فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein pertama, ditujukan kepada dua kelompok (manusia dan jin): 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pertanyaan retoris yang menuntut jawaban jujur atas rangkaian nikmat yang baru disebutkan, mekanisme refleksi berulang yang memaksa penerima pesan berhenti sejenak menghitung anugerah alih-alih menganggapnya biasa saja.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani). Ayat ini adalah kemunculan pertama dari kalimat yang akan diulang tiga puluh satu kali di sepanjang surah ini, kata demi kata persis sama setiap kalinya. Karena kemunculan pertama ini yang membentuk pola, penjelasan di sini berlaku bagi seluruh tiga puluh kemunculan lain, dan ayat-ayat berikutnya cukup merujuk kembali ke sini tanpa mengulang uraian yang sama.
Kata (بِأَيِّ, bi-ayyi), "dengan yang mana", adalah kata tanya yang mengandaikan ada banyak pilihan untuk dipilih salah satunya. Pertanyaannya bukan "apakah ada nikmat" atau "adakah nikmat yang layak didustakan", melainkan "yang mana" dari sekian banyak nikmat yang sudah disebutkan. Bentuk pertanyaan ini hanya masuk akal sesudah suatu daftar sudah disebutkan lebih dulu, dan di sini ia muncul persis sesudah tiga ayat, 55:10 sampai 55:12, yang merinci bumi, pohon, buah, biji-bijian, dan tumbuhan harum.
Kata (آلَاءِ, aalaa'i), "nikmat-nikmat", berbentuk jamak, dan dalam makna ini muncul tiga puluh empat kali di seluruh Al-Qur'an. Tiga puluh satu di antaranya adalah pengulangan persis frasa ini di surah ini sendiri. Sisanya hanya tiga tempat: dua ayat, 7:69 dan 7:74, memakai bentuk perintah "ingatlah nikmat-nikmat Allah" ditujukan kepada kaum Ad dan kaum Tsamud, dan satu ayat lagi, 53:55, memakai bentuk pertanyaan yang hampir sama persis dengan ayat ini, "maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih engkau ragukan". Huruf akar yang sama ini, di luar makna nikmat, juga membentuk tiga kata kerja dengan arti "berlaku kurang sungguh-sungguh" pada 2:226, 3:118, dan 24:22, tetapi itu kata yang maknanya sama sekali berbeda, bukan bagian dari hitungan nikmat di atas. Perbedaan antara ayat ini dan 53:55 sendiri ada dua: 53:55 memakai kata ganti tunggal (رَبِّكَ, rabbika) "Tuhanmu", bukan dual, dan kata kerjanya (تَتَمَارَىٰ, tatamaraa) berarti "meragukan" atau "berdebat tentangnya", bukan "mendustakan".
Kata ganti (كُمَا, -kumaa) yang menempel pada (رَبِّ, rabbi) adalah bentuk dual, khusus untuk dua pihak, bukan bentuk jamak untuk banyak pihak dan bukan pula bentuk tunggal seperti pada 53:55. Surah ini sendiri, di ayat-ayat berikutnya, menjelaskan siapa dua pihak yang disapa. Pada 55:31, kedua pihak itu disebut (الثَّقَلَانِ, ats-tsaqalaani), "dua golongan yang berat", dan pada 55:33, keduanya disapa langsung dengan (يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ, yaa ma'syaral-jinni wal-insi), "wahai segenap jin dan manusia". Identifikasi ini datang dari surah ini sendiri, bukan dari luar teksnya, dan berlaku bagi kata ganti dual yang sama di seluruh tiga puluh satu pengulangan refrain ini.
Kata kerja (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani), "kalian berdua mendustakan", berasal dari akar ك-ذ-ب, berbentuk dual sejalan dengan kata ganti sebelumnya. Kata ini lebih kuat daripada sekadar meragukan, sebagaimana perbandingan dengan 53:55 menunjukkan. Mendustakan berarti menyatakan sesuatu itu bohong, bukan sekadar tidak yakin. Bentuk kata kerjanya adalah bentuk sekarang atau akan datang, bukan bentuk lampau, menjadikan pertanyaan ini bukan tentang apa yang sudah terjadi, melainkan tantangan yang terus terbuka setiap kali dibacakan.
Tafsiran
Ayat ini menjadi titik balik surah, dari menyebutkan nikmat menjadi mempertanyakannya. Sesudah sembilan ayat berturut-turut mendaftar pemberian, matahari dan bulan, bintang dan pohon, langit dan timbangan, bumi dan segala isinya, ayat ini berhenti sejenak dan mengajukan tantangan: nikmat yang mana dari semua itu yang hendak didustakan.
Yang paling menentukan dari ayat ini adalah bahwa ia tidak bertanya "apakah kalian mendustakan", melainkan "yang mana yang kalian dustakan". Pertanyaan ini tidak memberi ruang untuk menjawab "tidak ada", karena bentuknya sendiri mengandaikan bahwa daftar nikmat sudah begitu panjang sehingga mustahil semuanya diakui sekaligus tanpa ada satu pun yang diragukan atau diabaikan. Tantangan ini diarahkan kepada dua pihak sekaligus, jin dan manusia, sebagaimana surah ini sendiri menjelaskan di ayat-ayat berikutnya, menjadikan pertanyaan ini bukan tantangan pribadi kepada satu orang, melainkan tantangan kepada dua golongan makhluk berakal yang sama-sama menerima nikmat yang baru saja disebutkan.
