فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein ketiga setelah penyebutan kedaulatan kosmik: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang menegaskan bahwa keteraturan arah mata angin dan pergerakan benda langit pun termasuk nikmat yang sering diabaikan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini mengulang refrain setelah menyebut kekuasaan atas timur dan barat pada ayat sebelumnya, yaitu tempat terbit dan tempat terbenam yang berpindah sepanjang tahun. Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan ketiga dari refrain yang sama, dengan bentuk kalimat, kata ganti dual, dan kata kerja yang sudah dibahas lengkap di 55:13. Jarak dari kemunculan sebelumnya (55:16) ke kemunculan ini hanya dua ayat, sebab hanya satu hal disebutkan di antara keduanya, yaitu 55:17 tentang dua tempat terbit dan dua tempat terbenam. Jarak dua ayat ini adalah pola yang akan menjadi yang paling sering terulang di sepanjang sisa refrain surah ini, dari tiga puluh kemunculan sesudah yang pertama, dua puluh enam di antaranya berjarak dua ayat, dan hanya empat yang berjarak tiga ayat.
Kalau kemunculan pertama menagih pengakuan atas pemberian-pemberian nyata (matahari, bulan, pohon, buah), dan kemunculan kedua menagih pengakuan atas keberadaan itu sendiri, kemunculan ketiga ini menagih sesuatu yang berbeda lagi sifatnya: keteraturan arah dan waktu, sesuatu yang abstrak, tidak bisa dipegang atau dimakan, hanya bisa diamati polanya dari tahun ke tahun. Tiga kemunculan pertama refrain ini, kalau dibaca berurutan, menagih tiga jenis nikmat yang berbeda wujudnya: benda-benda yang nyata di 55:13, keberadaan diri sendiri di 55:16, dan keteraturan alam yang abstrak di sini.
Ada satu pola tata bahasa yang layak dicatat di rentang ayat-ayat yang mengelilingi kemunculan ketiga ini. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada refrain sendiri sudah dibahas di 55:13, tapi kata benda dan kata kerja di sekitarnya, sejak 55:17, juga banyak yang berbentuk dual: (الْمَشْرِقَيْنِ, l-masyriqayni) dan (الْمَغْرِبَيْنِ, l-maghribayni) di ayat sebelumnya, lalu (الْبَحْرَيْنِ, l-bahrayni) dan (يَلْتَقِيَانِ, yaltaqiyaani) di ayat sesudah ini. Bentuk dual, khusus untuk pasangan berjumlah dua, jarang dipakai sepadat ini dalam rentang ayat yang begitu pendek di tempat lain dalam Al-Qur'an. Kepadatan bentuk dual ini menciptakan gema tata bahasa yang sejalan dengan kata ganti dual pada refrain itu sendiri, seakan seluruh rentang ayat ini, dari penyebutan dua tempat terbit dan terbenam sampai dua laut yang bertemu, sengaja dibingkai dengan bentuk kata yang sama persis dengan bentuk kata ganti yang menyapa dua golongan pendengarnya.
Kata kerja (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani) sendiri, sebagaimana kata ganti (كُمَا, -kumaa) yang mendahuluinya, berakhiran dual, bukan kebetulan tunggal yang diperluas maknanya, melainkan bentuk tata bahasa yang memang khusus dibuat untuk menyapa persis dua pihak sekaligus, tidak lebih, tidak kurang. Setiap kali pertanyaan ini diulang, termasuk di sini untuk ketiga kalinya, bentuk dualnya menegaskan ulang bahwa tuduhan mendustakan ini tidak bisa dilemparkan oleh satu golongan kepada golongan lain sebagai pihak yang bersih, sebab keduanya disapa dalam satu tarikan kata ganti yang sama, dimintai pertanggungjawaban yang sama, tanpa pengecualian bagi salah satu pihak.
Tafsiran
Kemunculan ketiga refrain ini menagih hal yang paling mudah dianggap remeh dari ketiganya: arah mata angin dan pergeserannya. Tidak seperti buah dan biji-bijian yang bisa dimakan atau dirasakan manfaatnya secara langsung, dan tidak seperti keberadaan diri sendiri yang setidaknya bisa direnungkan tanpa perlu bukti dari luar, keteraturan titik terbit dan terbenam matahari adalah sesuatu yang hanya kelihatan pola dan maknanya kalau diamati dari waktu ke waktu, sesuatu yang mudah dilewatkan begitu saja dalam rutinitas harian.
