وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata, “Apakah engkau menjadikan kami sebagai ejekan?” Ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang jahil.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةًwa-idh qaala muusaa li-qawmihi inna llaaha ya'murukum an tadzbahuu baqaratandan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyembelih seekor sapi
- قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَqaaluu a-tattakhidzunaa huzuwan qaala a'uudzu bi-llaahi an akuuna mina l-jaahiliinamereka berkata, apakah engkau menjadikan kami sebagai ejekan? Musa berkata, aku berlindung kepada Allah dari menjadi orang yang bodoh
Penjelasan pilihan kata
"Ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyembelih seekor sapi", perintah yang SEDERHANA: sembelih sapi. Tapi respons mereka: "Mereka berkata, Apakah engkau menjadikan kami sebagai ejekan?", mereka MENCURIGAI Musa. Bukannya taat, mereka malah balik bertanya dengan nada menantang. "Musa berkata, Aku berlindung kepada Allah dari menjadi orang yang bodoh", Musa menolak tuduhan itu. Ini bukan ejekan; ini PERINTAH.
Dari sini dimulai dialog panjang (2:67-71) yang menunjukkan betapa Bani Israil MEMPERSULIT diri sendiri: setiap kali mereka bertanya lebih detail, perintahnya menjadi lebih spesifik dan lebih sulit. Pola ini menjadi nama surah: AL-BAQARAH, Sapi Betina.
Tafsiran
Dialog sapi betina (2:67-71) adalah kisah yang memberi nama pada seluruh surah. Esensinya: perintah sederhana yang DIPERSULIT oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu. Setiap kali Bani Israil bertanya "seperti apa sapinya?", jawabannya semakin spesifik, dan semakin sulit dipenuhi. Ini adalah pelajaran tentang BAHAYA MEMPERSULIT DIRI SENDIRI dengan pertanyaan yang tidak perlu terhadap perintah yang sudah jelas. Makin banyak bertanya, makin sempit ruang gerak.
Implikasi (Renungan dan Hikmah, 1)
- Satu perintah sederhana: sembelih sapi. Mereka membalas dengan kecurigaan, lalu dengan pertanyaan demi pertanyaan: warna apa? umur berapa? jantan atau betina? Setiap pertanyaan MEMPERSEMPIT pilihan, membuat perintah yang tadinya mudah menjadi semakin sulit. Ini adalah pola yang sering terulang dalam hidup: kita memperumit yang sederhana dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu, lalu mengeluh ketika menjadi sulit. Belajarlah dari Bani Israil: kadang diam dan taat lebih bijak daripada banyak bertanya.