فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ

padanya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فِيهَا فَاكِهَةٌfiihaa faakihatunpadanya ada buah-buahan
  2. وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِwa-n-nakhlu dzaatu l-akmaamidan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فِيهَاfiihaapadanya
  2. فَاكِهَةٌfaakihatunbuah
  3. وَالنَّخْلُwa-n-nakhludan pohon kurma
  4. ذَاتُdzaatuyang memiliki
  5. الْأَكْمَامِl-akmaamikelopak

Inti bacaan

Kelimpahan hasil bumi yang detail: 'padanya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang', perhatian pada detail spesifik (kelopak mayang) menunjukkan kekayaan dan keragaman anugerah yang layak diapresiasi secara mendalam, bukan dipandang sekilas.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ, fiihaa faakihatun wa-n-nakhlu dzaatu l-akmaami). Kata pertama, (فِيهَا, fiihaa), "padanya", menunjuk kembali ke bumi yang baru saja disebut di ayat sebelumnya, 55:10. Tanpa kata ganti ini, ayat tidak akan diketahui merujuk ke apa, karena tidak ada pengulangan kata "bumi" di sini. Keterangan tempat ini justru didahulukan di awal kalimat, sebelum kata yang diterangkannya, susunan yang menegaskan bahwa segala yang disebut sesudahnya bertumpu pada bumi yang sudah diletakkan.

Kata (فَاكِهَةٌ, faakihatun), "buah-buahan", berbentuk tak tentu tanpa kata sandang, menunjukkan bahwa yang dimaksud bukan buah tertentu melainkan buah secara umum, segala jenisnya. Kata ini berasal dari akar ف-ك-ه, dan muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk persis ini: 36:57, 43:73, 55:11, dan 55:68. Dua dari empat kemunculan itu ada di surah ini sendiri, di sini dan di 55:68 sesudah rangkaian refrain yang panjang. Kemunculan kedua di 55:68 berbicara tentang taman-taman balasan bagi mereka yang takut kepada Tuhannya, sedangkan kemunculan di sini berbicara tentang bumi secara umum. Kata yang sama dipakai untuk dua taraf pemberian yang berbeda, satu untuk seluruh penghuni bumi tanpa syarat, satu lagi sebagai balasan khusus.

Kata (النَّخْلُ, an-nakhlu), "pohon kurma", disebut sebagai satu-satunya jenis pohon yang disebutkan namanya secara khusus di ayat ini, berbeda dari (فَاكِهَةٌ, faakihatun) yang mencakup segala buah tanpa nama. Akar ن-خ-ل muncul di dua puluh ayat di seluruh Al-Qur'an, termasuk sekali lagi di 55:68 berdampingan dengan buah delima. Penyebutan pohon kurma secara khusus, dan bukan pohon lainnya, di ayat ini, menjadikannya satu-satunya jenis pohon yang disebutkan namanya dalam daftar hasil bumi yang dimulai sejak 55:10, sekalipun di 55:68 kelak ia disebutkan lagi berdampingan dengan buah delima yang turut disebutkan namanya di sana.

Frasa (ذَاتُ الْأَكْمَامِ, dzaatu l-akmaami), "yang mempunyai kelopak mayang", adalah keterangan tambahan khusus untuk pohon kurma, tidak berlaku bagi buah-buahan yang disebut sebelumnya. Kata (أَكْمَام, akmaam) berasal dari akar ك-م-م dan hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an: di sini, dan di 41:47. Pada 41:47, kata yang sama dipakai dalam kalimat yang menyebut, "Tidak ada buah-buahan yang keluar dari kelopaknya... melainkan dengan pengetahuan-Nya", menempatkan kelopak sebagai tempat tersembunyi yang isinya hanya diketahui oleh Allah sebelum ia terbuka. Kelopak mayang adalah pembungkus yang menutupi tandan buah kurma sebelum ia matang dan terbuka. Penyebutannya di sini, sebagai bagian yang biasanya tersembunyi dari pandangan, menambahkan perincian yang tidak berhenti pada buah yang tampak saja, melainkan turun sampai ke bagian yang menutupinya.

Tafsiran

Ayat ini memulai perincian dari apa yang baru saja disebut secara umum di 55:10. Sesudah menyatakan bahwa bumi diletakkan bagi segala yang bernapas, ayat ini langsung turun ke hal yang paling dekat dengan kebutuhan makhluk itu, yaitu apa yang bisa dimakan.

Yang paling mencolok dari ayat ini adalah urutan penyebutannya. Buah-buahan disebut lebih dulu secara umum, baru kemudian pohon kurma disebut secara khusus dengan tambahan keterangan tentang kelopaknya. Pohon kurma, satu-satunya pohon yang disebut namanya di sini, mendapat perhatian lebih dengan disertai perincian tentang bagian yang menutupi buahnya sebelum matang, bagian yang biasanya tidak diperhatikan siapa pun kecuali oleh yang menciptakannya.

