فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein keenam setelah penyebutan kapal-kapal besar: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', kini menyoroti kemampuan manusia menaklukkan lautan sebagai nikmat yang jarang disyukuri secara sadar.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan keenam dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Bentuk pertanyaan dan kata (آلَاءِ, aalaa'i) diuraikan di 55:13, letak kemunculannya di 55:16 dan 55:18, apa yang biasanya didustakan di 55:21, dan sebutan Tuhan di 55:23. Di sini dibahas dua hal yang belum disentuh: pertanyaan lain di Al-Qur'an yang dibuka dengan kata yang sama, dan bentuk waktu kata kerja penutupnya.
Pembuka (فَبِأَيِّ, fa-bi-ayyi), "maka dengan yang mana", dipakai tiga puluh lima kali di seluruh Al-Qur'an. Tiga puluh satu di antaranya refrain surah ini, satu di 53:55 yang sudah dibandingkan di 55:13, dan tiga sisanya membentuk pertanyaan yang lain lagi: 7:185, 45:6, dan 77:50. Ketiganya berbunyi hampir sama, seperti di 77:50, (فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ, fa-bi-ayyi hadiitsin ba'dahu yu'minuuna), "maka dengan tuturan apa setelahnya mereka akan beriman?". Di 45:6 arti "setelahnya" dinyatakan terang: setelah Allah dan tanda-tanda-Nya. Susunannya sama dengan refrain, yaitu kata tanya yang menempel pada huruf bi-, lalu hal yang dipilih, lalu kata kerja. Kata kerjanya berlawanan. Di tiga ayat itu kata kerjanya beriman, di surah ini mendustakan. Keduanya pertanyaan yang tidak menunggu jawaban berupa pilihan. Di sana tidak ada tuturan lain yang tersisa untuk diimani, di sini tidak ada nikmat yang bisa ditunjuk untuk didustakan. Bedanya lagi, tiga ayat itu membicarakan orang lain dengan kata "mereka", sedangkan refrain ini menyapa langsung.
Kata kerja (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani) berbentuk masa kini, tidak berbentuk lampau. 55:13 sudah menyebut bahwa bentuk ini membuat pertanyaannya tetap terbuka, dan hitungan atas kata kerja yang sama dalam bentuk jamak memperlihatkan seberapa jauh bedanya. Bentuk (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuuna), "kalian mendustakan" untuk banyak orang, muncul sembilan kali: 23:105, 32:20, 34:42, 37:21, 52:14, 56:82, 77:29, 82:9, dan 83:17. Tujuh di antaranya didahului (كُنْتُمْ, kuntum), "dahulu kalian", dan ketujuhnya diucapkan kepada orang yang sudah berada di hadapan akibatnya. Contohnya 52:14, (الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, allatii kuntum bihaa tukadzdzibuuna), "(inilah api) yang dahulu kalian dustakan", dan 37:21, "inilah hari keputusan yang dahulu kalian dustakan". Pada saat itu pendustaan sudah menjadi masa lalu, dan kalimatnya hanya menunjuk apa yang dulu dilakukan. Dua sisanya, 56:82 dan 82:9, berdiri tanpa kata itu. Refrain ini, dalam tiga puluh satu kemunculannya, tidak pernah didahului (كُنْتُمْ, kuntum) atau padanannya untuk dua pihak. Pertanyaannya diajukan kepada dua golongan yang masih berada di tengah pilihan antara mendustakan dan mengakui, sebelum kalimat "yang dahulu kalian dustakan" berlaku bagi mereka.
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah menyebut kapal-kapal besar di laut, benda pertama dalam daftar surah ini yang dirakit, seperti diuraikan di 55:24. Pertanyaannya tidak berubah sedikit pun untuk benda itu. Kapal ditagih dengan kalimat yang sama yang dipakai sesudah matahari, bulan, dan tumbuhan. Bagi refrain ini, hasil kerja tangan tidak dipisahkan dari yang tumbuh sendiri. Keduanya masuk hitungan nikmat Tuhan kalian berdua.
Ayat ini juga kemunculan terakhir dari rangkaian pertama refrain. Enam kemunculan, dari 55:13 sampai di sini, semuanya datang sesudah surah menyebut sesuatu yang ada dan bekerja di alam ini: pemberian di bumi, penciptaan manusia dan jin, tempat terbit dan terbenam, dua laut, mutiara, dan kapal. Ayat sesudahnya, 55:26, membuka hal yang belum pernah disebut surah ini, yaitu berakhirnya semua yang ada di atas bumi. Refrain ini berdiri di antara benda terbesar yang dibuat, kapal yang laksana gunung-gunung, dan pernyataan bahwa semua yang di atas bumi akan binasa.
