Ayat 18:32

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا

Dan buatkanlah bagi mereka perumpamaan, dua orang laki-laki; Kami beri salah satunya dua kebun anggur, dan Kami kelilingi keduanya dengan pohon-pohon kurma, dan Kami buatkan di antara keduanya ladang.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِwa-dhrib lahum matsalan rajulaynidan buatkanlah bagi mereka perumpamaan, dua orang laki-laki
  2. جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍja'alnaa li-ahadihimaa jannatayni min a'naabinKami beri salah satunya dua kebun anggur
  3. وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًاwa-hafafnaahumaa bi-nakhlin wa-ja'alnaa baynahumaa zar'andan Kami kelilingi keduanya dengan pohon-pohon kurma, dan Kami buatkan di antara keduanya ladang

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَاضْرِبْwa-dhribdan buatlah
  2. لَهُمْlahumbagi mereka
  3. مَثَلًاmatsalanperumpamaan
  4. رَجُلَيْنِrajulaynidua orang laki-laki
  5. جَعَلْنَاja'alnaaKami menjadikan
  6. لِأَحَدِهِمَاli-ahadihimaakepada salah seorang dari keduanya
  7. جَنَّتَيْنِjannataynidua kebun
  8. مِنْmindari
  9. أَعْنَابٍa'naabinanggur
  10. وَحَفَفْنَاهُمَاwa-hafafnaahumaadan Kami mengelilingi keduanya
  11. بِنَخْلٍbi-nakhlindengan pohon kurma
  12. وَجَعَلْنَاwa-ja'alnaadan Kami menjadikan
  13. بَيْنَهُمَاbaynahumaaantara keduanya
  14. زَرْعًاzar'antanaman

Inti bacaan

Perumpamaan dua kebun yang subur dimulai, persiapan narasi yang akan menyingkap bagaimana kelimpahan material bisa memicu kesombongan yang merusak jika tidak diimbangi kesadaran spiritual.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini membuka perumpamaan baru: dua orang dengan kepemilikan sangat berbeda, sebuah kerangka yang akan menguji nilai relatif kekayaan duniawi dibanding keimanan sepanjang ayat-ayat berikutnya.

Tafsiran

Perumpamaan ini menyambung tema 'kefanaan perhiasan bumi' (18:7-8) dengan kisah konkret: seorang pemilik kebun mewah akan segera menunjukkan bagaimana kekayaan bisa menjadi sumber kesombongan yang berbahaya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyuruh membuat perumpamaan, bukan menyebut peristiwa. Cerita. Yang dipakai mengajar sesuatu yang tak perlu benar-benar terjadi.
  • Kekayaannya dirinci: dua kebun anggur, dikelilingi kurma, di antaranya ladang. Berlapis. Rincian itu menyiapkan pembacanya untuk apa yang runtuh nanti.
  • Allah menyebut Kami beri salah satunya. Bukan ia memperoleh. Sejak kalimat pertama sudah disebutkan dari mana kekayaan itu datang.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar d-r-b, m-ts-l, r-j-l, j-'-l, a-h-d, j-n-n, '-n-b, h-f-f, n-kh-l, b-y-n, z-r-'): drib matsalan diterjemahkan 'buatkanlah perumpamaan' (akar d-r-b); jannatayn min a'naab diterjemahkan 'dua kebun anggur'; hafafnaahumaa diterjemahkan 'mengelilingi keduanya' (akar h-f-f); zar' diterjemahkan 'ladang' (akar z-r-'). gloss '(Nabi Muhammad)/(yang kufur)' dibuang.

Ayat 18:33

كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا

Kedua kebun itu menghasilkan buahnya dan tidak mengurangi sedikit pun darinya, dan Kami alirkan sungai di celah keduanya.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَاkiltaa l-jannatayni aatat ukulahaakedua kebun itu menghasilkan buahnya
  2. وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًاwa-lam tazhlim minhu syay'andan tidak mengurangi sedikit pun darinya
  3. وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًاwa-fajjarnaa khilaalahumaa naharandan Kami alirkan sungai di celah keduanya

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. كِلْتَاkiltaakedua
  2. الْجَنَّتَيْنِl-jannataynidua kebun
  3. آتَتْaatatmemberikan
  4. أُكُلَهَاukulahaabuahnya
  5. وَلَمْwa-lamdan tidak
  6. تَظْلِمْtazhlimmenzalimi
  7. مِنْهُminhudarinya
  8. شَيْئًاsyay'ansedikit pun
  9. وَفَجَّرْنَاwa-fajjarnaadan Kami mengalirkan
  10. خِلَالَهُمَاkhilaalahumaadi antara keduanya
  11. نَهَرًاnaharansungai

Inti bacaan

Kedua kebun 'menghasilkan buahnya dan tidak mengurangi sedikit pun', produktivitas penuh yang seharusnya memicu syukur, namun (seperti akan terlihat) justru memicu respons yang berbeda dari pemiliknya.

