مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Allah tidak menetapkan bahiirah, tidak pula saa'ibah, tidak pula wasiilah, dan tidak pula haam; tetapi orang-orang yang kufur mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak menggunakan akal.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍmaa ja'ala llaahu min bahiiratin wa-laa saa'ibatin wa-laa wasiilatin wa-laa haaminAllah tidak menetapkan bahiirah, tidak pula saa'ibah, tidak pula wasiilah, dan tidak pula haam
- وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَwa-laakinna lladziina kafaruu yaftaruuna alaa llaahi l-kadzibatetapi orang-orang yang kufur mengada-adakan kedustaan terhadap Allah
- وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَwa-aktsaruhum laa ya'qiluunadan kebanyakan mereka tidak menggunakan akal
Aplikasi
Empat istilah ternak jahiliah yang dibongkar di sini menunjukkan bahwa aturan pantangan yang tampak religius bisa jadi murni ciptaan manusia yang diklaim atas nama Tuhan, sebuah kritik terhadap tradisi yang dilegitimasi secara palsu. Konkretnya: waspadai aturan atau larangan yang diklaim ajaran agama atau tradisi suci tanpa dasar yang jelas, kemampuan mempertanyakan dan memeriksa asal-usul suatu aturan adalah bentuk penggunaan akal yang dituntut ayat ini.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar j-'-l, a-l-h, b-h-r, s-y-b, w-s-l, h-m-y, k-f-r, f-r-y, k-dz-b, k-ts-r, '-q-l): empat istilah ternak jahiliah (bahiirah/saa'ibah/wasiilah/haam) dipertahankan sbg istilah; yaftaruuna diterjemahkan 'mengada-adakan' (akar f-r-y); laa ya'qiluun diterjemahkan 'tidak menggunakan akal' (akar '-q-l putaran EQL). gloss '(aturan)' dibuang.