رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ
Tuhan dua tempat terbit dan Tuhan dua tempat terbenam.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِrabbu l-masyriqayni wa-rabbu l-maghribayniTuhan dua tempat terbit dan Tuhan dua tempat terbenam
Terjemahan per kata (4 kata)
- رَبُّrabbuTuhan
- الْمَشْرِقَيْنِl-masyriqaynidua timur
- وَرَبُّwa-rabbudan Tuhan
- الْمَغْرِبَيْنِl-maghribaynidua barat
Inti bacaan
Kedaulatan menyeluruh atas arah: 'Tuhan dua tempat terbit dan Tuhan dua tempat terbenam', cakupan kendali yang meliputi variasi musiman titik terbit-terbenam matahari, detail astronomis yang menegaskan kendali menyeluruh tanpa celah.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ, rabbu l-masyriqayni wa-rabbu l-maghribayni). Kalimatnya berupa kalimat nominal murni, tanpa kata kerja sama sekali, sehingga tidak ada kata "adalah" atau "Dialah" yang bisa disisipkan tanpa menambah sesuatu yang tidak ada di teks asli. Subjeknya, Allah, sudah ditegakkan oleh dua ayat penciptaan sebelumnya sebagai pelaku kata kerja (خَلَقَ, khalaqa), dan ayat ini melanjutkan menyebut sifat-Nya tanpa mengulang kata kerja itu lagi.
Kata (الْمَشْرِقَيْنِ, l-masyriqayni) dan (الْمَغْرِبَيْنِ, l-maghribayni) sama-sama berbentuk dual, "dua tempat terbit" dan "dua tempat terbenam", bukan bentuk tunggal atau jamak. Lema (ma$oriq, "tempat terbit") muncul sebelas kali di seluruh Al-Qur'an dalam tiga bentuk jumlah yang berbeda: enam kali bentuk tunggal (2:115, 2:142, 2:177, 2:258, 26:28, 73:9), tiga kali bentuk jamak (7:137, 37:5, 70:40), dan hanya dua kali bentuk dual, yaitu di ayat ini dan di 43:38. Lema pasangannya, (magorib, "tempat terbenam"), muncul sembilan kali: enam bentuk tunggal (2:115, 2:142, 2:258, 18:86, 26:28, 73:9), dua bentuk jamak (7:137, 70:40), dan hanya satu kali bentuk dual, yaitu di ayat ini sendiri. Ayat ini adalah satu-satunya tempat di seluruh Al-Qur'an yang menyandingkan bentuk dual keduanya sekaligus sebagai gelar kembar bagi Allah.
Kemunculan dual lain untuk (الْمَشْرِقَيْنِ, l-masyriqayni), di 43:38, dipakai dengan cara yang sama sekali berbeda: (يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ, yaa layta baynii wa-baynaka bu'da l-masyriqayni), "aduhai, sekiranya antara aku dan engkau ada jarak sejauh timur dan barat", diucapkan seorang pendamping yang menyesal karena telah menyesatkan temannya di akhirat. Di sana, dual "dua tempat terbit" dipakai sebagai ungkapan jarak sejauh mungkin antara dua orang, sebuah kiasan kemarahan dan penyesalan. Di ayat ini, bentuk dual yang sama justru dipakai sebagai gelar kepemilikan kosmis yang tenang, bukan kiasan jarak, melainkan penegasan bahwa titik terbit dan terbenam yang berpindah sepanjang tahun tetap berada dalam genggaman satu Tuhan yang sama.
Bentuk dual ini paling wajar dipahami sebagai rujukan pada titik terbit dan terbenam matahari yang bergeser sepanjang musim, bukan matahari yang terbit dua kali. Sepanjang setahun, titik matahari terbit dan tenggelam bergeser dari satu ujung cakrawala ke ujung yang lain dan kembali lagi, sehingga secara kasar ada dua titik ekstrem, paling utara dan paling selatan, yang menandai pergeserannya.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian tiga ayat, 55:15 sampai 55:17, yang bergerak dari penciptaan dua golongan makhluk menuju kepemilikan atas ruang dan waktu tempat mereka hidup. Sesudah menyebut siapa yang diciptakan, ayat ini menyebut kerangka yang membatasi hidup mereka setiap hari: matahari yang selalu terbit dan selalu terbenam, dengan titik yang bergeser teratur sepanjang tahun, tapi tidak pernah lepas dari satu kepemilikan yang sama.
