وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji kalian dan Kami angkat gunung itu di atas kalian, “Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepada kalian, dan ingatlah apa yang ada di dalamnya, agar kalian bertakwa.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَwa-idh akhadznaa miitsaaqakum wa-rafanaa fawqakumu th-thuuradan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian kalian dan Kami mengangkat gunung di atas kalian
- خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَkhudzuu maa aataynaakum bi-quwwatin wa-dzkuruu maa fiihi la'allakum tattaquunapeganglah teguh apa yang telah Kami berikan kepada kalian dan ingatlah apa yang ada di dalamnya, agar kalian bertakwa
Penjelasan pilihan kata
"Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian kalian dan Kami mengangkat gunung di atas kalian", gunung DIANGKAT dan DIGANTUNGKAN di atas kepala mereka sebagai tanda fisik dari perjanjian. Bukan sekadar kata-kata; sebuah GUNUNG menjadi saksi dan ancaman sekaligus. "Peganglah teguh apa yang telah Kami berikan kepada kalian dan ingatlah apa yang ada di dalamnya", dua perintah: PEGANG TEGUH (fisik) dan INGAT (mental). Kitab harus dipegang erat DAN diingat isinya. Satu tanpa yang lain tidak cukup: memegang tanpa mengingat adalah ritual kosong; mengingat tanpa memegang adalah pengetahuan tanpa komitmen.
"Agar kalian bertakwa", tujuan akhir dari seluruh perjanjian dan ancaman ini: KETAKWAAN. Gunung yang digantung di atas kepala, kitab yang harus dipegang, isi yang harus diingat, semuanya mengarah ke satu kata: TAKWA. Kesadaran bahwa ada yang MENGAWASI, bahwa setiap tindakan memiliki KONSEKUENSI.
Tafsiran
Gunung yang diangkat di atas kepala, ini adalah gambaran paling dramatis dari perjanjian Allah dengan Bani Israil. Perjanjian itu bukan sekadar kesepakatan verbal; ia disertai TANDA FISIK yang tidak bisa diabaikan: sebuah gunung, melayang, siap jatuh. Ini adalah metafora tentang SERIUSNYA sebuah perjanjian dengan Allah. Ketika gunung itu diangkat, tidak ada yang bisa berpura-pura tidak tahu. Ketika gunung itu mengancam, tidak ada yang bisa menunda. Perjanjian dengan Allah selalu disertai BUKTI yang cukup, dan karena bukti itu sudah diberikan, TIDAK ADA ALASAN untuk melanggarnya.
Implikasi (Renungan dan Hikmah, 1)
- Gunung diangkat di atas kepala, bukan sebagai hukuman, tapi sebagai SAKSI. Sesuatu yang begitu besar, begitu kokoh, begitu tidak bisa diabaikan, digantungkan tepat di atas mereka. Begitulah perjanjian dengan Allah: selalu ada BUKTI yang cukup. Tidak ada yang bisa berkata tidak tahu. Gunung itu adalah simbol dari KESERIUSAN Allah dalam membuat perjanjian, dan KESERIUSAN konsekuensi jika perjanjian itu dilanggar.