وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قُلْ إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَنْ يُنَزِّلَ آيَةً وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu tanda dari Tuhannya?” Katakanlah, “Sesungguhnya Allah berkuasa menurunkan suatu tanda, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِwa-qaaluu law-laa nuzzila alayhi aayatun min rabbihidan mereka berkata, mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu tanda dari Tuhannya
  2. قُلْ إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَنْ يُنَزِّلَ آيَةً وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَqul inna llaaha qaadirun alaa an yunazzila aayatan wa-laakinna aktsarahum laa ya'lamuunakatakanlah, sesungguhnya Allah berkuasa menurunkan suatu tanda, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui
Aplikasi

Tuntutan 'mengapa tidak diturunkan tanda' dijawab bukan dengan 'Allah tidak mampu' tapi 'kebanyakan mereka tidak mengetahui', masalahnya bukan ketersediaan bukti, melainkan kapasitas mengenali bukti yang sudah ada. Konkretnya: saat seseorang terus menuntut 'bukti lebih' padahal sudah banyak bukti tersedia, pertimbangkan bahwa masalahnya mungkin bukan kekurangan data, melainkan kerangka berpikir yang belum siap mengenali data yang ada.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

Ayat ini termasuk 55 yang SENGAJA ditunda di rollout pertama karena terjemahan lain memakai 'bukti/mukjizat/keterangan', kata yang bisa menerjemahkan bayyinah/sultaan, bukan aayah. Diselesaikan setelah pemilahan per-LEMA (bukan akar: akar byn mencakup bayyinah/bayna/mubiin yang beda-beda) dan pembacaan teks per-ayat. Padanan pesaing (bayyinah/sultaan) SENGAJA dipertahankan, hanya aayah yang diganti.