ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۖ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Setelah itu, kalian berpaling. Maka seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, pasti kalian termasuk orang-orang yang rugi.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَtsumma tawallaytum min ba'di dzaalikakemudian kalian berpaling setelah itu
  2. فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَfa-lawlaa fadhlu llaahi alaykum wa-rahmatuhu la-kuntum mina l-khaasiriinamaka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya kalian termasuk orang-orang yang rugi
Penjelasan pilihan kata

"Kemudian kalian berpaling setelah itu", setelah gunung diangkat, setelah perjanjian diambil, setelah kitab diberikan... mereka BERPALING. Kata kerjanya lampau (PERF): mereka SUDAH berpaling. Ini adalah pola yang terus berulang: semakin besar mukjizatnya, semakin cepat mereka melupakannya.

"Maka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya kalian termasuk orang-orang yang rugi", mereka TIDAK dihancurkan. Bukan karena mereka layak, tapi karena KARUNIA dan RAHMAT Allah. Dua kata ini, fadhl (karunia) dan rahmah (rahmat), adalah satu-satunya yang menahan kehancuran. Bukan tobat mereka, bukan perbaikan mereka, melainkan sifat Allah sendiri..

Tafsiran

Setelah adegan gunung yang dramatis di 2:63, mereka BERPALING. Satu ayat setelah perjanjian paling serius dalam sejarah mereka, mereka sudah melanggar. Ini adalah ringkasan dari seluruh hubungan Bani Israil dengan Allah: mukjizat terbesar diikuti pembangkangan tercepat. Tapi ayat ini tidak berhenti di pembangkangan, ia menutup dengan RAHMAT. "Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya..." Kalimat ini adalah PENGAKUAN bahwa kelangsungan hidup Bani Israil, dan semua manusia, bukanlah karena kelayakan mereka, melainkan karena RAHMAT Allah. Ini adalah teologi rahmat dalam bentuknya yang paling murni: kita hidup bukan karena kita baik, tapi karena Dia Maha Pengasih.

Implikasi (Renungan dan Hikmah, 1)
  • Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya kalian termasuk orang-orang yang rugi. Kalimat ini adalah pengakuan bahwa kita semua, bukan hanya Bani Israil, hidup dan bertahan BUKAN karena kebaikan kita, tapi karena RAHMAT-Nya. Dalam momen-momen ketika kita menyadari betapa seringnya kita berpaling setelah diberi petunjuk, seperti Bani Israil setelah gunung diangkat, satu-satunya yang menahan kehancuran adalah rahmat. Bukan prestasi. Bukan tobat yang sempurna. Melainkan sifat Allah yang tidak berhenti mengasihi.