مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Siapa yang kufur kepada Allah setelah keimanannya , kecuali orang yang dipaksa, sedangkan hatinya tenang dengan keimanan , tetapi siapa yang melapangkan dada untuk kekufuran, maka atas mereka kemurkaan dari Allah, dan bagi mereka azab yang agung.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِman kafara billaahi min ba'di iimaanihisiapa yang kufur kepada Allah setelah keimanannya
- إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِillaa man ukriha wa-qalbuhu mutma'innun bi-l-iimaanikecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tenang dengan keimanan
- وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًاwa-laakin man sharaha bi-l-kufri sadrantetapi siapa yang melapangkan dada untuk kekufuran
- فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌfa-alayhim ghadabun mina llaahi wa-lahum adzaabun azhiimunmaka atas mereka kemurkaan dari Allah, dan bagi mereka azab yang agung
Aplikasi
Pengecualian penting: orang yang dipaksa mengucapkan kekufuran dengan 'hatinya tetap tenang dengan keimanan' dibebaskan dari dosa, kontras dengan yang 'berlapang dada' menerima kekufuran secara sukarela, pembedaan tegas antara keterpaksaan eksternal dan keputusan batin yang genuine. Konkretnya: keadaan batin/niat yang sesungguhnya (bukan sekadar tindakan lahiriah di bawah tekanan) menjadi penentu utama tanggung jawab moral, perbedaan ini penting dipahami baik saat menilai diri sendiri dalam situasi terpaksa maupun saat menilai orang lain.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
azhiim diterjemahkan 'agung' (indefinit, tanpa Maha; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama pemakaian diteruskan. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja. akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.