Penjelasan pilihan kata

'Mengurangi' (tazhlim): akar yang sama dengan 'menzalimi' (zhalama) yang dipakai luas di seluruh terjemahan ini, tetapi di sini satu-satunya kemunculan akar ini dengan subjek non-manusia (kebun), 'menzalimi' tidak masuk akal untuk subjek tanpa kehendak moral, sehingga diterjemahkan 'mengurangi', sebuah facet yang diverifikasi langsung oleh Lane's Lexicon yang mengutip ayat ini sendiri sebagai contoh makna 'berkurang/gagal memenuhi', bukan penyimpangan dari disiplin konsistensi akar, melainkan pengakuan bahwa akar ini punya dua cabang makna (moral dan non-moral) yang sudah dipisahkan sejak awal proyek ini.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan produktivitas sempurna kedua kebun: hasil penuh tanpa kekurangan, disertai aliran sungai yang menambah kesuburannya, sebuah gambaran kemakmuran yang akan segera memicu kesombongan pemiliknya di ayat berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang sama untuk 'menzalimi' di sini berarti 'mengurangi/gagal memenuhi' karena subjeknya adalah kebun, bukan pelaku moral, sebuah pengingat bahwa makna sebuah akar kata bisa bercabang sesuai jenis subjeknya, dan menuntut konsistensi mekanis tanpa memperhatikan konteks tata bahasa justru bisa menghasilkan terjemahan yang janggal.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain & mayoritas terjemahan Indonesia menerjemahkan 'tidak berkurang (buahnya) sedikit pun', sudah tepat, tidak ada yang perlu dibongkar. Yang menarik justru sebaliknya: sebagian penerjemah memaksakan bentuk pasif berpelaku di situ, dan hasilnya janggal. Ini contoh terbalik dari pola biasa, di sini justru terjemahan tradisional yang lebih setia pada konteks, dan pembacaan 'konsisten satu kata' yang tergelincir. Konsistensi leksikal terjemahan ini dijaga DALAM cabang, bukan lintas cabang/konteks: sebagaimana 'dayn'='utang' di bawah akar diin, dan 'sullam'='tangga' di bawah akar s-l-m, maka zh-l-m dengan subjek non-moral diterjemahkan 'mengurangi'. Bandingkan idiom 'tidak dizalimi sedikit pun' (4:40 dharrah, 4:49/4:77/17:71 fatiilan, 4:124 naqiiran, 19:60/21:47/36:54 syay'an), di situ objeknya JIWA/manusia, jadi 'dizalimi' tetap dipakai. Pembedanya bukan selera, melainkan ada/tidaknya pelaku moral., di sini sebagian penerjemah TERGELINCIR: bentuk pasif berpelaku di situ janggal, dan ia memaksakan pelaku moral pada kebun. Contoh bahwa konsistensi akar yang dipaksakan bisa merusak, pelajaran yang berlaku untuk metode kita juga. akar zh-l-m (Zlm), lema Zalama, bentuk 'tazhlim' (verba, subjek feminin = al-jannatayn/kebun). Diverifikasi corpus Leeds: akar ini 290 ayat / 315 kemunculan. INI SATU-SATUNYA kemunculan zh-l-m dengan subjek NON-MORAL, kebun tak punya 'hak' untuk dilanggar, jadi 'menzalimi' tak muat.

Ayat 18:34

وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

Dan ia memiliki buah-buahan, lalu ia berkata kepada kawannya, ketika ia bercakap-cakap dengannya, “Aku lebih banyak hartanya daripada engkau dan lebih digdaya pengikutnya.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌwa-kaana lahu tsamarundan ia memiliki buah-buahan
  2. فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُfa-qaala li-shaahibihi wa-huwa yuhaawiruhulalu ia berkata kepada kawannya, ketika ia bercakap-cakap dengannya
  3. أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًاanaa aktsaru minka maalan wa-a'azzu nafaranaku lebih banyak hartanya daripada engkau dan lebih digdaya pengikutnya

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
  2. لَهُlahubaginya
  3. ثَمَرٌtsamarunbuah
  4. فَقَالَfa-qaalalalu ia berkata
  5. لِصَاحِبِهِli-shaahibihikepada kawannya
  6. وَهُوَwa-huwasedang ia
  7. يُحَاوِرُهُyuhaawiruhubercakap dengannya
  8. أَنَاanaaaku
  9. أَكْثَرُaktsarukebanyakan
  10. مِنْكَminkadarimu
  11. مَالًاmaalanharta
  12. وَأَعَزُّwa-a'azzudan lebih kuat
  13. نَفَرًاnafaranpengikut

Inti bacaan

Kesombongan mulai muncul: 'hartaku lebih banyak daripadamu dan pengikutku lebih digdaya', perbandingan kompetitif terhadap kawan sendiri menjadi tanda awal kerusakan karakter yang dipicu kelimpahan material.

Penjelasan pilihan kata

'Lebih digdaya' (a'azzu): bentuk elatif dari akar izz, konsisten dengan konvensi 'digdaya' untuk akar ini di seluruh terjemahan ini (band. 16:60), dipertahankan dari 'kuat' yang justru milik akar berbeda (qawiyy).

