يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يَخْرُجُ مِنْهُمَاyakhruju minhumaadari keduanya keluar
- اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُal-lu'lu'u wa-l-marjaanumutiara dan marjan
Terjemahan per kata (4 kata)
- يَخْرُجُyakhrujukeluar
- مِنْهُمَاminhumaadari keduanya
- اللُّؤْلُؤُal-lu'lu'umutiara
- وَالْمَرْجَانُwa-l-marjaanudan marjan
Inti bacaan
Hasil berharga dari pertemuan dua laut: 'dari keduanya keluar mutiara dan marjan', kekayaan yang dihasilkan justru dari titik pertemuan dua elemen berbeda, metafora bahwa perpaduan bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai tinggi.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ, yakhruju minhumaa al-lu'lu'u wa-l-marjaanu). Kata kerja (يَخْرُجُ, yakhruju), "keluar", pelakunya adalah benda itu sendiri. Mutiara dan marjan disebut keluar, tanpa ada orang yang disebut mengeluarkannya. Ini berbeda dari dua ayat lain yang berbicara tentang perhiasan dari laut. Di 16:14 tertulis (وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً, wa-tastakhrijuu minhu hilyatan), "dan kalian mengeluarkan perhiasan darinya", dan di 35:12 (وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً, wa-tastakhrijuuna hilyatan), "dan kalian mengeluarkan perhiasan". Di dua ayat itu manusia yang bekerja, sedangkan di ayat ini manusia tidak disebut. Karena itu terjemahannya "keluar", tidak "dikeluarkan", mengikuti teks yang hanya menyebut benda dan asalnya.
Kata (مِنْهُمَا, minhumaa) berarti "dari keduanya". Akhiran -humaa kembali menunjuk dua laut di 55:19, sama seperti di 55:20. Ayat ini tidak menyebut dari laut yang mana mutiara keluar dan dari laut yang mana marjan keluar. Kedua laut hanya disebut sebagai asal. 35:12 berkata hal yang sejalan. Sesudah menyebut dua laut, yang satu tawar dan yang lain sangat asin, ayat itu melanjutkan (وَمِنْ كُلٍّ, wa-min kullin), "dan dari masing-masing itu", kalian memakan daging yang segar dan mengeluarkan perhiasan. Di dua tempat itu Al-Qur'an menyebut kedua laut sebagai sumber, tanpa memilah. Terjemahan di sini mempertahankan "dari keduanya" dan tidak menyempitkannya ke salah satu laut, karena teksnya tidak menyempitkan.
Kata (اللُّؤْلُؤُ, al-lu'lu'u), "mutiara", berasal dari akar empat huruf ل-ء-ل-ء. Dalam semua bentuknya, kata ini muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an (55:22, 56:23, 22:23, 35:33, 52:24, 76:19). Lima kemunculan selain ayat ini semuanya berbicara tentang taman-taman akhirat. Di 22:23 dan 35:33 mutiara menjadi perhiasan penghuninya, (وَلُؤْلُؤًا, wa-lu'lu'an), bersama gelang dari emas. Di 52:24, 56:23, dan 76:19 mutiara menjadi perumpamaan bagi mereka yang ada di taman itu, misalnya (كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ, ka-amtsaali l-lu'lu'i l-maknuuni), "laksana mutiara yang tersimpan" (56:23). Ayat ini satu-satunya tempat mutiara disebut sebagai benda dunia, keluar dari laut yang bisa dilihat hari ini.
Kata (وَالْمَرْجَانُ, wa-l-marjaanu), "dan marjan", muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya di surah ini (55:22, 55:58). Kemunculan kedua ada di bagian surah yang menggambarkan taman: (كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ, ka-annahunna l-yaaquutu wa-l-marjaanu), "seakan-akan mereka yakut dan marjan" (55:58). Kedua benda dalam ayat ini, mutiara dan marjan, sama-sama dipakai lagi untuk menggambarkan akhirat. Kamus bahasa Indonesia mencatat kata ini sebagai "merjan", yaitu manik-manik dari batu karang merah untuk dibuat perhiasan. Terjemahan di sini memakai "marjan", yang lebih dekat dengan bunyi Arabnya, dan memakainya sama di kedua ayat.
Kata marjan digolongkan ke akar م-ر-ج, akar yang sama dengan (مَرَجَ, maraja), "Dia mengalirkan", di 55:19, dan dengan (مَارِجٍ, maarijin), nyala api bahan penciptaan jin, di 55:15. Tiga huruf yang sama muncul tiga kali dalam delapan ayat, yaitu di 55:15, 55:19, dan 55:22: pada api, pada dua laut yang dialirkan, dan pada salah satu hasilnya. Apakah makna ketiganya berhubungan tidak dijelaskan, dan penjelasan ini tidak menarik hubungan makna dari kesamaan huruf itu. Kesamaan itu bisa dipastikan pada bunyinya saja, yang terdengar oleh siapa pun yang membaca surah ini berurutan.
Tafsiran
Ayat ini menyebut hasil laut yang berharga: mutiara dan marjan sebagai anugerah lain. Sesudah dua ayat tentang dua laut dan batasnya, surah ini menyebut apa yang dihasilkan dari keduanya. Nikmat yang disebut di sini berbeda jenisnya dari nikmat bumi di 55:10-12. Sebagian besar isi daftar di sana makanan: buah-buahan, kurma, dan biji-bijian. Mutiara dan marjan tidak dimakan dan tidak dibutuhkan untuk bertahan hidup. Al-Qur'an sendiri, di 16:14 dan 35:12, menyebut hasil laut semacam ini sebagai perhiasan yang dipakai. Dengan ayat ini, daftar nikmat surah ini melebar dari yang dibutuhkan ke yang indah.
