وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Demikianlah, Tuhanmu memilihmu dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil tuturan, serta menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia menyempurnakannya kepada kedua leluhurmu sebelum ini: Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu berilmu lagi penuh hikmah.

Terjemahan bertahap (30 jeda)
  1. وَwa-dan
  2. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  3. يَجْتَبِيكَyajtabiikamemilihmu
  4. رَبُّكَrabbukaTuhanmu
  5. وَwa-dan
  6. يُعَلِّمُكَyu'allimukamengajarkan kepadamu
  7. مِنْminsebagian dari
  8. تَأْوِيلِta'wiilitakwil
  9. الْأَحَادِيثِal-ahaadiitsituturan
  10. وَwa-dan
  11. يُتِمُّyutimmumenyempurnakan
  12. نِعْمَتَهُni'matahunikmat-Nya
  13. عَلَيْكَalaykakepadamu
  14. وَwa-dan
  15. عَلَىٰalaakepada
  16. آلِaalikeluarga
  17. يَعْقُوبَYa'quubaYa'qub
  18. كَمَاkamaasebagaimana
  19. أَتَمَّهَاatammahaaDia menyempurnakannya
  20. عَلَىٰalaakepada
  21. أَبَوَيْكَabawaykakedua leluhurmu
  22. مِنْmindari
  23. قَبْلُqablusebelum
  24. إِبْرَاهِيمَIbraahiimaIbrahim
  25. وَwa-dan
  26. إِسْحَاقَIshaaqaIshaq
  27. إِنَّinnasesungguhnya
  28. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  29. عَلِيمٌaliimunberilmu
  30. حَكِيمٌhakiimunpenuh hikmah
Penjelasan pilihan kata

Kata yang di sini diterjemahkan 'tuturan' (al-ahaadiits, bentuk jamak dari hadiits) sering ditransliterasi begitu saja menjadi 'hadits' dalam banyak terjemahan lain , tapi itu longsoran makna dari belakang. Akar kata ini (h-d-ts) secara literal berarti 'terjadi, muncul, menjadi baru', lawan dari 'lama'. Bentuk bendanya, secara umum dalam bahasa Arab, berarti apa saja yang dikisahkan, diberitakan, atau dituturkan , sebuah percakapan, sebuah laporan peristiwa, sebuah kisah yang disampaikan dari mulut ke mulut. Makna sempit 'kumpulan riwayat resmi ucapan dan tindakan Nabi Muhammad' baru berkembang belakangan, sebagai salah satu cabang makna yang lahir dari makna umum ini , bukan makna aslinya di masa Al-Qur'an turun. Menerjemahkan kata ini sebagai 'hadits' di teks Al-Qur'an sendiri, karenanya, berisiko menyisipkan makna teknis yang sebenarnya baru lahir belakangan.

Rentang pemakaian kata ini di seluruh Al-Qur'an (kurang lebih 26 kali) mendukung makna yang luas ini. Ia dipakai untuk percakapan biasa antarmanusia (tamu yang berlama-lama mengobrol usai makan, orang-orang yang beralih topik menjauhi ayat yang diperolok-olokkan), untuk Al-Qur'an menyebut dirinya sendiri ('tuturan terbaik', lengkap dengan tantangan kepada pengingkar untuk mendatangkan tandingannya), untuk kisah tentang tokoh tertentu (tuturan tentang Musa, tuturan tentang tamu Ibrahim), bahkan untuk nasib kaum yang dibinasakan yang 'dijadikan tuturan' , maksudnya dijadikan bahan pembicaraan sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya. Rentang seluas inilah yang coba dipertahankan lewat satu kata Indonesia yang cukup luas, alih-alih dipersempit tergantung konteks setempat.

Khusus di ayat ini dan dua ayat lain tentang karunia Yusuf (12:21, 12:101), frasa 'takwil al-ahaadiits' lazim diterjemahkan 'takwil mimpi'. Tapi Al-Qur'an sendiri punya kata terpisah untuk 'mimpi, penglihatan' (ru'yaa) , dipakai di ayat lain dalam surah ini justru untuk mimpi itu sendiri. Di sini kata yang dipilih bukan itu, melainkan al-ahaadiits: tuturan, hal yang dituturkan, dalam makna yang lebih luas. Karunia Yusuf yang digambarkan ayat ini karenanya bukan sekadar 'bisa menafsirkan mimpi', melainkan kemampuan memahami makna di balik apa yang dituturkan kepadanya , yang dalam praktiknya memang banyak berupa mimpi orang lain, tapi kata yang dipakai Al-Qur'an sendiri tidak menyempit sejauh itu.

'Tuturan' dipilih, di antara beberapa kandidat lain, karena cukup luas mencakup seluruh rentang pemakaian di atas tanpa terikat pada satu konteks saja, dan karena tidak bertabrakan dengan kata yang sudah dipakai konsisten untuk akar Arab lain dalam terjemahan ini: 'kisah' untuk qasas (bentuk cerita/narasi, seperti pada penutup ayat 12:3), 'berita' untuk khabar (laporan/warta), dan 'perkataan' untuk qawl (akar yang sangat umum, dipakai lebih dari seribu kali, untuk kata 'berkata'/'ucapan'). Menjaga ketiga akar ini tetap terpisah di terjemahan Indonesia, alih-alih melebur jadi sinonim yang saling tertukar, adalah bagian dari upaya menjaga kesetiaan kata demi kata.

Tafsiran

Ayat ini menutup adegan pembuka dengan menempatkan Yusuf dalam rantai pewarisan yang sama dengan pola pemilihan lintas-generasi: dari Ibrahim, ke Ishaq, ke Ya'qub, dan kini ke Yusuf. Kemampuan menakwilkan tuturan yang disebut di sini , yang dalam kisah ini terutama terwujud sebagai penakwilan mimpi , bukan detail sampingan , itulah kemampuan yang kelak menyelamatkan hidupnya di penjara dan mengantarkannya ke kedudukan tinggi.

Implikasi (1)
  • Kemampuan menakwilkan tuturan yang dijanjikan di sini baru terlihat manfaatnya berbab-bab kemudian , pola yang berulang di seluruh kisah Yusuf: karunia yang diberikan di awal sering tidak langsung terlihat gunanya sampai jauh kemudian.