فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Lalu orang-orang yang zalim mengganti perkataan dengan yang lain dari yang dikatakan kepada mereka, maka Kami turunkan atas orang-orang yang zalim azab dari langit karena mereka berbuat fasik.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْfa-baddala lladziina zhalamuu qawlan ghayra lladzii qiila lahumlalu orang-orang yang zalim mengganti perkataan dengan yang lain dari yang dikatakan kepada mereka
  2. فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَfa-anzalnaa alaa lladziina zhalamuu rijzan mina s-samaai bimaa kaanuu yafsuquunamaka Kami turunkan kepada orang-orang yang zalim itu malapetaka dari langit, karena mereka selalu berbuat fasik
Penjelasan pilihan kata

"Lalu orang-orang yang zalim mengganti perkataan dengan yang lain dari yang dikatakan kepada mereka", mereka TIDAK mengucapkan hittah seperti yang diperintahkan. Mereka MENGGANTI kata-kata itu. Bukan membangkang secara terang-terangan, hanya MENGGANTI BEBERAPA KATA. Perubahan kecil: satu kata diganti, makna bergeser. Ini adalah bentuk pembangkangan yang paling licik: bukan menolak secara total, melainkan MEMODIFIKASI sehingga esensinya hilang.

"Maka Kami turunkan kepada orang-orang yang zalim itu malapetaka dari langit, karena mereka selalu berbuat fasik", rijzan (رِجْزًا): malapetaka, azab. Hukuman turun dari LANGIT, dari arah yang sama dengan manna dan salwa (2:57) dan naungan awan (2:57). Yang tadinya sumber REZEKI kini menjadi sumber AZAB. Langit yang sama, dulu menurunkan makanan, sekarang menurunkan malapetaka. Perubahan satu kata mengubah arah langit dari pemberi menjadi penghukum.

Tafsiran

Satu kata. Hanya SATU KATA yang diminta, hittah (ampunilah kami). Dan mereka MENGGANTINYA. Ini adalah dosa yang tampaknya kecil: hanya mengubah ucapan. Tapi di balik perubahan kecil itu ada sikap yang BESAR: kesombongan untuk tidak mau MERENDAHKAN DIRI. Lebih mudah bagi mereka untuk tidak masuk kota sama sekali daripada masuk sambil bersujud dan memohon ampun. Harga diri lebih mahal dari tanah yang dijanjikan. Dan hasilnya: malapetaka dari langit. Bukan karena Allah kejam, tapi karena ketika manusia menolak untuk merendahkan diri, yang turun dari langit bukan lagi rahmat, melainkan akibat dari pilihan mereka sendiri.

Implikasi (Renungan dan Hikmah, 1)
  • Perintahnya sederhana: ucapkan hittah. Mereka menggantinya dengan kata lain. Bukan pembangkangan besar, hanya MODIFIKASI kecil. Tapi justru di situlah bahayanya: dosa-dosa besar sering kali berawal dari perubahan kecil yang tampaknya tidak berarti. Satu kata diganti, makna bergeser, arah berubah. Dan akibatnya: yang tadinya turun dari langit sebagai REZEKI (manna, salwa, naungan) kini turun sebagai MALAPETAKA. Langit yang sama, hasil yang berbeda, semuanya karena SATU KATA yang diubah. Godaan untuk sedikit memodifikasi perintah adalah godaan yang paling sering muncul dan paling jarang dikenali.