وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ ۗ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ ۖ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memberitahukan bahwa sungguh Dia akan mengirimkan kepada mereka sampai hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan seburuk-buruk azab kepada mereka. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya, dan sesungguhnya Dia pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (3 jeda)
  1. وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِwa-idz ta'adzdzana rabbuka la-yab'atsanna alayhim ilaa yawmi l-qiyaamati man yasuumuhum suu'a l-adzaabidan ingatlah ketika Tuhanmu memberitahukan bahwa sungguh Dia akan mengirimkan kepada mereka sampai hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan seburuk-buruk azab kepada mereka
  2. إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِinna rabbaka la-sarii'u l-iqaabisesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya
  3. وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌwa-innahu la-ghafuurun rahiimundan sesungguhnya Dia pengampun lagi pengasih
Aplikasi

Pengumuman konsekuensi jangka panjang ('sampai hari Kiamat') langsung disandingkan dengan 'pengampun lagi pengasih', keseriusan konsekuensi dan sifat pengampun disebutkan bersamaan, bukan saling meniadakan. Konkretnya: konsekuensi jangka panjang dari sebuah pola pelanggaran (baik pribadi maupun kolektif) bisa nyata dan serius, sekaligus tetap ada ruang untuk pengampunan, dua hal ini tidak saling menghapus, melainkan berjalan berdampingan sebagai bagian dari sistem akuntabilitas yang menyeluruh.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya, superlatif yang di teks. *Ghafuur* berpola *fa'uul* & *rahiim* berpola *fa'iil*: intensif, superlatif (bandingkan *arham*, pola *af'al* = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151)., kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik KEMENAG SENDIRI: di ia menulis *rahiim* diterjemahkan “penyayang”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus muncul di, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8)., dan itu penting: *ghafara* = (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), *rahima* =. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. bahwa *ghafuur* & *rahiim* memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul di dekat *rahiim* tapi hanya di dekat *rahmaan*, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan *rahmaan* ≠ *rahiim*. Akar tetangga yang BELUM diputuskan (*'aziiz*, *hakiim*, *haliim*, *'aliim* dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Rujukan:, Corpus ayat ini: = LEM:gafuwr ROOT:gfr,; = LEM:r~aHiym ROOT:rHm,. Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.