وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ

biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِwa-l-habbu dzuu l-'ashfibiji-bijian yang berkulit
  2. وَالرَّيْحَانُwa-r-rayhaanudan bunga-bunga yang harum baunya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَالْحَبُّwa-l-habbudan biji-bijian
  2. ذُوdzuupemilik
  3. الْعَصْفِl-'ashfidaun kering
  4. وَالرَّيْحَانُwa-r-rayhaanudan tumbuhan wangi

Inti bacaan

Keragaman lanjutan hasil bumi: 'biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya', kombinasi kebutuhan pokok (biji-bijian sebagai pangan) dan keindahan estetis (bunga harum) menegaskan bahwa anugerah mencakup baik kebutuhan fungsional maupun kenikmatan sensorik.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ, wa-l-habbu dzuu l-'ashfi wa-r-rayhaanu). Ayat ini melanjutkan daftar dari 55:11 tanpa kata kerja baru, hanya disambung kata penghubung "dan", menandakan bahwa apa yang disebut di sini masih tergolong dalam kalimat besar yang sama tentang bumi.

Kata (الْحَبُّ, al-habbu), "biji-bijian", berasal dari akar ح-ب-ب. Dalam makna biji-bijian secara khusus, kata ini muncul tujuh kali di seluruh Al-Qur'an: 6:95, 6:99, 36:33, 50:9, 55:12, 78:15, dan 80:27. Dua di antaranya, 6:95 dan 6:99, menyebut Allah membelah biji-bijian dan menumbuhkan tanaman hijau darinya. Akar yang sama ini, dalam bentuk kata yang berbeda, juga dipakai untuk makna "cinta" atau "kesukaan" di ayat-ayat lain, tetapi bentuk (الْحَبُّ, al-habbu) di sini secara konsisten dipakai untuk biji-bijian, bukan perasaan.

Frasa (ذُو الْعَصْفِ, dzuu l-'ashfi), "yang berkulit", menerangkan biji-bijian itu sebagai sesuatu yang masih terbungkus kulitnya, belum ditumbuk atau dipisahkan. Kata (عَصْف, 'ashf) dalam makna kulit atau jerami pembungkus ini hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an dengan lema yang persis sama: di sini, dan di 105:5, ayat yang menggambarkan kaum yang dihancurkan seperti daun kering yang dimakan. Kata yang sama dipakai di kedua tempat itu, tanpa perbedaan bentuk. Ada kata lain yang mirip pengucapannya dari huruf akar yang sama, misalnya (عَاصِفٌ, 'aashifun) pada 10:22, yang berarti "angin kencang" dalam kisah kapal yang dihantam badai di lautan, tetapi itu adalah kata yang berbeda, bukan bentuk lain dari kata yang sama.

Kata (الرَّيْحَانُ, ar-rayhaanu), "tumbuhan yang harum", berasal dari akar ر-ي-ح. Kata ini hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an: di sini, dan di 56:89, ayat yang menyebutnya berdampingan dengan kelapangan dan taman kenikmatan sebagai balasan bagi golongan yang didekatkan kepada Allah. Di tempat ini, kata yang sama disebut sebagai bagian dari apa yang tumbuh di bumi bagi seluruh makhluk, tanpa syarat golongan tertentu, sedangkan di 56:89 kata itu menjadi bagian dari balasan khusus.

Ketiga hal yang disebut ayat ini, biji-bijian, kulitnya, dan tumbuhan harum, disampaikan tanpa kata kerja sama sekali, melanjutkan gaya penyampaian ayat sebelumnya sejak 55:10. Seluruh rangkaian dari bumi sampai tumbuhan harum ini disampaikan sebagai daftar keadaan yang sudah ada, bukan sebagai peristiwa yang sedang berlangsung, gaya yang sama dengan kalimat nominal pada 55:5 di awal surah.

Ketiga kata benda pada ayat ini, (الْحَبُّ, al-habbu), (ذُو الْعَصْفِ, dzuu l-'ashfi), dan (الرَّيْحَانُ, ar-rayhaanu), sama-sama berkedudukan sebagai subjek yang sejajar dalam kalimat, disambung satu sama lain oleh kata penghubung "dan", bukan salah satunya menjadi keterangan bagi yang lain. Kesejajaran kedudukan ini berlaku juga bagi (فَاكِهَةٌ, faakihatun) dan (النَّخْلُ, an-nakhlu) di ayat sebelumnya, sehingga kelima kata benda sejak 55:11 sampai akhir ayat ini berdiri dalam satu deretan yang sama kedudukannya, tidak ada satu yang lebih utama secara tata bahasa dibandingkan yang lain.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian yang dimulai di 55:10, tiga ayat yang sama-sama menyebut isi bumi tanpa satu kata kerja pun sesudah 55:10. Yang paling menonjol dari penutupan ini adalah kehadiran kata (عَصْف, 'ashf), kulit atau jerami pembungkus biji, sebuah kata yang di satu-satunya tempat lain ia muncul, 105:5, menjadi gambaran kehancuran total. Ketika ayat ini menyebutnya sebagai bagian dari anugerah bumi, ada jarak makna yang tajam antara kulit biji yang masih melekat pada anugerah yang hidup dan kulit yang sama, disebut dengan kata yang sama, sebagai sisa dari sesuatu yang telah binasa.

