فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein kedua setelah penciptaan manusia dan jin: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang kini menyoroti nikmat eksistensi itu sendiri, penegasan bahwa keberadaan pun merupakan anugerah yang mudah dilupakan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kedua dari tiga puluh satu pengulangan refrain yang sama persis di seluruh surah ini. Uraian tentang bentuk pertanyaannya, kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) yang menyapa jin dan manusia bersama, kata kerja (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani) yang berarti mendustakan bukan sekadar meragukan, dan hitungan penuh kata (آلَاءِ, aalaa'i) beserta rinciannya, sudah dipaparkan lengkap di 55:13 dan berlaku sama persis di sini. Yang belum dibahas di sana, dan menjadi fokus di sini, adalah posisi kemunculan kedua ini dalam pola pengulangannya.
Refrain ini muncul tiga puluh satu kali, pada ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77. Jarak antar kemunculannya hampir selalu dua ayat, satu hal disebut lalu ditagih, tapi ada beberapa jarak tiga ayat yang berarti dua hal disebutkan sebelum ditagih sekaligus. Jarak dari kemunculan pertama (55:13) ke kemunculan ini (55:16) adalah tiga ayat, sebab dua hal disebutkan berurutan sebelum pertanyaan ini diajukan lagi: penciptaan manusia (55:14) dan penciptaan jin (55:15). Ini berbeda dari kemunculan pertama, yang datang sesudah sembilan ayat pendahuluan berisi matahari, bulan, bintang, pohon, langit, timbangan, bumi, buah, dan biji-bijian, semuanya pemberian yang berada di luar diri kedua golongan yang disapa.
Di sini, untuk pertama kalinya dalam pola pengulangan surah ini, yang baru saja disebut sebelum pertanyaan ditagih bukan sesuatu yang diberikan kepada jin dan manusia, melainkan keberadaan jin dan manusia itu sendiri, lengkap dengan bahan penciptaannya masing-masing. Sembilan ayat sebelum kemunculan pertama refrain ini semuanya berbicara tentang dunia di luar kedua golongan itu. Dua ayat sebelum kemunculan kedua ini justru berbicara tentang kedua golongan itu sendiri, dari apa mereka dibuat. Pertanyaan yang sama, "nikmat mana yang kalian dustakan", kini diajukan tepat sesudah asal-usul si penerima pertanyaan itu sendiri baru saja dirinci.
Kalau seluruh tiga puluh satu kemunculan refrain ini dibaca sebagai satu rangkaian, kemunculan kedua ini menempati posisi paling awal yang mungkin untuk sebuah pertanyaan seberat ini: bukan sesudah daftar kenikmatan dunia yang panjang seperti kemunculan pertama, dan jauh sebelum kemunculan-kemunculan terakhir yang, di bagian akhir surah, akan menagih pengakuan atas balasan kekal di taman-taman surga. Di antara dua ujung itu, pengakuan atas hal paling nyata di dunia dan pengakuan atas balasan paling jauh di akhirat, ayat ini berdiri di titik paling dekat dengan permulaan segalanya: pengakuan atas keberadaan diri sendiri sebagai makhluk ciptaan.
Tafsiran
Pengulangan kedua dari refrain ini mengubah arah tagihannya tanpa mengubah satu kata pun dari kalimatnya. Kemunculan pertama menagih pengakuan atas pemberian-pemberian besar di luar diri, matahari dan bulan, timbangan dan bumi. Kemunculan ini, datang tepat sesudah penciptaan manusia dan jin dirinci bahannya, menagih sesuatu yang jauh lebih mendasar: pengakuan atas keberadaan itu sendiri sebagai pemberian, bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya atau menjadi hak yang melekat begitu saja pada siapa pun yang ada.
