Ayat 55:14

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. خَلَقَ الْإِنْسَانَkhalaqa l-insaanaDia menciptakan manusia
  2. مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِmin shalshaalin ka-l-fakhkhaaridari tanah kering seperti tembikar

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. خَلَقَkhalaqamenciptakan
  2. الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
  3. مِنْmindari
  4. صَلْصَالٍshalshaalintanah liat kering
  5. كَالْفَخَّارِka-l-fakhkhaariseperti tembikar

Inti bacaan

Asal-usul rendah hati manusia: 'Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar', pengingat material dasar penciptaan yang sederhana, dasar untuk tidak menyombongkan diri atas keberadaan yang berasal dari bahan serendah tanah liat kering.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ, khalaqa l-insaana min shalshaalin ka-l-fakhkhaari). Bentuk kalimat "Dia menciptakan manusia" sudah dibahas di 55:3, ayat yang menyebutkan pola yang sama muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:4, 55:3, 55:14, dan 96:2, dan menjelaskan mengapa 55:3 sendiri tidak menyebut bahannya sementara tiga tempat lain, termasuk ayat ini, selalu menyebutkannya. Penjelasan di sini berhenti pada apa yang belum dibahas di sana, yaitu bahan penciptaan itu sendiri, (مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ, min shalshaalin ka-l-fakhkhaari).

Kata (صَلْصَال, shalshaal) berasal dari akar ص-ل-ص-ل, akar empat huruf yang jarang, dan muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an: tiga kali di surah Al-Hijr, 15:26, 15:28, dan 15:33, serta sekali di sini. Di ketiga tempat pada surah Al-Hijr, kata ini selalu disusul frasa (مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ, min hama-in masnuunin), "dari lumpur hitam yang dibentuk", menjelaskan proses dua tahap, lumpur yang dibentuk lebih dulu, lalu mengering menjadi tanah liat yang berbunyi kalau diketuk. Ayat ini, satu-satunya dari empat kemunculan itu yang berada di luar surah Al-Hijr, tidak mengulang frasa "lumpur yang dibentuk" itu. Sebagai gantinya, ayat ini menambahkan perbandingan yang tidak ada di tiga tempat lain, yaitu (كَالْفَخَّارِ, ka-l-fakhkhaari).

Kata (فَخَّار, fakhkhaar) berarti "tembikar", benda tanah liat yang sudah dibakar dan mengeras. Bentuk kata ini, dengan makna tembikar, hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, tepat di ayat ini. Akar yang sama, ف-خ-ر, muncul di beberapa ayat lain, tetapi dengan kata yang berbeda dan makna yang sama sekali lain: (فَخُورٍ, fakhuurin) pada 31:18 berarti "sombong" atau "suka membanggakan diri", bentuk yang muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:36, 11:10, 31:18, dan 57:23, dan (تَفَاخُرٌ, tafaakhurun) pada 57:20 berarti "saling membanggakan diri", hanya muncul satu kali, tepat di ayat itu. Huruf akarnya sama, tetapi kata yang terbentuk darinya berbeda makna sama sekali, satu tentang benda tanah liat yang dibakar, satu lagi tentang sikap membanggakan diri. Keduanya tidak berhubungan makna meskipun berbagi huruf akar yang sama.

Perbandingan "seperti tembikar" ini menambahkan sesuatu yang tidak disampaikan oleh kata "tanah liat kering" saja. Tembikar adalah tanah liat yang sudah melalui proses pembakaran, mengeras, dan berbunyi nyaring kalau diketuk, berbeda dari tanah liat basah yang lembek atau tanah kering yang rapuh tanpa dibakar. Perbandingan ini memberi gambaran yang bisa dipahami secara langsung oleh siapa pun yang pernah melihat atau memegang benda tembikar, sesuatu yang keras, kering, dan bersuara ketika disentuh, sebuah gambaran yang lebih hidup daripada sekadar menyebut jenis tanahnya.

