وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

dan Dia menciptakan jin dari nyala api,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَخَلَقَ الْجَانَّwa-khalaqa l-jaannadan Dia menciptakan jin
  2. مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍmin maarijin min naarindari nyala api

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَخَلَقَwa-khalaqadan Dia menciptakan
  2. الْجَانَّl-jaannajin
  3. مِنْmindari
  4. مَارِجٍmaarijinnyala api
  5. مِنْmindari
  6. نَارٍnaarinapi

Inti bacaan

Penciptaan makhluk gaib disebutkan sejajar: 'Dia menciptakan jin dari nyala api', pengakuan eksistensi makhluk lain di luar jangkauan indra manusia, memperluas cakrawala pemahaman tentang keragaman ciptaan yang tidak terbatas pada yang terlihat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ, wa-khalaqa l-jaanna min maarijin min naarin). Kata kerja (خَلَقَ, khalaqa) di sini menyambung langsung dari ayat sebelumnya (خَلَقَ الْإِنْسَانَ, khalaqa l-insaana), disatukan huruf sambung (وَ, wa-) tanpa jeda kalimat baru, sehingga dua penciptaan ini bukan dua pernyataan terpisah melainkan satu pasangan yang sengaja dibacakan berurutan: manusia lalu jin, keduanya kena kata kerja yang sama, keduanya berbentuk objek definit (الْإِنْسَانَ lalu الْجَانَّ, sama-sama berkata sandang, sama-sama berkedudukan objek).

Kata (الْجَانَّ, l-jaanna) berasal dari akar j-n-n. Lemanya (jaA^n~ dalam ejaan morfologi) muncul tujuh kali di seluruh Al-Qur'an: 15:27, 27:10, 28:31, 55:15 (ayat ini), 55:39, 55:56, dan 55:74. Lima dari tujuh kemunculan itu (15:27, 55:15, 55:39, 55:56, dan 55:74) memakai kata ini untuk menyebut golongan jin sebagai makhluk, sering disandingkan dengan (إِنْسٌ, insun) "manusia" seperti pada 55:39 (فَيَوْمَئِذٍ لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلَا جَانٌّ, "pada hari itu tidak ditanya dosanya seorang manusia pun dan tidak jin"). Dua kemunculan lain (27:10 dan 28:31) memakai kata yang sama persis, bukan bentuk lain, untuk menggambarkan tongkat Musa yang berubah wujud: (كَأَنَّهَا جَانٌّ, ka-annahaa jaannun) "seakan-akan ia seekor jaann", dipakai tepat pada saat tongkat itu bergerak cepat dan berkelok sehingga Musa lari ketakutan. Karena kedua pemakaian ini leksemnya sama persis, bukan kata yang kebetulan mirip bunyi, kata (الْجَانَّ, l-jaanna) membawa jejak makna "sesuatu yang gesit, berkelok, sulit ditangkap mata" ke mana pun ia dipakai, entah menamai golongan makhluk atau menggambarkan gerak seekor ular. Ini catatan tentang jangkauan kata, bukan klaim tentang alasan pemilihannya di ayat ini.

Kata (مَارِجٍ, maarijin) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, tepat di ayat ini, berasal dari akar m-r-j. Bahannya disebut lewat frasa (مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ, min maarijin min naarin), "dari nyala api". Akar ini membentuk empat kata dengan leksem berbeda-beda di seluruh Al-Qur'an: kata benda (مَارِجٍ, maarijin) pada ayat ini sendiri, kata kerja (مَرَجَ, maraja) di 25:53 dan di 55:19 (dua ayat lagi di blok ini), dengan frasa yang persis sama, "mengalirkan dua laut"; kata sifat (مَرِيجٍ, mariijin) di 50:5, menggambarkan "keadaan yang kacau"; dan kata benda lain, (مَرْجَانُ, marjaanu), di 55:22 dan 55:58, nama batu karang. Empat leksem ini, satu kata benda pada ayat ini, satu kata kerja, satu kata sifat, dan satu kata benda lain, berbeda-beda bentuknya, tapi akarnya sama, dan benang yang menyambung semuanya adalah gagasan sesuatu yang dilepas mengalir atau bercampur, entah dua air laut yang dibiarkan bertemu, keadaan yang kacau tak terkendali, atau nyala api yang lidahnya bergerak-gerak. Kata (مَارِجٍ, maarijin) pada ayat ini, sebagai bentuk pelaku aktif dari akar itu, paling wajar dibaca sebagai nyala yang bergerak, api yang lidahnya menjilat-jilat tanpa asap, bukan bara yang diam.

Ada ayat pembanding yang menyebut bahan jin dengan kata lain: (وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ, wa-l-jaanna khalaqnaahu min qablu min naari s-samuumi, 15:27), "dan jin, Kami telah menciptakannya sebelumnya dari api yang sangat panas". Kata (سَمُومِ, samuumi) di sana muncul hanya dua kali di seluruh Al-Qur'an: di 15:27 ini, dan di 52:27, tempat kata yang sama dipakai untuk azab yang dijauhkan dari orang-orang beriman (وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ, "dan menjaga kami dari azab yang sangat panas"). Ayat ini dan 15:27 sama-sama menegaskan asal jin dari api, tapi memakai dua kata sifat api yang berbeda, (مَارِجٍ, maarijin) di sini dan (سَمُومِ, samuumi) di 15:27, dua rincian yang saling melengkapi, bukan bertentangan, tentang satu bahan yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menempatkan penciptaan jin persis sesudah penciptaan manusia di 55:14, tanpa jeda kalimat baru, sebelum satu pun nikmat luar disebutkan pada ayat-ayat berikutnya. Sebelum surah ini bertanya nikmat mana yang hendak didustakan, ia dulu memperkenalkan siapa yang ditanya: dua jenis makhluk berakal, satu dari tanah yang diam dan bisa dipegang, satu dari nyala yang bergerak dan tak kelihatan. Kesejajaran kata kerja (خَلَقَ, khalaqa) yang sama untuk keduanya menegaskan bahwa perbedaan bahan tidak berarti perbedaan kedudukan sebagai makhluk ciptaan.

