قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ
Mereka berkata, “Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu; sungguh sapi-sapi itu serupa bagi kami; dan sungguh kami, jika Allah menghendaki, pasti akan mendapat petunjuk.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَqaaluu du lanaa rabbaka yubayyin lanaa maa hiya inna l-baqara tasyaabaha alaynaa wa-innaa in syaa-a llaahu la-muhtaduunamereka berkata, serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu; sungguh sapi-sapi itu mirip bagi kami, dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan mendapat petunjuk
Penjelasan pilihan kata
Pertanyaan KETIGA: "Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu; sungguh sapi-sapi itu mirip bagi kami." Setelah diberi umur dan warna, mereka mengaku BINGUNG, semua sapi terlihat mirip. Padahal dengan dua kriteria itu seharusnya sudah cukup.
Mereka menambahkan: "dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan mendapat petunjuk", kali ini mereka menyelipkan INSYA ALLAH. Tapi di balik kesalehan verbal itu, pertanyaan mereka tetaplah PENUNDAAN. Kata-kata saleh tidak otomatis membuat niat menjadi bersih.
Tafsiran
Pertanyaan ketiga disertai "insya Allah", tapi konteksnya adalah PENUNDAAN, bukan kepasrahan. Ini adalah contoh bagaimana kata-kata saleh bisa dipakai untuk MENUTUPI keengganan. Mengucapkan insya Allah tidak otomatis membuat tindakan kita benar. Yang menentukan adalah NIAT dan TINDAKAN, bukan formulasinya.
Implikasi (Renungan dan Hikmah, 1)
- Mereka mengucapkan insya Allah, tapi di baliknya ada keengganan yang sama. Kata-kata saleh bisa dipakai untuk MENUTUPI penundaan. Ini peringatan: jangan pakai frasa keagamaan untuk membungkus keengganan. Insya Allah yang tulus adalah kepasrahan; insya Allah yang palsu adalah penundaan yang dibungkus rapi.