Kami menjadi saksi atas setiap urusan itu. 80:37, sesudah 80:34 sampai 80:36 menyebut manusia lari dari saudara, ibu, bapak, istri, dan anak-anaknya, menyebut bahwa setiap orang pada hari itu punya urusan (يُغْنِيهِ, yughniihi), "yang cukup menyibukkannya". Di ayat ini urusan itu milik-Nya, dan katanya tak tentu, "suatu urusan". Teksnya tidak menyebut urusan apa yang dimaksud.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh makhluk bergantung kepada Allah, yang senantiasa aktif mengatur segala urusan. Letaknya menjelaskan maksudnya. 55:26 menyebut semua yang di atas bumi binasa, 55:27 menyebut wajah Tuhanmu yang tetap ada. Ayat ini menyebut apa yang dilakukan makhluk terhadap yang tetap ada itu, dan apa yang dilakukan-Nya. Mereka meminta kepada-Nya, dan Dia, setiap saat, berada dalam suatu urusan. Dia yang tetap ada tidak digambarkan diam. Dia bekerja, dan yang fana bergantung kepada-Nya selama masih ada.
Ayat ini juga berdiri di antara dua refrain, sesudah 55:28 dan sebelum 55:30. Refrain bertanya kepada jin dan manusia nikmat mana yang mereka dustakan. Ayat ini menyebut bahwa siapa pun yang di langit dan bumi meminta kepada-Nya, dan jin serta manusia termasuk di dalamnya. Meminta adalah pengakuan paling dasar bahwa ada yang dibutuhkan dan ada yang bisa memberi. Menurut ayat ini, pihak yang ditanya tentang pendustaan sedang meminta kepada Tuhan yang sama.
Perbandingan dengan 80:37 menajamkan gambaran itu. Pada hari itu setiap orang punya urusan yang cukup menyibukkannya, sampai lari dari keluarganya sendiri. Di ayat ini, Dia yang berada dalam suatu urusan setiap saat tetap menjadi tempat semua yang di langit dan bumi meminta. Urusan itu tidak dirinci, dan uraian ini tidak mengisinya. Ayat ini menyebut dua hal yang berjalan bersamaan: permintaan yang tidak berhenti dan urusan yang tidak berhenti.
Renungan dan Hikmah
- Isi permohonannya tidak disebut. Rezeki, ampunan, hujan, keselamatan, semuanya tertampung di satu kata kerja. Allah tidak memilah permohonan yang layak dan yang remeh di ayat ini. Permohonan kecil yang malu kita sampaikan, karena rasanya terlalu sepele untuk dibawa kepada Tuhan, termasuk yang dicakup kalimat ini, berdampingan dengan permohonan penghuni langit. Tidak ada ukuran minimal untuk sebuah permintaan. Orang yang malu meminta hal kecil biasanya juga lupa bersyukur atas hal kecil.
- Permintaan juga datang dari yang di langit, tidak cuma dari bumi. Penghuni langit, yang tidak disebut binasa di 55:26, juga disebut meminta kepada-Nya. Tidak ada makhluk yang cukup tinggi kedudukannya untuk tidak memerlukan-Nya. Kalau yang di langit pun memohon, orang yang merasa bisa berdiri tanpa memohon kepada siapa pun sedang menempatkan dirinya di atas mereka, di tempat yang tidak pernah disediakan bagi makhluk mana pun. Ayat ini menaruh semua peminta dalam satu barisan, dari langit sampai bumi.
- Dia berada dalam suatu urusan, dan urusan apa itu tidak disebut. Ada rasa ingin tahu yang wajar: apa yang sedang dikerjakan-Nya hari ini, untukku, untuk orang yang kucintai? Ayat ini tidak menjawab, dan diamnya mengajarkan batas. Pembaca hanya diberi tahu bahwa Dia tidak pernah tanpa urusan. Isinya tetap milik-Nya, dan orang yang memohon tidak perlu mengetahui isinya lebih dulu untuk boleh memohon. Anak kecil meminta kepada orang tuanya tanpa memahami pekerjaan mereka, dan permintaannya tetap didengar.
- Di 80:37, pada hari itu setiap orang punya urusan yang cukup menyibukkannya, sampai lari dari keluarganya. Urusan kita sendiri sering sudah cukup untuk membuat kita lupa kepada orang lain, bahkan hari ini. Ayat ini menyebut dua hal bersamaan: Dia berada dalam suatu urusan, dan semua yang di langit dan bumi tetap meminta kepada-Nya. Tidak ada kata di ayat ini yang menyuruh permintaan itu menunggu sampai urusan-Nya beres. Kesibukan kita sering menjadi alasan untuk menunda orang yang meminta. Ayat ini tidak memberi-Nya alasan semacam itu.
- Setiap saat, tidak sekali sehari. Kita sering memperlakukan hubungan dengan Tuhan seperti janji temu: ada jamnya, ada tempatnya, ada pakaiannya. Ayat ini menyebut Dia dalam suatu urusan pada setiap rentang waktu. Tidak ada jam ketika Dia tidak sedang mengurus, sehingga tidak ada jam ketika memohon kepada-Nya jatuh pada waktu yang salah, termasuk tengah malam yang gelisah atau siang yang sibuk. Jam mengikat kita, bukan Dia, dan ayat ini melepaskan permohonan dari ikatan itu.
- Meminta berarti mengaku ada yang tidak kita miliki dan ada yang memilikinya. Semua yang di langit dan bumi melakukannya kepada-Nya. Refrain sebelum dan sesudah ayat ini bertanya nikmat mana yang didustakan. Orang yang pada pagi hari memohon kepada-Nya, lalu pada siang hari bersikap seakan semua yang dimilikinya hasil sendiri, sedang melakukan dua hal yang saling membatalkan, sering tanpa menyadarinya. Permohonan pagi itu sudah sebuah pengakuan, dan pengakuan itu tidak gugur ketika siang tiba.