Tafsiran

Ayat ini adalah kemunculan kedua penciptaan manusia di surah ini, dan sebagaimana sudah dijelaskan di 55:3, kali ini bahannya disebutkan, berbeda dari kemunculan pertama yang berhenti pada penciptaannya saja. Yang paling berbicara dari ayat ini bukan fakta bahwa manusia diciptakan dari tanah, karena itu sudah dikenal luas, melainkan pilihan perbandingannya, yaitu seperti tembikar, benda yang sudah dibakar dan mengeras, bukan sekadar tanah kering biasa.

Ayat ini juga berdiri sebagai separuh pertama dari sebuah pasangan. Ayat berikutnya, 55:15, menyebut penciptaan jin dari nyala api, dan dua ayat ini bersama-sama menyajikan dua bahan yang berlawanan sifatnya, tanah yang padat dan keras melawan api yang menyala dan bergerak. Allah yang sama menciptakan kedua golongan ini dari dua bahan yang sama sekali berbeda, sesudah sembilan ayat yang berbicara tentang alam semesta dan sesaat sebelum surah ini menyapa kedua golongan itu bersama-sama sebagai dua golongan yang berat pada 55:31 dan jin dan manusia pada 55:33. Penyebutan bahan penciptaan yang berbeda ini mendahului penyapaan bersama itu, seakan menegaskan bahwa dua golongan yang berbeda asal-usulnya ini tetap disapa dengan pertanyaan yang sama tentang nikmat yang sama, dan tetap sama-sama berhutang jawaban atas pertanyaan yang akan diulang tiga puluh satu kali.

Renungan dan Hikmah

  • Bahan yang disebut ayat ini begitu mudah ditemukan dan begitu akrab dalam keseharian, sesuatu yang bisa diinjak, dipegang, atau dibentuk tangan siapa pun. Dari bahan seakrab itu, Allah membentuk makhluk yang kemudian diberi akal, bahasa, dan kesanggupan menjelaskan, sebagaimana disebutkan di tiga ayat pembuka surah ini. Berapa sering kesanggupan berbahasa dan menalar itu dianggap datang dengan sendirinya, padahal jarak antara bahan awalnya yang begitu biasa dan kesanggupan yang begitu tidak biasa itu jauh lebih lebar daripada yang terasa sehari-hari?
  • Tembikar dikenal karena bunyinya yang nyaring ketika diketuk, berbeda dari tanah basah yang tidak bersuara. Perbandingan ini memberi gambaran yang bisa dirasakan langsung, sesuatu yang keras dan kering, bukan sekadar disebut sebagai jenis tanah. Setiap kali tembikar terlihat atau tersentuh dalam keseharian, ada pengingat kecil yang tersedia tentang dari apa manusia ini pertama kali dibentuk oleh Allah, pengingat yang tidak memerlukan tempat khusus untuk ditemukan, karena benda tanah liat semacam itu ada di mana-mana.
  • Ayat ini menyebut manusia dibentuk dari tanah yang padat, sedangkan ayat berikutnya akan menyebut jin dibentuk dari nyala api yang bergerak, dua bahan yang sifatnya saling berlawanan. Allah yang sama menciptakan kedua golongan ini dari dua bahan yang sama sekali berbeda, lalu tetap menyapa keduanya dengan pertanyaan yang sama tentang nikmat yang mereka terima, sebagaimana akan disebutkan beberapa ayat sesudah ini. Perbedaan bahan penciptaan ini tidak menghasilkan perbedaan kedudukan di hadapan pertanyaan yang sama itu.
  • Manusia sudah disebut penciptaannya sejak 55:3, tetapi bahannya baru disebutkan di sini, sebelas ayat kemudian, sesudah serangkaian pemberian lain disebutkan lebih dulu, matahari, bulan, bintang, langit, bumi, dan segala isinya. Urutan ini menempatkan penyebutan bahan penciptaan manusia bukan di awal yang paling menonjol, melainkan menyisip di antara daftar pemberian yang lain, seakan Dia hendak menunjukkan bahwa manusia hanyalah satu dari sekian banyak yang diciptakan dan diberi tempat di bumi ini.
  • Tanah tidak menjadi tembikar dengan sendirinya, ia perlu dibentuk dan melalui proses sebelum mengeras menjadi bentuk yang berguna. Perbandingan yang dipakai ayat ini menyiratkan proses serupa pada asal manusia, sesuatu yang dibentuk secara sengaja, bukan terjadi begitu saja tanpa tujuan. Tuhan yang membentuk manusia dari tanah yang serupa tembikar itu membentuknya dengan maksud, bukan kebetulan.
  • Tembikar terdengar keras dan kuat ketika diketuk, tetapi justru karena itu ia juga mudah pecah kalau terbentur dengan cukup keras, berbeda dari tanah liat basah yang lentur dan tidak mudah retak. Perbandingan ini menyimpan dua sisi sekaligus, kekuatan yang terdengar dari bunyinya dan kerapuhan yang tersembunyi di balik kekerasannya. Manusia yang dibentuk Allah dari bahan semacam ini membawa kedua sifat itu bersamaan, tampak kokoh namun tetap rapuh terhadap benturan yang cukup kuat.

