وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ

Dan langit Dia tinggikan, dan Dia menegakkan timbangan,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَاwa-s-samaa'a rafa'ahaadan langit, Dia tinggikan
  2. وَوَضَعَ الْمِيزَانَwa-wadha'a l-miizaanadan Dia menegakkan timbangan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَالسَّمَاءَwa-s-samaa'adan langit
  2. رَفَعَهَاrafa'ahaameninggikannya
  3. وَوَضَعَwa-wadha'adan Dia meletakkan
  4. الْمِيزَانَl-miizaanatimbangan

Inti bacaan

Prinsip kosmik-etis yang menghubungkan langit dan keadilan: 'langit Dia tinggikan, dan Dia menegakkan timbangan', penempatan konsep keseimbangan/timbangan bersebelahan dengan penciptaan langit menyiratkan bahwa keadilan bukan konvensi sosial semata, melainkan prinsip yang tertanam dalam struktur alam semesta.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ, wa-s-samaa'a rafa'ahaa wa-wadha'a l-miizaana). Dua kata kerja dipakai untuk dua tindakan berbeda: (رَفَعَهَا, rafa'ahaa) "Dia meninggikannya", untuk langit, dan (وَضَعَ, wadha'a) "Dia meletakkan", untuk timbangan. Kata (السَّمَاءَ, as-samaa'a), "langit", disebut lebih dulu di awal kalimat sebelum kata kerjanya, sedangkan objek kata kerja kedua, (الْمِيزَانَ, al-miizaana), disebut sesudah kata kerjanya. Susunan yang tidak simetris ini membuat "langit" ditonjolkan sebagai topik utama kalimat, sementara "timbangan" disebut sebagai sesuatu baru yang menyertainya, bukan topik yang sama ditekankan dua kali.

Kata (الْمِيزَانَ, al-miizaana) berasal dari akar yang sama dengan (الْوَزْنَ, al-wazna) yang muncul dua ayat kemudian, di (55:9). Akarnya berkaitan dengan menimbang. Huruf pertama akar itu berubah bentuk pada kata (مِيزَان, miizaan) karena pola pembentukan katanya, bukan karena akarnya berbeda. (مِيزَان, miizaan) menyebut alat, sedangkan (وَزْن, wazn) menyebut perbuatannya. Ayat ini menyebut alatnya, "timbangan". Ayat (55:9) nanti memerintahkan perbuatannya, menegakkan timbangan itu.

Kata (الْمِيزَانَ, al-miizaana), atau bentuknya yang lain, muncul sembilan kali di enam surah: (6:152, 7:85, 11:84, 11:85, 42:17, 55:7, 55:8, 55:9, 57:25). Di (6:152), (7:85), (11:84), dan (11:85), kata ini selalu muncul berdampingan dengan takaran, dalam konteks jual beli, sebagai perintah supaya tidak berbuat curang dalam berdagang. Di (42:17) dan (57:25), kata ini justru disandingkan dengan Kitab, diturunkan bersama para rasul supaya manusia bisa berlaku adil. Ayat ini, (55:7), berbeda dari kedua kelompok itu. Timbangan di sini tidak disandingkan dengan dagang, tidak juga dengan Kitab, melainkan disandingkan langsung dengan penciptaan langit.

Tindakan meninggikan langit juga disebut di ayat lain. (13:2) menyatakan Allah meninggikan langit tanpa tiang yang terlihat, memakai kata kerja dari akar yang sama, (رَفَعَ, rafa'a). Tindakan meletakkan yang dipakai untuk timbangan di ayat ini juga dipakai lagi tiga ayat kemudian, di (55:10), untuk bumi, (وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ, wa-l-ardha wadha'ahaa lil-anaam), "dan bumi Dia bentangkan untuk makhluk". Kata kerja yang sama, (وَضَعَ, wadha'a), dipakai untuk dua objek yang sangat berbeda, timbangan yang tidak berwujud fisik tunggal, dan bumi yang menjadi tempat berpijak segala makhluk.

Karena itu, kata "menegakkan" dipilih untuk terjemahan (وَضَعَ, wadha'a) di ayat ini, bukan "meletakkan" seperti di (55:10). Bedanya bukan pada kata Arabnya, yang persis sama, melainkan pada objeknya. Bumi adalah benda yang diletakkan di suatu tempat. Timbangan, sebagai lambang ukuran dan keadilan, lebih tepat digambarkan sebagai sesuatu yang "ditegakkan" atau "didirikan", sejalan dengan bagaimana kata itu dipakai lagi di (55:9) untuk perintah menegakkan timbangan secara langsung.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan gerak turun yang dimulai dari (55:5), tapi sekaligus mengembalikannya ke langit sebelum turun lagi ke tangan manusia. Ayat sebelumnya, (55:6), berhenti di bintang dan pohon. Ayat ini naik kembali ke langit, lalu langsung menyandingkannya dengan timbangan, sebelum dua ayat berikutnya, (55:8-9), berpindah ke manusia yang diperintah menjaga timbangan itu. Timbangan menjadi titik pertemuan antara dua dunia, dunia langit yang ditinggikan dan dunia manusia yang harus menjaga keadilan.