Perbandingan bahan kedua ayat ini tajam sekali kalau dibaca berdampingan. Manusia dari (صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ, shalshaalin ka-l-fakhkhaari), tanah kering yang berbunyi seperti tembikar, sesuatu yang padat, sudah dibentuk, bisa disentuh dan tahan lama seperti pot yang sudah dibakar. Jin dari (مَارِجٍ مِنْ نَارٍ, maarijin min naarin), nyala yang bergerak, sesuatu yang justru paling sulit ditangkap dan paling cepat berubah bentuk. Kalau bahan manusia mengarah pada citra sesuatu yang tetap dan kelihatan, bahan jin mengarah pada citra sesuatu yang gesit dan tak kelihatan, sejalan dengan kata (الْجَانَّ, l-jaanna) itu sendiri yang di tempat lain menggambarkan gerak cepat seekor ular. Nyala api tanpa asap yang disebut di sini pun secara alami sulit dipegang mata: ia menyala, berkelok, lalu padam, berbeda sekali dari tembikar yang tetap berbentuk selama tidak dipecahkan.

Menyebut jin secara eksplisit, dengan bahan penciptaannya sendiri, di tempat yang sama dengan penyebutan manusia, adalah pengakuan bahwa makhluk yang tidak terlihat pun termasuk dalam daftar ciptaan yang akan disapa nanti oleh pertanyaan "nikmat Tuhan kalian yang manakah". Ayat berikutnya akan mengulang pertanyaan itu justru sesudah dua ayat penciptaan ini, membuat keberadaan itu sendiri, bagi kedua golongan, menjadi hal pertama yang harus dipertanggungjawabkan sebelum nikmat-nikmat lain disebutkan satu per satu.

Renungan dan Hikmah

  • Jin tidak disebut sekilas atau digabung diam-diam ke dalam kata "makhluk". Allah memberinya ayat sendiri, kata kerja penciptaan sendiri, dan bahan penciptaan sendiri, persis seperti manusia satu ayat sebelumnya. Sesuatu yang tak pernah bisa dilihat mata justru dicatat dengan kejelasan yang sama seperti sesuatu yang setiap hari dipegang tangan. Berapa banyak hal yang nyata keberadaannya justru luput dari perhatian karena tidak pernah bisa dilihat langsung, dan berapa banyak yang justru sebaliknya, dianggap penting hanya karena mudah dilihat?
  • Manusia diciptakan Allah dari tanah kering yang bisa dipegang dan bertahan lama. Jin diciptakan-Nya dari nyala yang bergerak, berkelok, lalu padam. Dua bahan yang berlawanan sifatnya, disebut berurutan oleh kata kerja yang sama, seakan menegaskan bahwa kesamaan sebagai ciptaan tidak menuntut kesamaan wujud. Sesuatu yang gesit dan sulit dipegang tetap sama berhaknya disebut ciptaan dibanding sesuatu yang diam dan kelihatan, sebuah pengingat bahwa kedudukan sebagai ciptaan tidak diukur dari seberapa mudah sesuatu itu dipahami atau digenggam.
  • Kata yang menggambarkan nyala api pada ayat ini tidak dipakai lagi di ayat mana pun di seluruh Al-Qur'an. Satu bahan penciptaan, satu kata yang khusus untuknya, tidak dipinjamkan ke tempat lain. Ada hal-hal yang memang hanya perlu disebut sekali, tapi sekali itu cukup untuk menandainya selamanya, tanpa harus diulang berkali-kali agar terasa penting.
  • Api yang disebut sebagai asal jin, dengan kata sifat yang berbeda, juga muncul di ayat lain sebagai gambaran azab yang dijauhkan dari orang beriman. Bahan yang sama bisa menjadi asal sesuatu yang diciptakan dan juga menjadi gambaran hukuman, bergantung pada bagaimana ia dipakai. Sesuatu tidak otomatis buruk hanya karena unsur pembentuknya pernah dipakai dalam konteks yang berat, sebagaimana sesuatu juga tidak otomatis aman hanya karena kelihatan biasa.
  • Akar kata yang membentuk nama bahan penciptaan jin di sini akan muncul lagi tak lama kemudian dalam surah yang sama, menggambarkan dua laut yang dibiarkan mengalir bertemu, dan juga nama batu karang yang indah. Satu benang kata yang sama menjahit citra nyala api, air yang mengalir, dan permata, tiga hal yang tampak tidak berhubungan sama sekali sampai ditelusuri asal katanya. Kadang benang yang menyambung satu hal ke hal lain tidak terlihat sampai ditelusuri sampai ke akarnya, dan yang tampak berjauhan ternyata pernah berasal dari satu sumber yang sama.
  • Sebelum satu pun nikmat dari luar disebutkan, Allah lebih dulu menyebutkan siapa yang diciptakan-Nya, di ayat ini dan ayat sebelumnya. Pertanyaan tentang nikmat mana yang hendak didustakan, yang akan datang segera sesudah ini, ternyata dialamatkan bukan kepada sosok abstrak, melainkan kepada dua golongan yang keberadaannya sendiri baru saja dirinci bahannya satu per satu. Sebelum ditanya tentang apa yang diterima, lebih dulu ditegaskan siapa yang menerimanya, seakan tidak ada gunanya membicarakan pemberian sebelum jelas kepada siapa pemberian itu ditujukan.