وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

Dan ingatlah ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’” Ia menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah yang mengetahui segala yang gaib.

Terjemahan bertahap (5 jeda)
  1. وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِwa-idz qaala llaahu yaa iisaa bna maryama a-anta qulta li-n-naasi ttakhidzuunii wa-ummiya ilaahayni min duuni llaahidan ingatlah ketika Allah berfirman, wahai Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada manusia, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah
  2. قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّqaala subhaanaka maa yakuunu lii an aquula maa laysa lii bi-haqqinia menjawab, Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku
  3. إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُin kuntu qultuhu fa-qad alimtahujika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau telah mengetahuinya
  4. تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَta'lamu maa fii nafsii wa-laa a'lamu maa fii nafsikaEngkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu
  5. إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِinnaka anta allaamu l-ghuyuubisesungguhnya Engkau, Engkaulah yang mengetahui segala yang gaib
Aplikasi

Respons Isa yang menyangkal tegas, 'tidak patut bagiku mengatakan apa pun yang bukan hakku', menunjukkan kesadaran yang jelas tentang batas peran dan otoritas dirinya sendiri, menolak klaim yang melampaui posisinya meski klaim itu menguntungkan reputasinya. Konkretnya: kejujuran sejati berarti menolak klaim atau pujian berlebihan yang diberikan orang lain kepada diri sendiri, bahkan ketika klaim itu tampaknya menguntungkan, mengetahui dan menegaskan batas kewenangan diri sendiri adalah tanda integritas, bukan kerendahan diri yang dibuat-buat.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain: lema aalim/'allaam ditangani per konvensi (bentuk verbal dijaga); sebutan pasangan yang belum dibedah dipertahankan sementara. Konvensi lm-C1: aliim diterjemahkan 'berilmu' (SATU terjemahan Allah+manusia; takrif diterjemahkan 'Sang Berilmu', indefinit kecil tanpa Maha; berobjek diterjemahkan 'berilmu akan X'); allaam diterjemahkan 'berilmu akan segala yang gaib'; aalim+objek diterjemahkan 'yang mengetahui yang gaib' (lema beda, bukan pembelahan). Bandingkan: penyihir Fir'aun aliim 5×; 12:76. C2 (aalamiin) & C3 (verba/'ilm/a'lam/'allama) menyusul. allaam = intensif ganda ('utmost degree'); ilm = pengetahuan (kata serapan 'ilmu').