Ayat 55:15

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

dan Dia menciptakan jin dari nyala api,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَخَلَقَ الْجَانَّwa-khalaqa l-jaannadan Dia menciptakan jin
  2. مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍmin maarijin min naarindari nyala api

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَخَلَقَwa-khalaqadan Dia menciptakan
  2. الْجَانَّl-jaannajin
  3. مِنْmindari
  4. مَارِجٍmaarijinnyala api
  5. مِنْmindari
  6. نَارٍnaarinapi

Inti bacaan

Penciptaan makhluk gaib disebutkan sejajar: 'Dia menciptakan jin dari nyala api', pengakuan eksistensi makhluk lain di luar jangkauan indra manusia, memperluas cakrawala pemahaman tentang keragaman ciptaan yang tidak terbatas pada yang terlihat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ, wa-khalaqa l-jaanna min maarijin min naarin). Kata kerja (خَلَقَ, khalaqa) di sini menyambung langsung dari ayat sebelumnya (خَلَقَ الْإِنْسَانَ, khalaqa l-insaana), disatukan huruf sambung (وَ, wa-) tanpa jeda kalimat baru, sehingga dua penciptaan ini bukan dua pernyataan terpisah melainkan satu pasangan yang sengaja dibacakan berurutan: manusia lalu jin, keduanya kena kata kerja yang sama, keduanya berbentuk objek definit (الْإِنْسَانَ lalu الْجَانَّ, sama-sama berkata sandang, sama-sama berkedudukan objek).

Kata (الْجَانَّ, l-jaanna) berasal dari akar j-n-n. Lemanya (jaA^n~ dalam ejaan morfologi) muncul tujuh kali di seluruh Al-Qur'an: 15:27, 27:10, 28:31, 55:15 (ayat ini), 55:39, 55:56, dan 55:74. Lima dari tujuh kemunculan itu (15:27, 55:15, 55:39, 55:56, dan 55:74) memakai kata ini untuk menyebut golongan jin sebagai makhluk, sering disandingkan dengan (إِنْسٌ, insun) "manusia" seperti pada 55:39 (فَيَوْمَئِذٍ لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلَا جَانٌّ, "pada hari itu tidak ditanya dosanya seorang manusia pun dan tidak jin"). Dua kemunculan lain (27:10 dan 28:31) memakai kata yang sama persis, bukan bentuk lain, untuk menggambarkan tongkat Musa yang berubah wujud: (كَأَنَّهَا جَانٌّ, ka-annahaa jaannun) "seakan-akan ia seekor jaann", dipakai tepat pada saat tongkat itu bergerak cepat dan berkelok sehingga Musa lari ketakutan. Karena kedua pemakaian ini leksemnya sama persis, bukan kata yang kebetulan mirip bunyi, kata (الْجَانَّ, l-jaanna) membawa jejak makna "sesuatu yang gesit, berkelok, sulit ditangkap mata" ke mana pun ia dipakai, entah menamai golongan makhluk atau menggambarkan gerak seekor ular. Ini catatan tentang jangkauan kata, bukan klaim tentang alasan pemilihannya di ayat ini.

