وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ

Dan mereka berkata, “Allah mengambil anak.” Mahasuci Dia! Bahkan milik-Nya apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya.

Terjemahan bertahap (4 jeda)
  1. وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًاwa-qaaluu ttakhadza llaahu waladandan mereka berkata, Allah mengambil anak
  2. سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
  3. بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِbal lahu maa fii s-samaawaati wa-l-ardibahkan milik-Nya apa yang di langit dan di bumi
  4. كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَkullun lahu qaanituunasemua tunduk kepada-Nya
Aplikasi

Bantahan terhadap klaim 'Allah punya anak' ditegaskan dengan argumen kepemilikan menyeluruh: 'milik-Nya apa yang di langit dan bumi', Sang Pencipta tak butuh keturunan untuk melanjutkan sesuatu yang sudah sepenuhnya milik-Nya. Konkretnya: konsep kebutuhan akan 'pewaris/penerus' berasal dari keterbatasan makhluk, tidak relevan untuk Pencipta yang tak terbatas, sebuah kerangka untuk memahami mengapa antropomorfisme berlebihan terhadap Tuhan gagal secara logis.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar q-w-l, a-kh-dz, a-l-h, w-l-d, s-b-h, s-m-w, a-r-d, k-l-l, q-n-t): qaanituun diterjemahkan 'tunduk' (akar q-n-t=taat-berkelanjutan, putaran 100); subhaanahu diterjemahkan 'Mahasuci Dia'. Selaras.