قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰ أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۖ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah, “Apakah kita akan memohon kepada selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat kepada kita dan tidak pula mendatangkan mudarat kepada kita, dan kita dikembalikan ke belakang setelah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang disesatkan setan-setan di bumi dalam keadaan bingung, ia mempunyai kawan-kawan yang mengajaknya ke jalan petunjuk, ‘Datanglah kepada kami’?” Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang sebenarnya. Dan kita diperintahkan agar berserah diri kepada Tuhan seisi alam,

Terjemahan bertahap (3 jeda)
  1. قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰ أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَاqul a-nad'uu min duuni llaahi maa laa yanfa'unaa wa-laa yadurrunaa wa-nuraddu alaa a'qaabinaa ba'da idz hadaanaa llaahu ka-lladzii stahwatsu sh-shayaatiinu fii l-ardi hayraana lahu ashaabun yad'uunahu ilaa l-hudaa tinaakatakanlah, apakah kita akan memohon kepada selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat kepada kita dan tidak pula mendatangkan mudarat kepada kita, dan kita dikembalikan ke belakang setelah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang disesatkan setan-setan di bumi dalam keadaan bingung, ia mempunyai kawan-kawan yang mengajaknya ke jalan petunjuk, datanglah kepada kami
  2. قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰqul inna hudaa llaahi huwa l-hudaakatakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang sebenarnya
  3. وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَwa-umirnaa li-nuslima li-rabbi l-aalamiinadan kita diperintahkan agar berserah diri kepada Tuhan seisi alam
Aplikasi

Analogi 'seperti orang yang disesatkan setan dalam keadaan kebingungan' bagi yang kembali menyembah sesuatu yang 'tidak memberi manfaat/mudarat' setelah diberi petunjuk menggambarkan kemunduran sebagai kebingungan, bukan kemajuan. Konkretnya: kembali ke kebiasaan/keyakinan lama yang sudah terbukti tidak bermanfaat setelah menemukan jalan yang lebih jelas adalah kemunduran yang layak dihindari secara sadar, investasi dalam pemahaman yang sudah diperoleh susah payah sebaiknya dijaga, bukan ditinggalkan begitu saja karena ajakan kembali ke kebiasaan lama.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain merender s-l-m di sini via 'berserah'. terjemahan ini menyeragamkan DALAM cabang keberserahan; sisi-keadaan (salaam/saliim) = 'keselamatan/damai', TIDAK diseragamkan lintas cabang. Rollout cabang keberserahan akar s-l-m. 'muslim' diterjemahkan 'orang yang berserah diri' meng-universalkan istilah (bdk QS 3:83: seluruh ciptaan 'aslama'), konsisten dgn sikap keberserahan=orientasi hati, bukan keanggotaan institusi (FDI_FRAMEWORK_DIIN). PASS: penyelarasan ulang kau/engkau/kalian menyusul. Diverifikasi corpus Leeds (127 ayat slm; cabang keberserahan 66). Konvensi terjemahan ini: islaam diterjemahkan 'keberserahan(-diri)', aslama diterjemahkan 'berserah diri', muslim diterjemahkan 'orang yang berserah diri'. Lih. Versi lama catatan ini keliru di kedua titik itu;).