Kata (مَارِجٍ, maarijin) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, tepat di ayat ini, berasal dari akar m-r-j. Bahannya disebut lewat frasa (مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ, min maarijin min naarin), "dari nyala api". Akar ini membentuk empat kata dengan leksem berbeda-beda di seluruh Al-Qur'an: kata benda (مَارِجٍ, maarijin) pada ayat ini sendiri, kata kerja (مَرَجَ, maraja) di 25:53 dan di 55:19 (dua ayat lagi di blok ini), dengan frasa yang persis sama, "mengalirkan dua laut"; kata sifat (مَرِيجٍ, mariijin) di 50:5, menggambarkan "keadaan yang kacau"; dan kata benda lain, (مَرْجَانُ, marjaanu), di 55:22 dan 55:58, nama batu karang. Empat leksem ini, satu kata benda pada ayat ini, satu kata kerja, satu kata sifat, dan satu kata benda lain, berbeda-beda bentuknya, tapi akarnya sama, dan benang yang menyambung semuanya adalah gagasan sesuatu yang dilepas mengalir atau bercampur, entah dua air laut yang dibiarkan bertemu, keadaan yang kacau tak terkendali, atau nyala api yang lidahnya bergerak-gerak. Kata (مَارِجٍ, maarijin) pada ayat ini, sebagai bentuk pelaku aktif dari akar itu, paling wajar dibaca sebagai nyala yang bergerak, api yang lidahnya menjilat-jilat tanpa asap, bukan bara yang diam.

Ada ayat pembanding yang menyebut bahan jin dengan kata lain: (وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ, wa-l-jaanna khalaqnaahu min qablu min naari s-samuumi, 15:27), "dan jin, Kami telah menciptakannya sebelumnya dari api yang sangat panas". Kata (سَمُومِ, samuumi) di sana muncul hanya dua kali di seluruh Al-Qur'an: di 15:27 ini, dan di 52:27, tempat kata yang sama dipakai untuk azab yang dijauhkan dari orang-orang beriman (وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ, "dan menjaga kami dari azab yang sangat panas"). Ayat ini dan 15:27 sama-sama menegaskan asal jin dari api, tapi memakai dua kata sifat api yang berbeda, (مَارِجٍ, maarijin) di sini dan (سَمُومِ, samuumi) di 15:27, dua rincian yang saling melengkapi, bukan bertentangan, tentang satu bahan yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menempatkan penciptaan jin persis sesudah penciptaan manusia di 55:14, tanpa jeda kalimat baru, sebelum satu pun nikmat luar disebutkan pada ayat-ayat berikutnya. Sebelum surah ini bertanya nikmat mana yang hendak didustakan, ia dulu memperkenalkan siapa yang ditanya: dua jenis makhluk berakal, satu dari tanah yang diam dan bisa dipegang, satu dari nyala yang bergerak dan tak kelihatan. Kesejajaran kata kerja (خَلَقَ, khalaqa) yang sama untuk keduanya menegaskan bahwa perbedaan bahan tidak berarti perbedaan kedudukan sebagai makhluk ciptaan.

Perbandingan bahan kedua ayat ini tajam sekali kalau dibaca berdampingan. Manusia dari (صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ, shalshaalin ka-l-fakhkhaari), tanah kering yang berbunyi seperti tembikar, sesuatu yang padat, sudah dibentuk, bisa disentuh dan tahan lama seperti pot yang sudah dibakar. Jin dari (مَارِجٍ مِنْ نَارٍ, maarijin min naarin), nyala yang bergerak, sesuatu yang justru paling sulit ditangkap dan paling cepat berubah bentuk. Kalau bahan manusia mengarah pada citra sesuatu yang tetap dan kelihatan, bahan jin mengarah pada citra sesuatu yang gesit dan tak kelihatan, sejalan dengan kata (الْجَانَّ, l-jaanna) itu sendiri yang di tempat lain menggambarkan gerak cepat seekor ular. Nyala api tanpa asap yang disebut di sini pun secara alami sulit dipegang mata: ia menyala, berkelok, lalu padam, berbeda sekali dari tembikar yang tetap berbentuk selama tidak dipecahkan.

