فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein keempat setelah fenomena dua laut: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang kini menyoroti keajaiban geografis sebagai nikmat yang layak direnungkan, bukan sekadar fakta ilmiah netral.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan keempat dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Uraian lengkap tentang bentuk pertanyaannya, kata ganti dual itu, dan kata (آلَاءِ, aalaa'i) ada di 55:13. Letak kemunculan-kemunculannya dalam pola pengulangan dibahas di 55:16 dan 55:18. Di sini dibahas tiga hal yang belum disentuh: apa yang biasanya didustakan dalam Al-Qur'an, hubungan kata kerja penutup ayat ini dengan kata kerja penutup ayat sebelumnya, dan sebab jarak tiga ayat sebelum kemunculan ini.
Kata kerja (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani) berasal dari akar ك-ذ-ب. Dalam Al-Qur'an, kata kerja ini sering diikuti huruf bi- yang menandai apa yang didustakan. Di refrain ini huruf itu dipindah ke depan dan menempel pada kata tanya (بِأَيِّ, bi-ayyi), sehingga pertanyaannya tertuju pada benda yang didustakan: nikmat yang mana. Kalau seluruh Al-Qur'an diperiksa, ada 62 tempat ketika kata kerja mendustakan ini langsung diikuti huruf bi-, sehingga terlihat apa yang didustakan. Di 37 tempat, sasaran pendustaan itu ayat-ayat atau tanda-tanda, seperti (كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا, kadzdzabuu bi-aayaatinaa), "mereka mendustakan ayat-ayat Kami" (7:36; juga 2:39, 3:11, 6:39). Sisanya antara lain kebenaran (6:5, 29:68, 50:5), pertemuan dengan Allah atau dengan akhirat (6:31, 10:45, 23:33), hari kiamat (25:11), hari pembalasan (74:46, 82:9, 83:11, 107:1), dan kitab (40:70). Tidak satu pun dari 62 tempat itu menyebut nikmat. Hampir semuanya adalah hal yang datang sebagai kabar atau bukti. Refrain ini memakai kata kerja yang sama untuk nikmat.
Ayat sebelumnya, 55:20, ditutup dengan (يَبْغِيَانِ, yabghiyaani), dan ayat ini ditutup dengan (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani). Keduanya kata kerja dengan akhiran -aani, akhiran untuk dua pelaku, dan keduanya berbunyi sama di ujung ayat. Bedanya ada di huruf depannya. Huruf ya- pada yabghiyaani menandai dua pihak yang sedang dibicarakan, yaitu dua laut. Huruf tu- pada tukadzdzibaani menandai dua pihak yang sedang diajak bicara, yaitu jin dan manusia. Kata kerja untuk dua laut didahului (لَا, laa), jadi perbuatannya ditiadakan. Kata kerja untuk dua pendengar tidak ditiadakan, dan diajukan sebagai pertanyaan.
Jarak dari kemunculan ketiga di 55:18 ke kemunculan ini adalah tiga ayat. Di surah ini jarak tiga ayat hanya terjadi empat kali dari tiga puluh jarak, yaitu dari 55:13 ke 55:16, dari 55:18 ke 55:21, dari 55:25 ke 55:28, dan dari 55:42 ke 55:45. Di 55:16, jarak tiga ayat terjadi karena dua hal berbeda disebut, manusia lalu jin. Di sini sebabnya lain. Isinya cuma dua laut, tetapi kalimatnya memerlukan dua ayat. Kata (بَيْنَهُمَا, baynahumaa) di 55:20 menunjuk balik ke dua laut di 55:19, jadi 55:19 dan 55:20 adalah satu kalimat. Refrain ini baru datang sesudah kalimat itu selesai.
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah menyebut pertemuan dua laut dan batasnya. Kali ini refrain menagih hal yang berbeda dari tiga kemunculan sebelumnya. Di 55:13 refrain menagih pengakuan atas benda-benda yang bisa dimakan dan dipegang. Di 55:16 keberadaan diri sendiri. Di 55:18 keteraturan arah terbit dan terbenam. Di sini ayat sebelumnya baru saja menyebut sesuatu yang tidak terjadi: dua laut yang tidak melampaui batasnya. Untuk pertama kalinya di surah ini, nikmat yang ditanyakan berupa sesuatu yang ditahan agar tidak terjadi.
Refrain ini juga tidak datang sesudah 55:19, ketika dua laut baru disebut bertemu. Refrain menunggu sampai batasnya disebut di 55:20. Dengan urutan itu, pertemuan saja tidak diajukan sebagai nikmat yang lengkap. Refrain menagih pengakuan atas pertemuan yang tetap berbatas, dua air yang bersentuhan tanpa saling menghapus.
