وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Dan ingatlah ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Maka memancarlah darinya dua belas mata air. Setiap kelompok telah mengetahui tempat minum mereka. “Makan dan minumlah dari rezeki Allah, dan janganlah berbuat kejahatan di bumi dengan membuat kerusakan.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)
  1. وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَwa-idhi stasqaa muusaa li-qawmihi fa-qulnaa dhrib bi-ashaaka l-hajaradan ingatlah ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, pukullah batu itu dengan tongkatmu
  2. فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْfa-nfajarat minhu itsnataa asyrata aynan qad alima kullu unaasin masyrabahummaka memancarlah darinya dua belas mata air; setiap kelompok telah mengetahui tempat minum mereka
  3. كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَkuluu wa-syrabuu min rizqi llaahi wa-laa tatsaw fii l-ardi mufsidiinamakan dan minumlah dari rezeki Allah, dan janganlah berbuat kejahatan di bumi dengan membuat kerusakan
Penjelasan pilihan kata

"Dan ingatlah ketika Musa memohon air untuk kaumnya", Musa berdoa untuk KAUMNYA, bukan untuk dirinya sendiri. Seorang pemimpin yang memohonkan kebutuhan rakyatnya. Lalu jawaban Allah: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu", perintah yang tampaknya tidak masuk akal: memukul batu untuk mendapatkan air. Tapi justru di situlah intinya: SOLUSI datang dari ARAH yang tidak terduga, melalui TINDAKAN yang tampaknya sia-sia.

"Maka memancarlah darinya dua belas mata air", dari SATU batu, DUA BELAS mata air. Jumlah yang persis sama dengan jumlah suku Bani Israil. Ini bukan kebetulan: pemeliharaan Allah selalu TERUKUR dan TERTATA. Tidak semua air keluar dari satu lubang, itu akan menimbulkan antrean, dorong-dorongan, konflik. Masing-masing suku diberi MATA AIR SENDIRI. "Setiap kelompok telah mengetahui tempat minum mereka", tidak perlu berebut. Keteraturan adalah bagian dari rahmat.

"Makan dan minumlah dari rezeki Allah, dan janganlah berbuat kejahatan di bumi dengan membuat kerusakan", perintah ganda: NIKMATI (makan, minum) dan JANGAN MERUSAK. Kenikmatan yang tidak disertai tanggung jawab akan berubah menjadi KERUSAKAN. Urutannya penting: NIKMATI dulu (Allah memberi), baru LARANGAN (jangan merusak). Anugerah mendahului aturan, sama seperti di 2:35: makanlah dengan leluasa DULU, baru jangan dekati pohon.

Tafsiran

Ayat ini adalah puncak dari pemeliharaan Allah di padang pasir: setelah naungan awan (2:57), setelah manna dan salwa (2:57), kini AIR, kebutuhan paling mendasar untuk bertahan hidup di gurun. Dan caranya spektakuler: dari batu yang dipukul dengan tongkat. Ini mengajarkan sesuatu tentang BAGAIMANA pertolongan Allah datang: sering kali dari ARAH yang tidak disangka, melalui SARANA yang tampaknya tidak memadai (tongkat vs batu), tapi menghasilkan KELIMPAHAN yang terukur (12 mata air untuk 12 suku).

Implikasi (Renungan dan Hikmah, 3)
  • Memukul batu dengan tongkat untuk mengeluarkan air, perintah yang tidak masuk akal secara logika. Tapi justru di situlah letak mukjizat: ketika manusia melakukan APA YANG DIPERINTAHKAN, meskipun tampak sia-sia, Allah yang memberikan HASIL. Tongkat tidak bisa memecah batu; tapi kepatuhan pada perintah bisa. Ini mengajarkan bahwa yang dibutuhkan dari kita bukanlah KEKUATAN atau KEPINTARAN, melainkan KEPATUHAN untuk melakukan bagian kita, sekecil apa pun, dan membiarkan Allah melakukan bagian-Nya.
  • Dua belas suku, dua belas mata air. Masing-masing tahu tempat minumnya. Tidak perlu berebut. Rahmat Allah selalu TERUKUR: cukup untuk semua, dan masing-masing dapat bagiannya. Konflik sering terjadi BUKAN karena sumber daya tidak cukup, tapi karena DISTRIBUSI yang kacau dan KESERAKAHAN yang membuat orang mengambil lebih dari bagiannya. Ayat ini menunjukkan model ilahi: setiap kelompok punya mata air sendiri, dan SEMUA minum.
  • Urutannya: makan, minum, baru jangan merusak. Allah tidak memulai dengan larangan; Ia memulai dengan UNDANGAN untuk menikmati. Pola yang persis sama dengan Adam di taman: makanlah dengan leluasa, baru jangan dekati pohon. Anugerah selalu MENDAHULUI aturan. Ini mengubah citra Allah dari PEMBERI HUKUM yang galak menjadi PEMBERI NIKMAT yang peduli, yang memberi larangan BUKAN untuk membatasi, tapi untuk MELINDUNGI apa yang sudah diberikan.