Perincian sampai ke kelopak ini menjadi jembatan menuju 41:47, ayat yang menyebut kelopak yang sama sebagai tempat yang pengetahuannya hanya milik Allah, tidak ada satu buah pun yang keluar dari kelopaknya kecuali dengan sepengetahuan-Nya. Ketika ayat ini menyebut kelopak sebagai bagian dari anugerah bagi penghuni bumi, ayat itu diam-diam juga menyiratkan bahwa proses buah itu terbentuk, tersembunyi dari mata manusia, tetap berada dalam jangkauan pengetahuan yang meletakkan bumi ini pada mulanya.

Ayat ini belum selesai. Ayat berikutnya, 55:12, melanjutkan perincian dengan menyebut biji-bijian dan tumbuhan yang harum, sehingga tiga ayat, 55:10 sampai 55:12, membentuk satu kesatuan yang bergerak dari bumi secara umum, ke pohon dan buahnya, lalu ke biji-bijian dan tumbuhan lain di atasnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kelopak yang membungkus buah kurma sebelum matang adalah bagian yang nyaris tidak pernah dilihat siapa pun secara langsung, tersembunyi dari pandangan sampai saatnya terbuka sendiri. Ayat lain di Al-Qur'an menyebut bahwa tidak ada satu buah pun yang keluar dari kelopaknya kecuali dengan pengetahuan Allah, menempatkan proses yang paling tersembunyi sekalipun tetap berada dalam jangkauan-Nya. Berapa banyak proses dalam hidup yang berlangsung tanpa terlihat, dan siapa yang tetap mengetahuinya sekalipun tak seorang pun menyaksikannya?
  • Buah-buahan yang disebut ayat ini datang sebagai bagian dari bumi yang sudah diletakkan, bukan sesuatu yang diusahakan lebih dulu oleh penghuninya sebelum ia ada. Pohon kurma dengan segala kelopaknya sudah menjadi bagian dari ketentuan sejak bumi ini disediakan, sebuah pemberian yang mendahului permintaan siapa pun. Allah, yang disebut Ar-Rahman di pembukaan surah ini, menyediakan buah bagi mulut yang bahkan belum sempat memintanya.
  • Dari sekian banyak jenis pohon yang ada, hanya pohon kurma yang disebut namanya secara khusus di ayat ini, sementara jenis lain hanya tercakup dalam kata umum buah-buahan. Ada sesuatu yang layak direnungkan dari perhatian khusus semacam ini, bahwa Allah tidak menyebut segala sesuatu dengan kadar yang sama, ada yang disebut namanya, ada yang dicakup dalam istilah umum, dan keduanya tetap sama-sama pemberian. Diberi nama secara khusus atau tidak, kedudukannya di hadapan Allah yang memberikannya tetap sama, karena yang membedakan bukan seberapa sering sesuatu disebut, melainkan bahwa ia sungguh-sungguh diberikan.
  • Sebelum buah kurma matang dan bisa dinikmati, ia dilindungi lebih dulu oleh kelopak yang menutupinya, tahap yang harus dilalui sebelum tahap berikutnya tiba. Tidak ada buah yang langsung muncul matang tanpa proses tersembunyi lebih dulu. Pola yang sama sering terjadi pada banyak hal lain, ada tahap terbungkus dan terlindungi sebelum sesuatu siap ditunjukkan atau dinikmati, dan itu bukan tanda ada yang tertunda, melainkan bagian dari cara Allah menyiapkan sesuatu dengan semestinya. Sesuatu yang belum tampak hasilnya bukan berarti belum dikerjakan, karena bagian yang paling penting justru sering terjadi di balik kelopak yang tidak terlihat.
  • Ayat ini belum menuntaskan daftar pemberian di atas bumi, karena ayat berikutnya akan menambahkan biji-bijian dan tumbuhan harum. Satu ayat yang membicarakan pohon kurma dan kelopaknya saja sudah memuat banyak hal yang mudah terlewat kalau tidak diperhatikan, dan itu baru satu dari sekian banyak yang akan terus disebutkan Allah sesudahnya. Kalau satu ayat pendek saja bisa menyimpan sebanyak ini yang belum diperhatikan, berapa banyak lagi yang tersimpan di ayat-ayat lain yang belum sempat dibaca dengan seksama?
  • Pohon kurma dan buah-buahan adalah pemandangan yang begitu biasa sehingga jarang dipandang sebagai sesuatu yang perlu direnungkan, apalagi disyukuri secara sadar. Ayat ini justru memilih untuk berhenti sejenak pada hal-hal yang biasa itu, bukan pada sesuatu yang jarang atau ajaib, seakan mengingatkan bahwa yang paling sering dilihat justru paling mudah kehilangan maknanya sebagai pemberian dari Allah.