Penyandingan langit dengan timbangan dalam satu ayat ini adalah pilihan yang tidak biasa dibandingkan ayat lain yang menyebut timbangan, seperti (6:152, 7:85, 11:84, 11:85) yang menyandingkannya dengan perdagangan, atau (42:17, 57:25) yang menyandingkannya dengan Kitab. Di sini, timbangan disandingkan dengan penciptaan langit itu sendiri, sebagai bagian dari tatanan alam semesta, bukan sekadar aturan yang ditambahkan belakangan untuk mengatur manusia. Ini menjadi dasar bagi dua ayat berikutnya, (55:8-9), yang memerintahkan manusia untuk tidak melampaui batas dan tidak mengurangi dalam menimbang: perintah itu bukan aturan sosial biasa, melainkan perpanjangan dari tatanan yang sudah ada sejak langit ditinggikan.

Ayat ini juga menyiapkan pasangannya di (55:10), yang memakai kata kerja sama untuk bumi. Langit ditinggikan dan timbangan ditegakkan di sini; bumi diletakkan bagi makhluk di sana. Bersama-sama, ketiga ayat ini menyusun sebuah tatanan yang lengkap: langit di atas, timbangan sebagai ukuran, dan bumi di bawah sebagai tempat ukuran itu dijalankan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah tidak menaruh timbangan sebagai urusan kecil yang disisipkan setelah pembahasan besar tentang langit selesai. Timbangan disebut dalam kalimat yang sama, dengan kata kerja yang sepadan bobotnya, seolah menegakkan keadilan dalam sekadar urusan menimbang barang setara pentingnya dengan meninggikan langit. Sesuatu yang di mata manusia terasa remeh, sekadar alat dagang, ternyata ditaruh sejajar dengan salah satu penciptaan paling besar yang bisa dibayangkan, dalam satu tarikan napas kalimat yang sama.
  • Langit ditinggikan, sesuatu yang terjadi sekali dan selesai. Timbangan diletakkan, tapi maknanya baru akan hidup kalau terus dipakai dan dijaga oleh manusia setiap hari. Allah menyelesaikan bagian-Nya di langit, lalu menaruh timbangan sebagai sesuatu yang harus terus-menerus ditegakkan ulang oleh setiap orang yang memakainya. Satu tindakan ilahi yang selesai sejak semula, satu tindakan lain yang justru baru bermula dan menunggu peran manusia untuk melanjutkannya setiap hari.
  • Kata untuk timbangan di ayat ini dan kata untuk menimbang di ayat sesudahnya berasal dari akar yang sama, hanya berbeda bentuk. Ini seperti mengingatkan bahwa memiliki alat ukur yang tepat tidak ada gunanya kalau perbuatan menimbangnya sendiri tidak dijaga. Alat dan tindakan berasal dari sumber gagasan yang sama, dan salah satu tanpa yang lain tidak cukup untuk menegakkan keadilan yang dimaksud. Memiliki neraca yang akurat tidak berarti apa-apa di tangan orang yang memilih curang saat memakainya.
  • Kata kerja yang menaruh timbangan di sini adalah kata kerja yang sama yang dipakai untuk menaruh bumi bagi seluruh makhluk beberapa ayat kemudian. Timbangan yang tidak kelihatan wujud tunggalnya disandingkan dengan bumi yang sangat nyata dan bisa dipijak. Ini menyamakan derajat sesuatu yang abstrak, keadilan, dengan sesuatu yang paling konkret dalam pengalaman manusia sehari-hari, tempat berdiri, seakan keduanya sama-sama fondasi yang tanpanya kehidupan tidak bisa berjalan wajar.
  • Kata yang sama untuk timbangan muncul di ayat-ayat tentang berdagang jujur dan di ayat-ayat tentang kitab yang diturunkan bersama para rasul. Satu kata menghubungkan urusan sehari-hari di pasar dengan urusan besar tentang wahyu dan keadilan sosial. Bagi pembaca, ini berarti tidak ada pemisah tegas antara kejujuran dalam hal kecil dan kebenaran dalam hal besar, keduanya diukur dengan alat yang sama, dan mengabaikan yang kecil bukan pelanggaran yang lebih ringan dari mengabaikan yang besar. Kalau Allah memakai kata yang sama untuk pasar dan untuk kitab suci, masih pantaskah kejujuran berdagang dianggap urusan sepele?
  • Timbangan yang dipakai manusia untuk berdagang biasanya benda buatan tangan sendiri, dari logam atau kayu. Tapi ayat ini menaruh asal-usul gagasan timbangan itu pada saat langit diciptakan, jauh sebelum manusia ada dan mulai berdagang. Alat yang terasa sepenuhnya buatan manusia ternyata, menurut ayat ini, mewakili sebuah ukuran yang sudah ditetapkan sebelum manusia sempat menciptakan versinya sendiri dari kayu dan logam, seolah manusia hanya menemukan kembali sesuatu yang sudah ada.