Ayat ini juga menjembatani dua bagian surah. Mutiara di ayat-ayat lain Al-Qur'an selalu dipakai untuk taman akhirat, dan marjan muncul lagi di 55:58 ketika surah ini sendiri menggambarkan taman. Perumpamaan di 55:58 hanya bisa ditangkap kalau pembaca sudah tahu apa itu marjan. Ayat ini memperkenalkannya lebih dulu, sebagai benda yang keluar dari laut. Apa yang dijanjikan kelak digambarkan lewat apa yang sudah bisa dilihat hari ini.
Penyelam dan pekerjaan manusia apa pun tidak disebut di ayat ini. Dua ayat lain tentang perhiasan laut, 16:14 dan 35:12, menyebut manusia yang mengeluarkannya, lalu keduanya ditutup dengan (وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ, wa-la'allakum tasykuruuna), "dan agar kalian bersyukur". Ayat ini memusatkan pandangan pada sumbernya saja, dua laut yang baru disebut. Soal syukur tidak dibiarkan hilang, tetapi datang dalam bentuk pertanyaan di ayat sesudahnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah tidak berhenti pada yang dibutuhkan. Sesudah buah dan biji-bijian, ayat ini menyebut mutiara dan marjan, benda yang tidak dimakan dan tidak membuat siapa pun bertahan hidup. Pemberian yang melampaui kebutuhan menunjukkan pemberi yang tidak menghitung-hitung. Hidup yang hanya diukur dari kebutuhan pokok kehilangan separuh daftar nikmatnya. Keindahan yang dinikmati tanpa perlu, warna, kilau, bentuk yang rapi, ikut masuk ke dalam daftar yang akan ditanyakan di ayat berikutnya.
- Mutiara di tangan pembeli terasa seperti hasil kerja penyelam dan pedagang, dan memang ada kerja keras di sana. Penyelam dan pedagang tidak muncul di ayat ini, hanya benda itu dan asalnya: dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Kerja manusia menemukan dan mengangkat apa yang sudah dijadikan Allah di dalam laut. Tidak ada penyelam yang membuat mutiara. Bangga atas hasil kerja tidak salah, tetapi ayat ini menunjuk ke saat yang lebih awal, ketika benda itu mulai ada sebelum siapa pun menemukannya.
- Allah menyebut hasilnya keluar dari keduanya. Tidak ada laut yang disebut sebagai pemilik tunggal mutiara, dan tidak ada yang disebut hanya menumpang. Dua pihak yang menjaga batas masing-masing ternyata tetap memberi sesuatu bersama. Dalam kerja sama antarmanusia, pertanyaan pertama sering kali siapa yang paling berjasa. Ayat ini menyebut asal yang sama untuk keduanya dan berhenti di situ. Apakah hasil bersama akan terasa lain kalau tidak ada yang sibuk menghitung bagian siapa yang lebih besar?
- Kata mutiara di ayat-ayat lain dipakai untuk menggambarkan taman akhirat, dan marjan dipakai lagi untuk itu di surah ini sendiri. Allah menggambarkan yang belum terlihat lewat benda yang sudah bisa dipegang. Setiap mutiara yang pernah dilihat menjadi bahan untuk membayangkan apa yang dijanjikan. Barang yang sama bisa berhenti sebagai benda mahal di etalase, atau menjadi pengingat tentang sesuatu yang jauh lebih berharga. Semuanya bergantung pada ke mana pandangan dibawa sesudah melihatnya.
- Dua ayat sebelumnya berbicara tentang batas yang tidak dilampaui. Ayat ini menyebut apa yang keluar dari dua laut yang saling menjaga batas itu. Batas tidak membuat keduanya diam dan kosong. Dari air yang tetap terpisah, Allah mengeluarkan benda-benda yang dihargai. Batas sering dicurigai sebagai penghalang pertumbuhan, seolah sesuatu baru bisa berbuah kalau semua batasnya dibuka. Urutan tiga ayat ini memperlihatkan hal lain: batas yang terjaga dan hasil yang berharga bisa berada di tempat yang sama.
- Perhiasan dipakai di leher, di jari, di telinga, dekat sekali dengan tubuh. Karena sedekat itu, asalnya mudah terlupa. Jarang ada yang melihat kalung mutiara lalu teringat laut. Dua ayat lain yang menyebut perhiasan dari laut ditutup dengan harapan agar manusia bersyukur, dan ayat ini disusul pertanyaan tentang nikmat yang didustakan. Benda yang paling dekat ke kulit bisa menjadi benda yang paling jauh dari ingatan tentang Allah yang memberinya. Seberapa sering benda yang dipakai setiap hari diingat sebagai sesuatu yang dikeluarkan dari laut?
- Dari permukaan, laut hanya tampak sebagai air yang bergerak. Tidak ada yang bisa melihat mutiara dari tepi pantai. Benda berharga dalam ayat ini keluar dari tempat yang tampak biasa saja. Menilai sesuatu dari permukaannya, entah laut, pekerjaan, atau orang lain, bisa membuat yang paling berharga di dalamnya terlewat. Allah menaruh mutiara di tempat yang tidak memamerkannya, dan yang berharga di dalam diri orang lain pun sering baru terlihat oleh yang mau melihat lebih dalam.