وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan Zun Nun, ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, “Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.”

Terjemahan bertahap (4 jeda)
  1. وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًاwa-dzaa n-nuuni idz dzahaba mughaadibandan Zun Nun, ketika ia pergi dalam keadaan marah
  2. فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِfa-zhanna an lan naqdira alayhilalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya
  3. فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَfa-naadaa fii zh-zhulumaati an laa ilaaha illaa anta subhaanakamaka ia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau
  4. إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَinnii kuntu mina zh-zhaalimiinasesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim
Aplikasi

Kejujuran luar biasa Yunus mengakui kesalahannya sendiri: 'aku termasuk orang-orang zalim', pengakuan diri yang tulus di tengah kegelapan yang berlapis-lapis, sebuah model pertobatan yang langsung dan tanpa alasan pembenaran diri. Konkretnya: mengakui kesalahan diri sendiri secara langsung dan jujur (tanpa mencari pembenaran) bahkan di momen paling sulit sekalipun adalah kekuatan karakter yang dicontohkan Yunus, kejujuran terhadap diri sendiri adalah langkah pertama menuju pemulihan.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

qdr per konvensi; per kelas morfologi corpus; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi qdr: qadiir diterjemahkan 'berkuasa'; qaadir diterjemahkan 'kuasa' (75:40/86:8 terjemahan lain jujur); muqtadir diterjemahkan 'berkuasa penuh'; qadar diterjemahkan kadar/ketentuan/ukuran; Lailatulqadar=nama; cabang ukur-sempit pemakaian diteruskan.