Ayat ini akan diulang tiga puluh satu kali, dan pengulangan itu sendiri adalah bagian dari maknanya. Setiap kali satu nikmat baru disebutkan di ayat-ayat berikutnya, pertanyaan yang sama akan diajukan kembali, seakan memaksa jeda setelah setiap pemberian untuk memastikan tidak ada satu pun yang terlewat begitu saja tanpa direnungkan. Pengulangan yang persis sama kata demi kata, tanpa variasi sedikit pun, membuat pertanyaan ini terasa seperti ketukan yang terus berbunyi di sepanjang surah, tidak membiarkan pembacanya melaju terlalu cepat melewati satu nikmat ke nikmat berikutnya.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan yang diajukan ayat ini bukan apakah ada nikmat, melainkan yang mana, sebuah bentuk yang tidak menyisakan ruang untuk menjawab bahwa tidak ada nikmat yang diterima dari Allah. Sembilan ayat sebelumnya sudah menyebut begitu banyak pemberian, matahari, bulan, bintang, pohon, langit, timbangan, bumi, buah, biji-bijian, sehingga jawaban tidak ada sudah tertutup sebelum pertanyaan ini sempat dijawab. Kalau daftar pemberian itu dibentangkan di hadapan siapa pun yang membaca ayat ini, nikmat manakah yang masih bisa didustakan dengan jujur?
- Kata ganti dual pada ayat ini, sebagaimana dijelaskan surah ini sendiri di ayat-ayat berikutnya, menyapa jin dan manusia bersama-sama, bukan hanya satu golongan tertentu. Siapa pun yang membaca ayat ini, apa pun keyakinannya, termasuk dalam golongan yang disapa sejauh ia manusia. Pertanyaan ini bukan ditujukan kepada orang lain di masa lalu, melainkan kepada setiap manusia yang membacanya sekarang, sebagaimana Allah menujukannya kepada setiap manusia sejak ayat ini pertama kali diturunkan.
- Kata kerja yang dipakai ayat ini berarti mendustakan, menyatakan sesuatu itu bohong, bukan sekadar meragukan atau tidak memperhatikan. Ada perbedaan besar antara lupa bersyukur karena lalai dan secara aktif menyangkal bahwa sesuatu itu benar-benar nikmat dari Allah. Ayat ini menempatkan pertanyaannya pada taraf yang lebih berat, mengajak untuk memeriksa bukan hanya seberapa sering nikmat itu disadari, tetapi apakah keberadaannya sebagai pemberian dari-Nya pernah benar-benar diingkari.
- Pertanyaan yang sama ini akan diulang tiga puluh satu kali sepanjang surah, setiap kali satu nikmat baru dari Allah disebutkan. Pengulangan yang persis sama, tanpa variasi kata sedikit pun, membuat pertanyaan ini terasa seperti ketukan yang terus berbunyi, menahan pembaca agar tidak melaju terlalu cepat melewati satu pemberian ke pemberian berikutnya tanpa jeda untuk merenungkannya. Berapa kali sebuah nikmat sudah lewat begitu saja tanpa sempat direnungkan sebelum yang berikutnya datang menggantikannya?
- Sesudah menyebut sembilan pemberian besar dan kecil, dari matahari sampai kulit biji, ayat ini bertanya nikmat mana yang hendak didustakan, seakan menantang untuk memeriksa satu per satu apakah ada yang selama ini luput dari perhatian. Nikmat yang paling mudah didustakan bukanlah yang paling mencolok, melainkan yang paling biasa dan paling jarang disadari sebagai pemberian dari Allah, karena kehadirannya yang terus-menerus justru membuatnya kehilangan kesan sebagai sesuatu yang diberikan.
- Bentuk kata kerja pada ayat ini bukan bentuk lampau yang menyebut sesuatu yang sudah selesai terjadi, melainkan bentuk yang tetap terbuka, menjadikan pertanyaan ini bukan catatan sejarah melainkan tantangan yang terus berlaku setiap kali ayat ini dibaca. Tuhan yang sama yang menyebutkan seluruh pemberian sebelumnya mengajukan pertanyaan ini bukan sekali untuk selamanya, melainkan berulang setiap kali dibacakan, kepada setiap pembaca yang baru.
- Sekalipun jin dan manusia diciptakan dari bahan yang sama sekali berbeda, sebagaimana akan disebutkan dua ayat berikutnya, keduanya disapa dengan pertanyaan yang sama persis tentang nikmat yang sama. Perbedaan asal-usul tidak menghasilkan perbedaan tanggung jawab untuk mengakui pemberian Allah. Kesamaan pertanyaan ini menyiratkan bahwa di hadapan nikmat yang diberikan-Nya, dua golongan makhluk berakal ini berdiri pada kedudukan yang setara.