Tafsiran

Ayat ini menyingkap sikap sombong pemilik kebun: membandingkan diri secara langsung dengan kawannya berdasarkan harta dan jumlah pengikut, sebuah pembukaan yang akan berlanjut menjadi klaim lebih ekstrem di ayat berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam ia membanggakan harta yang lebih banyak dan pengikut yang lebih digdaya. Dua-duanya bisa dihitung. Yang dipakai mengukur diri hal yang paling mudah dibandingkan.
  • Allah menyisipkan keterangan bahwa itu diucapkan dalam percakapan. Bukan pidato. Kesombongan yang paling biasa muncul di obrolan sehari-hari.
  • Yang diajak bicara disebut kawannya. Bukan lawan. Perbandingan yang menyakitkan diucapkan kepada orang yang paling dekat.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

a'azzu nafaran = elatif diterjemahkan 'pengikutku lebih digdaya' (terjemahan lain 'lebih kuat', menabrak qawiyy); 'hartamu' = maalan-KA 2MS SAH. Konvensi zz: al-'Aziiz TAKRIF diterjemahkan 'Sang Digdaya' (KBBI: 'tidak terkalahkan'), indefinit diterjemahkan 'digdaya' (tanpa Maha), izzah diterjemahkan 'kedigdayaan' (satu kata, uji ayat argumen 35:10, 4:139, 10:65, 63:8), gelar Mesir diterjemahkan 'al-'Aziiz'. Pembeda in-formula: qawiyyun aziiz 7× (≠'kuat'), aziizin muqtadir 54:42 (≠'kuasa'), al-'aziiz al-jabbaar 59:23. Cabang alaa: 9:128 'berat terasa', 14:20/35:17 'tidak sulit'. Antonim internal: izz⟷dzull (3:26, 63:8, 27:34). jg 'The Incomparable'. Gelar raja Mesir (2032): 'a surname; like Qaysar'.

Ayat 18:35

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

Dan ia memasuki kebunnya sedang ia menzalimi dirinya sendiri; ia berkata, “Aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِwa-dakhala jannatahu wa-huwa zhaalimun li-nafsihidan ia memasuki kebunnya sedang ia menzalimi dirinya sendiri
  2. قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًاqaala maa azhunnu an tabiida haadzihi abadania berkata, aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. وَدَخَلَwa-dakhaladan masuk
  2. جَنَّتَهُjannatahukebunnya
  3. وَهُوَwa-huwasedang ia
  4. ظَالِمٌzhaalimunyang zalim
  5. لِنَفْسِهِli-nafsihiuntuk dirinya
  6. قَالَqaalaberkata
  7. مَاmaatidaklah
  8. أَظُنُّazhunnuaku mengira
  9. أَنْanbahwa
  10. تَبِيدَtabiidabinasa
  11. هَٰذِهِhaadzihiini
  12. أَبَدًاabadanselamanya

Inti bacaan

Klaim berlebihan yang keliru: 'aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya', proyeksi permanensi terhadap sesuatu yang inherently sementara, sebuah kesalahan berpikir yang klasik dan berulang.

Penjelasan pilihan kata

'Menzalimi dirinya sendiri' (zhaalimun li-nafsihi): di sini akar yang sama dengan 18:33 kembali ke facet moral utamanya (subjek manusia dengan kehendak), berbeda dari facet 'mengurangi' yang khusus berlaku untuk kebun di ayat sebelumnya, kontras yang menegaskan pembedaan facet berdasarkan jenis subjek.

Tafsiran

Ayat ini menandai titik balik: kesombongan yang baru diucapkan (18:34) kini diberi label tegas sebagai kezaliman terhadap diri sendiri, sebuah penilaian yang mendahului pernyataan angkuhnya tentang keabadian kebun itu.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyisipkan keterangan bahwa ia menzalimi dirinya sendiri, di tengah kalimat tentang ia memasuki kebunnya. Penilaian diletakkan sebelum ucapannya. Pembacanya sudah tahu duduk perkaranya sebelum mendengar kalimatnya.
  • Allah merekam ucapannya: aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya. Perkiraan disamakan dengan kepastian. Yang belum pernah hilang mudah dikira takkan pernah hilang.
  • Allah merekam seluruh kalimatnya tanpa satu pun sebutan tentang siapa yang menumbuhkan kebun itu. Yang hilang bukan rasa syukur yang diucapkan salah, melainkan yang tak terpikirkan sama sekali.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar d-kh-l, j-n-n, zh-l-m, n-f-s, q-w-l, zh-n-n, b-y-d, a-b-d): zhaalim li-nafsih diterjemahkan 'menzalimi dirinya' (akar zh-l-m); azhunnu diterjemahkan 'mengira' (akar zh-n-n); tabiida diterjemahkan 'binasa' (akar b-y-d). gloss '(karena angkuh dan kufur)' dibuang.