وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

Mengapa ketika kalian mendengarnya, kalian tidak berkata, "Tidak pantas bagi kami membicarakan ini. Mahasuci Engkau. Ini fitnah yang agung"?

Terjemahan bertahap (4 jeda)
  1. وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْwa-lawlaa idz sami'tumuuhu qultummengapa ketika kalian mendengarnya kalian tidak berkata
  2. مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَاmaa yakuunu lanaa an natakallama bi-haadzaatidak pantas bagi kami membicarakan ini
  3. سُبْحَانَكَsubhaanakaMahasuci Engkau
  4. هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌhaadzaa buhtaanun azhiimunini fitnah yang agung
Aplikasi

Ayat ini memberi skrip konkret yang seharusnya diucapkan sebelum ikut membicarakan sesuatu yang belum jelas: 'tidak pantas bagi kita membicarakan ini', sebuah jeda refleksif sebelum bicara, bukan sekadar cek kebenaran setelahnya. Konkretnya: bangun kebiasaan nyata untuk berhenti sejenak di momen tergoda bergosip dan bertanya apakah topik itu pantas dibicarakan sama sekali, bukan hanya mempertanyakan apakah kabarnya benar.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

ayat verba/nomina smE-bSr non-sebutan: pemakaian diteruskan terjemahan lain (mendengar/melihat/pendengaran/penglihatan konsisten); pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi smE/bSr: samii' diterjemahkan 'mendengar', basiir diterjemahkan 'melihat', verba melekat pada pelaku seragam Allah+manusia (Bandingkan 76:2, 11:24, 35:19); takrif diterjemahkan 'Yang Mendengar'/'Yang Melihat' (: takrif-verba pakai 'Yang'); indefinit kecil tanpa Maha. Verba sami'a/absara + sam'/basar + basiirah/basaa'ir = pemakaian diteruskan (cabang mata-hati didokumentasi). Kolisi 'melihat'⟷ra'aa = utang terbuka bedah r-'-y. of dariir'; cabang-2: 'endowed with mental perception'.