Kata (رَيْحَانٌ, rayhaanun) di 56:89 menutup daftar ini dengan sesuatu yang tidak dimakan, hanya dicium harumnya. Sesudah menyebut bumi, pohon kurma, kelopaknya, biji-bijian, dan kulitnya, ayat ini berakhir bukan pada sesuatu yang menjadi santapan, melainkan pada sesuatu yang memberi kenikmatan lain, wangi yang tidak menopang hidup secara langsung tetapi tetap disebut sebagai bagian dari pemberian.

Tiga ayat ini, 55:10 sampai 55:12, bergerak dari yang paling besar, bumi, ke yang paling kecil dan tersembunyi, kelopak mayang dan kulit biji, lalu berhenti pada sesuatu yang tidak berwujud fisik untuk dimakan, wangi tumbuhan. Sesudah daftar ini selesai, ayat berikutnya, 55:13, langsung mengajukan pertanyaan pertama dari tiga puluh satu kali pengulangan yang sama di sepanjang surah: nikmat mana yang hendak didustakan.

Renungan dan Hikmah

  • Kulit biji yang disebut ayat ini sebagai bagian dari anugerah, di satu-satunya tempat lain kata yang sama muncul, justru menjadi gambaran kehancuran total, kaum yang dibinasakan digambarkan seperti kulit yang telah dimakan habis. Kata yang sama menandai dua nasib yang berlawanan, satu masih melekat pada kehidupan yang tumbuh, satu lagi menjadi sisa dari sesuatu yang telah berakhir. Apakah yang membedakan keduanya hanyalah waktu, ketika sesuatu yang masih hidup pada akhirnya akan sampai pada bentuknya yang lain juga, sebagaimana Allah menetapkan bagi segala yang bernyawa?
  • Tumbuhan harum yang menutup ayat ini tidak disebut sebagai sesuatu yang dimakan atau menopang hidup secara langsung, berbeda dari buah dan biji-bijian yang disebut sebelumnya. Ia ada semata sebagai kenikmatan yang dicium, bukan kebutuhan yang harus dipenuhi. Allah, Ar-Rahman, menyediakan bukan hanya apa yang diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi juga apa yang tidak diperlukan sama sekali selain untuk dinikmati keharumannya.
  • Biji-bijian yang disebut di sini masih berkulit, belum dipisahkan atau diolah, sebuah gambaran tentang sesuatu yang sudah lengkap sebelum campur tangan manusia menyentuhnya sama sekali. Segala yang dibutuhkan untuk tumbuh sudah tersedia dalam bungkusnya sendiri sejak awal, tanpa perlu ditambahkan dari luar, bagian dari cara Allah menyiapkan kehidupan sebelum ia dibutuhkan. Yang tersisa bagi manusia hanyalah menemukan dan mengambilnya, bukan menciptakannya dari ketiadaan, sebuah kedudukan yang jauh lebih kecil daripada yang sering dirasakan ketika hasil bumi diolah lalu terasa seolah menjadi buatan sendiri.
  • Sejak ayat 55:10, tiga ayat berturut-turut menyebut bumi dan segala isinya tanpa satu kata kerja pun yang menggambarkan sebuah peristiwa sedang berlangsung, hanya daftar keadaan yang sudah ada begitu saja. Cara penyampaian semacam ini membuat semua yang disebut terasa seperti kenyataan yang tetap, bukan kejadian sesaat yang bisa berubah. Bumi dengan segala isinya disajikan sebagai ketetapan Allah yang sudah berdiri, bukan proses yang masih menunggu selesai, dan ketetapan yang sudah berdiri semacam ini tidak menuntut apa pun selain diperhatikan sebagaimana adanya.
  • Ayat ini menjadi penutup dari tiga ayat yang mendaftar isi bumi, sebelum ayat berikutnya mengajukan pertanyaan pertama dari tiga puluh satu kali pengulangan yang sama sepanjang surah, tentang nikmat mana dari Allah yang hendak didustakan. Letaknya persis di ambang pertanyaan itu membuat ayat ini terasa seperti jeda terakhir sebelum diminta menjawab, kesempatan terakhir untuk memperhatikan sebelum ditanya, sebuah jeda singkat yang mudah terlewat kalau bacaan terus dilanjutkan tanpa berhenti sejenak di sini.
  • Dari bumi yang luas, ayat ini turun sampai ke kulit biji dan wangi tumbuhan, hal-hal yang begitu kecil sehingga jarang menjadi perhatian siapa pun dalam keseharian. Kalau hal sekecil ini pun disebutkan satu per satu oleh Ar-Rahman sebagai bagian dari daftar pemberian-Nya, ada banyak hal lain yang mungkin selama ini luput dari perhatian karena dianggap terlalu kecil untuk direnungkan.