Menagih pengakuan atas hal seabstrak arah dan waktu, tepat sesudah menagih pengakuan atas benda-benda nyata dan keberadaan itu sendiri, menunjukkan bahwa daftar nikmat yang diuji surah ini tidak berhenti pada hal-hal yang mudah dirasakan. Keteraturan yang tidak terlihat mencolok, yang berjalan diam-diam di balik pergantian musim setiap tahun, tetap layak dipertanyakan sebagai sesuatu yang bisa saja didustakan begitu saja tanpa disadari.
Kepadatan bentuk kata dual di rentang ayat sekitar kemunculan ketiga ini, dua tempat terbit, dua tempat terbenam, dan sebentar lagi dua laut yang bertemu, membuat sapaan dual pada refrain terasa bukan kebetulan tata bahasa semata, melainkan bagian dari satu jalinan bunyi yang sengaja dirajut. Setiap kali telinga mendengar bentuk dual pada benda-benda di sekitar refrain, kata ganti dual pada pertanyaannya sendiri ikut bergema, seakan seluruh alam yang baru saja disebut, yang juga hadir berpasangan, turut menegaskan bahwa dua golongan pendengar yang disapa pertanyaan ini pun benar-benar dua, bukan satu suara yang kebetulan dijamakkan.
Renungan dan Hikmah
- Berbeda dari buah dan biji-bijian yang bisa dimakan, keteraturan arah terbit dan terbenam matahari tidak bisa dipegang atau dirasakan langsung manfaatnya. Ia hanya terlihat kalau diamati pola pergeserannya dari musim ke musim. Ada nikmat Allah yang wujudnya bukan benda, melainkan keteraturan yang berjalan diam-diam di balik rutinitas harian, dan justru karena diam-diam itulah ia paling jarang disadari sebagai pemberian yang perlu diakui, apalagi disyukuri dengan sadar setiap harinya.
- Tiga kemunculan pertama pertanyaan Allah ini, kalau dijajarkan, menagih tiga hal yang berbeda wujudnya: benda-benda nyata, keberadaan diri sendiri, dan keteraturan alam yang abstrak. Pertanyaan yang sama diajukan berulang, tapi setiap kali menagih jenis pengakuan yang berbeda. Nikmat ternyata tidak satu macam saja, dan yang paling mudah dilupakan justru yang paling sulit dirasakan secara langsung, bukan yang paling kecil ukurannya atau paling jarang hadir dalam keseharian.
- Sejak kemunculan ketiga ini, jarak dua ayat antar pertanyaan menjadi pola yang paling sering berulang di sepanjang sisa surah, satu hal disebutkan lalu langsung ditagih. Iramanya makin cepat dibanding dua kemunculan pertama, seakan memaksa pembaca merenungkan setiap pemberian satu per satu tanpa sempat menumpuknya menjadi daftar panjang yang direnungkan sekaligus di akhir, ketika mungkin sudah terlalu banyak untuk benar-benar diingat satu per satu.
- Matahari terbit dan terbenam setiap hari tanpa gagal, dan justru karena tidak pernah gagal, kejadian itu berhenti terasa sebagai sesuatu yang perlu disyukuri kepada Allah. Ayat ini menagih pengakuan tepat pada hal yang paling teratur dan karena itu paling mudah dianggap sudah semestinya begitu, seolah keteraturan yang sempurna justru menjadi alasan untuk berhenti mempertanyakannya sama sekali. Kalau sesuatu berjalan sempurna setiap hari tanpa pernah meleset, bukankah itu justru lebih pantas dipertanyakan asalnya, bukan kurang?
- Sesudah menyebut kepemilikan atas arah terbit dan terbenam, pertanyaan yang datang sama persis dengan yang menyusul penciptaan manusia dan jin sebelumnya. Betapa pun berbeda jenis hal yang baru disebut, pertanyaan yang mengikutinya tidak pernah berubah bentuk, seakan menegaskan bahwa satu ukuran yang sama berlaku untuk menguji rasa syukur atas hal sebesar apa pun, entah itu keberadaan diri sendiri atau keteraturan langit yang jauh.
- Setelah dua kemunculan sebelumnya berjarak tiga ayat, jarak dua ayat di sini terasa lebih rapat, seperti tempo yang mulai dipercepat. Sesuatu yang berulang dengan jarak yang semakin rapat cenderung terasa lebih mendesak, seakan tidak lagi memberi banyak ruang untuk menunda perenungan sebelum pertanyaan berikutnya datang, mendesak pembaca untuk tetap mengikuti tempo yang sama, bukan tempo yang dipilihnya sendiri.