Menyebut jin secara eksplisit, dengan bahan penciptaannya sendiri, di tempat yang sama dengan penyebutan manusia, adalah pengakuan bahwa makhluk yang tidak terlihat pun termasuk dalam daftar ciptaan yang akan disapa nanti oleh pertanyaan "nikmat Tuhan kalian yang manakah". Ayat berikutnya akan mengulang pertanyaan itu justru sesudah dua ayat penciptaan ini, membuat keberadaan itu sendiri, bagi kedua golongan, menjadi hal pertama yang harus dipertanggungjawabkan sebelum nikmat-nikmat lain disebutkan satu per satu.

Renungan dan Hikmah

  • Jin tidak disebut sekilas atau digabung diam-diam ke dalam kata "makhluk". Allah memberinya ayat sendiri, kata kerja penciptaan sendiri, dan bahan penciptaan sendiri, persis seperti manusia satu ayat sebelumnya. Sesuatu yang tak pernah bisa dilihat mata justru dicatat dengan kejelasan yang sama seperti sesuatu yang setiap hari dipegang tangan. Berapa banyak hal yang nyata keberadaannya justru luput dari perhatian karena tidak pernah bisa dilihat langsung, dan berapa banyak yang justru sebaliknya, dianggap penting hanya karena mudah dilihat?
  • Manusia diciptakan Allah dari tanah kering yang bisa dipegang dan bertahan lama. Jin diciptakan-Nya dari nyala yang bergerak, berkelok, lalu padam. Dua bahan yang berlawanan sifatnya, disebut berurutan oleh kata kerja yang sama, seakan menegaskan bahwa kesamaan sebagai ciptaan tidak menuntut kesamaan wujud. Sesuatu yang gesit dan sulit dipegang tetap sama berhaknya disebut ciptaan dibanding sesuatu yang diam dan kelihatan, sebuah pengingat bahwa kedudukan sebagai ciptaan tidak diukur dari seberapa mudah sesuatu itu dipahami atau digenggam.
  • Kata yang menggambarkan nyala api pada ayat ini tidak dipakai lagi di ayat mana pun di seluruh Al-Qur'an. Satu bahan penciptaan, satu kata yang khusus untuknya, tidak dipinjamkan ke tempat lain. Ada hal-hal yang memang hanya perlu disebut sekali, tapi sekali itu cukup untuk menandainya selamanya, tanpa harus diulang berkali-kali agar terasa penting.
  • Api yang disebut sebagai asal jin, dengan kata sifat yang berbeda, juga muncul di ayat lain sebagai gambaran azab yang dijauhkan dari orang beriman. Bahan yang sama bisa menjadi asal sesuatu yang diciptakan dan juga menjadi gambaran hukuman, bergantung pada bagaimana ia dipakai. Sesuatu tidak otomatis buruk hanya karena unsur pembentuknya pernah dipakai dalam konteks yang berat, sebagaimana sesuatu juga tidak otomatis aman hanya karena kelihatan biasa.
  • Akar kata yang membentuk nama bahan penciptaan jin di sini akan muncul lagi tak lama kemudian dalam surah yang sama, menggambarkan dua laut yang dibiarkan mengalir bertemu, dan juga nama batu karang yang indah. Satu benang kata yang sama menjahit citra nyala api, air yang mengalir, dan permata, tiga hal yang tampak tidak berhubungan sama sekali sampai ditelusuri asal katanya. Kadang benang yang menyambung satu hal ke hal lain tidak terlihat sampai ditelusuri sampai ke akarnya, dan yang tampak berjauhan ternyata pernah berasal dari satu sumber yang sama.
  • Sebelum satu pun nikmat dari luar disebutkan, Allah lebih dulu menyebutkan siapa yang diciptakan-Nya, di ayat ini dan ayat sebelumnya. Pertanyaan tentang nikmat mana yang hendak didustakan, yang akan datang segera sesudah ini, ternyata dialamatkan bukan kepada sosok abstrak, melainkan kepada dua golongan yang keberadaannya sendiri baru saja dirinci bahannya satu per satu. Sebelum ditanya tentang apa yang diterima, lebih dulu ditegaskan siapa yang menerimanya, seakan tidak ada gunanya membicarakan pemberian sebelum jelas kepada siapa pemberian itu ditujukan.