Keberadaan biasanya adalah hal terakhir yang dipikirkan sebagai nikmat, justru karena ia mendahului segala sesuatu yang lain. Seseorang bisa bersyukur atas rezeki, kesehatan, atau keluarga, tapi jarang berhenti untuk bersyukur atas fakta bahwa ia ada sama sekali, sebab syarat untuk bersyukur, yaitu keberadaan dirinya sendiri, sudah terpenuhi sebelum ia sempat mempertanyakannya. Ayat ini, dengan menempatkan pertanyaan yang sama persis tepat sesudah dua ayat penciptaan, menolak membiarkan keberadaan lolos dari daftar yang ditagih. Dua golongan yang bahannya begitu berbeda, tanah dan nyala api, disatukan oleh pertanyaan yang sama tentang hal yang sama: apakah keberadaan mereka sendiri diakui sebagai pemberian, atau justru didustakan seakan-akan itu bukan apa-apa.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan yang sama diulang di sini, tapi kali ini sesudah dua ayat yang menyebutkan asal-usul jin dan manusia sendiri, bukan sesudah daftar pemberian dari luar. Sebelum ditanya tentang rezeki, kesehatan, atau apa pun yang diterima sepanjang hidup, yang lebih dulu ditagih justru fakta bahwa dirinya ada sama sekali. Pernahkah keberadaan diri sendiri terasa sebagai pemberian, bukan sekadar keadaan yang sudah ada begitu saja sejak lahir, sesuatu yang baru disadari sebagai anugerah justru ketika dibayangkan tiadanya?
- Manusia dari tanah, jin dari nyala api, dua bahan yang tidak bisa lebih berlawanan. Tapi pertanyaan Allah yang mengikuti keduanya sama persis, tanpa dibedakan sedikit pun. Perbedaan bahan penciptaan tidak menghasilkan perbedaan kewajiban untuk mengakui bahwa keberadaan itu sendiri adalah pemberian-Nya, sebesar apa pun jarak antara satu wujud dengan wujud lainnya, sebuah pengingat bahwa kesamaan kewajiban tidak selalu memerlukan kesamaan wujud terlebih dulu.
- Nikmat yang baru saja disebut sebelum pertanyaan ini bukan sesuatu yang bisa dipilih untuk diterima atau ditolak, melainkan keberadaan itu sendiri, syarat yang harus lebih dulu dianugerahkan Allah sebelum apa pun yang lain bisa dirasakan. Justru karena ia mendahului segala sesuatu, ia yang paling jarang disyukuri sebagai pemberian-Nya. Sesuatu yang selalu ada sejak sebelum kesadaran dimulai mudah terasa seperti bukan pemberian sama sekali, melainkan bagian dari diri yang seolah tidak pernah punya alternatif untuk tidak ada.
- Jarak tiga ayat antara pertanyaan pertama dan kedua ini, alih-alih dua ayat seperti kebanyakan pengulangan berikutnya, menandai bahwa dua hal disebutkan sekaligus sebelum pertanyaan Allah ditagih, penciptaan manusia dan penciptaan jin. Pola pengulangan yang akan berulang tiga puluh satu kali di surah ini baru mulai terbentuk di titik ini, dan bentuk awalnya justru menagih hal paling dasar lebih dulu sebelum berpindah ke hal-hal yang lebih terlihat dan lebih mudah dirasakan langsung manfaatnya.
- Kemunculan pertama pertanyaan ini menunggu sembilan ayat pemberian selesai disebutkan lebih dulu. Kemunculan kedua ini hanya menunggu dua ayat, penciptaan dua golongan makhluk. Pertanyaan ini tidak butuh daftar yang panjang untuk mulai ditagih; cukup satu fakta, bahwa sesuatu telah diciptakan, untuk pertanyaan tentang pengakuan atasnya layak diajukan kembali, betapa pun singkat pengantar yang mendahuluinya.
- Kalau daftar nikmat dalam surah ini dibaca berurutan sejak awal, dua hal pertama yang diuji Allah dengan pertanyaan yang sama bukanlah matahari atau bulan yang jauh, melainkan keberadaan jin dan manusia sendiri. Ujian tentang rasa syukur ternyata dimulai bukan dari sesuatu yang jauh di luar sana, melainkan dari diri yang mempertanyakannya, jauh sebelum pertanyaan itu sempat diarahkan ke hal-hal yang lebih mudah dilihat dari luar dirinya.