Kalau dibaca bersama 77:50, watak pertanyaan ini terlihat. Di sana, sesudah tanda-tanda disampaikan, ditanyakan tuturan apa lagi yang akan mereka imani, dan jawabannya tidak ada. Di sini, sesudah pemberian demi pemberian disebut, ditanyakan nikmat mana yang akan didustakan, dan jawabannya pun tidak ada. Selama pertanyaan itu masih diajukan dalam bentuk masa kini, yang ditanya masih punya waktu untuk menjawabnya dengan hidupnya.
Renungan dan Hikmah
- Kapal dirakit, lalu disusul pertanyaan yang sama dengan pertanyaan sesudah matahari dan bulan. Allah tidak menyediakan kalimat lain untuk hasil kerja tangan. Apa yang kita buat sendiri, rumah, alat, keterampilan yang dilatih bertahun-tahun, paling mudah dianggap milik kita sepenuhnya, sebab kita ingat lelahnya. Refrain ini memasukkannya ke hitungan yang sama dengan hujan dan tumbuhan. Benda rakitan tetap berdiri di atas bahan, tenaga, dan akal yang tidak pernah kita rakit.
- Di tujuh tempat lain, kata kerja yang sama muncul bersama kata "dahulu": inilah yang dahulu kalian dustakan. Kalimat itu diucapkan ketika semuanya sudah terlambat untuk diubah. Refrain ini tidak pernah memakai kata "dahulu". Allah mengajukannya selagi yang ditanya masih bisa menjawab, dengan ucapan dan dengan cara hidup. Setiap kali ayat ini terbaca, pembacanya belum sampai di tempat kalimat yang lain itu diucapkan. Jarak itu sedang diberikan kepadanya, tetapi tidak tanpa batas.
- Tuturan apa lagi yang akan mereka imani sesudah tanda-tanda-Nya? Nikmat mana yang akan didustakan sesudah semua pemberian ini? Dua pertanyaan dengan pembuka yang sama itu tidak meminta orang memilih dari sebuah daftar. Keduanya memperlihatkan bahwa daftarnya kosong. Orang yang mencoba menjawab dengan jujur tidak akan menemukan satu pun nikmat yang pantas diingkari, lalu harus bertanya kenapa sikapnya sehari-hari berjalan seakan-akan ia menemukan banyak.
- Refrain ini yang terakhir sebelum surah menyebut bahwa semua yang di atas bumi akan binasa. Kapal yang laksana gunung disebut milik-Nya, lalu datang pertanyaan, lalu kabar tentang berakhirnya semua. Urutan itu memberi jeda untuk menikmati apa yang ada tanpa lupa bahwa semuanya tidak tinggal selamanya. Barang yang kita banggakan hari ini berada di posisi yang sama dengan kapal itu: disebut, ditanyakan, lalu suatu hari tidak ada lagi di tangan siapa pun.
- Pertanyaan di 77:50 membicarakan orang lain: tuturan apa lagi yang akan mereka imani. Refrain ini menyapa. Allah tidak menanyakan pendirian orang yang jauh, Dia bertanya kepada yang sedang mendengar. Membaca ayat seperti ini dengan pikiran "ini untuk orang-orang yang ingkar" adalah cara halus untuk keluar dari barisan yang ditanya. Bentuk kalimatnya menutup jalan keluar itu. Refrain menyapa pendengarnya, siapa pun dia dan setaat apa pun dia merasa dirinya.
- Pembuka yang sama dipakai untuk bertanya tentang beriman dan tentang mendustakan. Keduanya diajukan sesudah sesuatu disodorkan: tanda-tanda di 77:50, pemberian di surah ini. Iman dan dusta, dalam susunan ini, sama-sama jawaban atas apa yang sudah Dia berikan, tidak lahir dari ruang kosong. Tidak ada orang yang berdiri netral di hadapan pemberian. Menerima tanpa mengakui pun sudah sebuah jawaban, walaupun tidak pernah diucapkan. Setiap pagi yang dijalani dengan menyadari Pemberinya adalah jawaban yang lain.