Hitungan di atas memperlihatkan bahwa kata kerja mendustakan, di luar surah ini, dipakai untuk ayat-ayat, kebenaran, dan kabar tentang hari akhir. Dengan memakai kata kerja itu untuk nikmat, refrain ini memperlakukan setiap nikmat sebagai tanda. Dua laut yang tidak bercampur menunjuk kepada yang menahannya. Mendustakan nikmat itu berarti melihat tandanya lalu menolak apa yang ditunjuknya, lebih dari sekadar lupa berterima kasih.
Dua ayat terakhir juga memasangkan dua pasang pihak dengan bentuk kata kerja yang sama. Tentang dua laut dibuat pernyataan: keduanya tidak melampaui. Kepada jin dan manusia diajukan pertanyaan: nikmat mana yang kalian dustakan. Dua laut cukup dibicarakan. Refrain berbicara kepada dua golongan pendengar saja, dan jawaban diminta dari mereka saja.
Renungan dan Hikmah
- Sebagian besar nikmat Allah terasa karena ada sesuatu yang datang: makanan, hujan, kesembuhan. Nikmat yang ditagih di sini terasa karena ada sesuatu yang tidak datang. Air asin tidak masuk ke air tawar, dan laut tidak melampaui batasnya. Hari-hari ketika tidak ada yang runtuh, tidak ada yang meluap, dan tidak ada yang hilang jarang dicatat sebagai pemberian. Hari seperti itu biasanya disebut hari biasa. Berapa banyak hari biasa sebenarnya berisi sesuatu yang sedang ditahan agar tidak terjadi?
- Di ayat-ayat lain Al-Qur'an, kata kerja mendustakan dipakai untuk ayat dan kabar tentang hari akhir. Di sini kata kerja itu dipakai untuk nikmat. Maka nikmat tidak hanya dinikmati lalu habis. Nikmat juga menunjuk kepada Allah yang memberinya, sama seperti ayat menunjuk kepada Dia yang menurunkannya. Sesuatu bisa dinikmati setiap hari tanpa pernah dibaca apa yang ditunjuknya. Refrain ini mendekatkan kebiasaan menikmati tanpa membaca itu dengan mendustakan.
- Pertanyaan ini tidak datang sesudah dua laut bertemu. Pertanyaan itu baru datang sesudah batasnya disebut. Pertemuan yang tanpa batas tidak diajukan sebagai nikmat yang lengkap. Hubungan antarmanusia sering dinilai dari seberapa dekat dan seberapa sering bertemu. Urutan dua ayat ini memberi ukuran lain: apakah dalam kedekatan itu masing-masing tetap utuh? Allah menagih pengakuan atas pertemuan yang tetap menjaga batas, dan ukuran itu bisa dipakai juga untuk pertemuan-pertemuan yang dijalani sehari-hari.
- Tentang dua laut, Allah hanya membuat pernyataan: keduanya tidak melampaui batas. Kepada jin dan manusia, Dia mengajukan pertanyaan. Air tidak perlu ditanya karena sudah berada di dalam batasnya. Pertanyaan datang kepada pihak yang bisa menjawab, dan pihak yang bisa menjawab juga bisa menjawab dengan keliru. Ditanya itu kehormatan sekaligus beban. Kehormatan karena dianggap mampu menjawab, beban karena jawaban yang keliru tetap mungkin diberikan.
- Ini keempat kalinya pertanyaan yang sama diajukan, kata demi kata. Pengulangan mudah membuat telinga berhenti mendengar, dan kalimat yang sudah hafal cenderung dilewati. Tetapi setiap kali pertanyaan ini muncul, yang baru disebut sebelumnya berbeda: buah, penciptaan, arah matahari, lalu dua laut. Pertanyaan yang sama menjadi baru karena yang ditanyakan berubah. Kalau telinga mulai melewatinya, nikmat yang baru saja disebut Allah sebelum kalimat itu ikut terlewat.
- Batas sering dirasakan sebagai larangan, sesuatu yang mengurangi. Di sini batas masuk ke daftar nikmat, dan pengakuan atasnya ditagih sama seperti pengakuan atas buah dan biji-bijian. Batas yang dijaga Allah di antara dua laut membuat keduanya tetap ada sebagai dua. Tanpa batas itu, keduanya akan menjadi satu air yang tidak lagi bisa dibedakan. Adakah batas dalam hidup sendiri yang selama ini terasa sebagai kekangan, padahal batas itulah yang menjaga sesuatu tetap utuh?