قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِي ۖ وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ
Katakanlah, “Jika aku sesat, sesungguhnya aku sesat untuk diriku sendiri, dan jika aku mendapat petunjuk, hal itu disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia mendengar lagi dekat.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِيqul in dalaltu fa-innamaa adillu alaa nafsiikatakanlah, jika aku sesat, sesungguhnya aku sesat untuk diriku sendiri
- وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌwa-ini htadaytu fa-bimaa yuuhii ilayya rabbii innahu samii'un qariibundan jika aku mendapat petunjuk, hal itu disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku; sesungguhnya Dia mendengar lagi dekat
Aplikasi
Pembagian tanggung jawab yang jujur: 'jika aku sesat, aku sesat untuk diriku sendiri; jika mendapat petunjuk, itu karena wahyu Tuhanku', kerendahan hati yang menempatkan kesalahan pada diri sendiri dan pencapaian pada anugerah, pola sikap yang layak diteladani siapa pun yang mengklaim kebenaran.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
sebutan diterjemahkan 'mendengar' per takrif corpus; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi smE/bSr: samii' diterjemahkan 'mendengar', basiir diterjemahkan 'melihat', verba melekat pada pelaku seragam Allah+manusia (Bandingkan 76:2, 11:24, 35:19); takrif diterjemahkan 'Yang Mendengar'/'Yang Melihat' (: takrif-verba pakai 'Yang'); indefinit kecil tanpa Maha. Verba sami'a/absara + sam'/basar + basiirah/basaa'ir = pemakaian diteruskan (cabang mata-hati didokumentasi). Kolisi 'melihat'⟷ra'aa = utang terbuka bedah r-'-y. of dariir'; cabang-2: 'endowed with mental perception'. ⟶ akar q-r-b KLASIFIKASI: *qariib* di sini, bukan nama Ilahi. Corpus: qariybN, dan **sejajar dgn *samii'un*** dalam kalimat yang sama (*innahu samii'un qariib*). Sebelumnya keduanya diperlakukan BEDA: *samii'* diterjemahkan 'mendengar' ( lepas 'Maha') tapi *qariib* diterjemahkan 'Maha Dekat', bukti bahwa 'Maha' di sini sisa warisan, bukan keputusan. Kini seragam: 'mendengar lagi '. Semua *qariib* yang menyifati Allah INDEFINIT (2:186, 7:56, 11:61, 33:63, 34:50); tak pernah ada *al-Qariib* takrif sbg nama. Koreksi KATEGORI, bukan makna.