كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا
Kedua kebun itu menghasilkan buahnya dan tidak mengurangi sedikit pun darinya, dan Kami alirkan sungai di celah keduanya.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَاkiltaa l-jannatayni aatat ukulahaakedua kebun itu menghasilkan buahnya
- وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًاwa-lam tazhlim minhu shay'andan tidak mengurangi sedikit pun darinya
- وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًاwa-fajjarnaa khilaalahumaa naharandan Kami alirkan sungai di celah keduanya
Aplikasi
Kedua kebun 'menghasilkan buahnya dan tidak mengurangi sedikit pun', produktivitas penuh yang seharusnya memicu syukur, namun (seperti akan terlihat) justru memicu respons yang berbeda dari pemiliknya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain & mayoritas terjemahan Indonesia merender 'tidak berkurang (buahnya) sedikit pun', sudah tepat, tidak ada yang perlu dibongkar. Yang menarik justru sebaliknya: GERRANS memaksakan 'and were WRONGED nothing thereof', dan hasilnya janggal secara tata bahasa Inggris. Ini contoh terbalik dari pola biasa, di sini justru terjemahan tradisional yang lebih setia pada konteks, dan pembacaan 'konsisten satu kata' yang tergelincir. Konsistensi leksikal terjemahan ini dijaga DALAM cabang, bukan lintas cabang/konteks: sebagaimana 'dayn'='utang' di bawah akar diin, dan 'sullam'='tangga' di bawah akar s-l-m, maka zh-l-m dengan subjek non-moral diterjemahkan 'mengurangi'. Bandingkan idiom 'tidak dizalimi sedikit pun' (4:40 dharrah, 4:49/4:77/17:71 fatiilan, 4:124 naqiiran, 19:60/21:47/36:54 shay'an), di situ objeknya JIWA/manusia, jadi 'dizalimi' tetap dipakai. Pembedanya bukan selera, melainkan ada/tidaknya pelaku moral., di sini sebagian penerjemah TERGELINCIR: 'were wronged nothing thereof' janggal secara tata bahasa dan memaksakan pelaku moral pada kebun. Contoh bahwa konsistensi akar yang dipaksakan bisa merusak, pelajaran yang berlaku untuk metode kita juga. akar zh-l-m (Zlm), lema Zalama, bentuk 'tazhlim' (verba, subjek feminin = al-jannatayn/kebun). Diverifikasi corpus Leeds: akar ini 290 ayat / 315 kemunculan. INI SATU-SATUNYA kemunculan zh-l-m dengan subjek NON-MORAL, kebun tak punya 'hak' untuk dilanggar, jadi 'menzalimi' tak muat.