Yang menarik dari cara ayat ini menyebutkan Allah adalah pemilihan rincian yang sangat kecil, bukan matahari itu sendiri sebagai benda, melainkan titik geraknya yang berubah-ubah sepanjang musim. Rincian sekecil pergeseran titik terbit dan terbenam ini dipilih sebagai bukti kekuasaan, bukan sesuatu yang mencolok seperti gerhana atau badai, melainkan keteraturan musiman yang berulang setiap tahun dan karena keteraturannya justru jarang diperhatikan sebagai tanda. Ayat sebelumnya, di 43:38, memakai bentuk kata yang sama persis untuk menggambarkan jarak sejauh mungkin antara dua pihak yang bermusuhan di akhirat, sebuah kiasan tentang keterpisahan yang menyakitkan. Ayat ini membalik nada kata yang sama itu sepenuhnya, dari kiasan jarak yang menyesakkan menjadi penegasan kepemilikan yang tenang atas pergeseran alam yang teratur.
Renungan dan Hikmah
- Titik matahari terbit dan terbenam bergeser sepanjang tahun, tidak pernah tetap di satu tempat. Ayat ini menyebut pergeseran itu sendiri, bukan matahari yang diam, sebagai milik yang dipegang satu Tuhan yang sama. Sesuatu yang terus berubah letaknya ternyata tetap berada dalam satu genggaman yang tidak pernah berubah, seolah perubahan yang tampak dari luar tidak pernah benar-benar melepaskan diri dari satu kendali yang tetap.
- Bukan gerhana atau badai yang disebut Allah sebagai tanda pada ayat ini, melainkan sesuatu sekecil pergeseran titik terbit matahari dari musim ke musim, hal yang terlalu biasa untuk terasa sebagai keajaiban. Keteraturan yang berulang setiap tahun justru paling mudah luput dari perhatian, karena kehadirannya yang konsisten membuatnya kehilangan kesan sebagai sesuatu yang patut ditanyakan. Kalau keteraturan sekecil ini saja layak jadi tanda, berapa banyak keteraturan lain di sekitar yang belum pernah dipikirkan sebagai bukti?
- Bentuk kata "dua tempat terbit" yang sama dipakai di ayat lain sebagai kiasan jarak paling menyakitkan antara dua orang yang bermusuhan. Di sini, kata yang sama justru menjadi penegasan kepemilikan yang tenang atas keteraturan alam. Satu kata bisa membawa dua nada yang sangat berbeda, bergantung pada siapa yang mengucapkannya dan dalam keadaan apa, sebuah pengingat bahwa makna sebuah kata tidak pernah berdiri sendiri lepas dari siapa yang mengatakannya dan kepada siapa.
- Ayat ini tidak menyebut satu titik geografis yang bernama, hanya arah dan pergeserannya. Sesuatu yang tidak punya nama sendiri, yang setiap orang alami tanpa pernah menganggapnya istimewa, tetap diberi kedudukan sebagai bukti kekuasaan. Bukan hanya hal-hal besar dan bernama yang layak diperhatikan sebagai tanda, melainkan juga hal-hal yang begitu umum sehingga tidak seorang pun repot memberinya nama khusus.
- Titik terbit paling utara dan paling selatan sepanjang tahun adalah dua ujung yang berjauhan, tapi keduanya tetap disebut sebagai milik satu Tuhan yang sama, tidak terbagi menjadi dua kekuasaan yang berbeda untuk dua ujung yang berbeda. Jarak paling jauh sekalipun tidak melampaui satu batas kepemilikan yang sama, sebagaimana dua ujung mana pun dari sesuatu yang teratur tetap tunduk pada satu aturan yang sama, betapa pun jauh jarak yang memisahkan kedua ujungnya.
- Ayat ini tidak berkata "Dialah pemilik dua tempat terbit", hanya menyebut gelarnya langsung tanpa kata penghubung sama sekali. Cara menyebut ini terasa lebih seperti pengakuan yang sudah selesai, bukan pernyataan yang baru diperkenalkan. Sesuatu yang sudah pasti kadang tidak butuh kalimat panjang untuk ditegaskan, cukup disebut namanya, sebagaimana orang tidak perlu menjelaskan panjang lebar sesuatu yang sudah dianggap tidak terbantahkan, cukup menyebutnya sekali dan membiarkan kenyataan itu berbicara sendiri.