قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Mereka berkata, “Mahasuci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Sang Berilmu lagi Sang Penuh Hikmah.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَاqaaluu subhaanaka laa ilma lanaa illaa maa allamtanaamereka berkata, Mahasuci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami
  2. إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُinnaka anta l-aliimu l-hakiimusesungguhnya Engkau, Engkaulah Sang Berilmu lagi Sang Penuh Hikmah
Terjemahan per kata (12 kata)
  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. سُبْحَانَكَsubhaanakaMahasuci Engkau
  3. لَاlaatidak ada
  4. عِلْمَilmapengetahuan
  5. لَنَاlanaabagi kami
  6. إِلَّاillaakecuali
  7. مَاmaaapa yang
  8. عَلَّمْتَنَاallamtanaaEngkau ajarkan kepada kami
  9. إِنَّكَinnakasesungguhnya Engkau
  10. أَنْتَantaEngkau
  11. الْعَلِيمُl-aliimuSang Berilmu
  12. الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah
Penjelasan pilihan kata

“Mahasuci” (subhaanaka) tetap satu-satunya bentuk berawalan superlatif yang diizinkan dalam disiplin proyek ini, sesuai cara yang sudah berlaku di ayat-ayat lain.

Jawaban para malaikat dibuka kata yang persis sama dipakai di dua tempat lain ketika sesuatu yang dituduh ikut bertanggung jawab menjawab tuduhannya: ketika yang disembah selain Allah ditanya kenapa membiarkan penyembahnya sesat, jawaban mereka dibuka “Mereka berkata, Mahasuci Engkau” (قَالُوا سُبْحَانَكَ, qaaluu subhaanaka); dan ketika malaikat sendiri ditanya soal jin yang disembah manusia, jawaban mereka dibuka kata yang sama persis. Ketiga tempat berbagi pola yang sama: yang ditanya menjauhkan diri dari kesan pernah mengklaim sesuatu di luar dirinya, sebelum menjelaskan batas yang sebenarnya.

“Tidak ada pengetahuan bagi kami” (لَا عِلْمَ لَنَا, laa ilma lanaa) memakai frasa yang persis sama hanya di satu tempat lain di seluruh Al-Qur'an: pada hari ketika Allah mengumpulkan semua utusan dan bertanya apa jawaban yang mereka terima dari kaum mereka, jawaban mereka dibuka kata yang sama persis, sebelum ditutup nama Allah yang berbeda, Yang Mengetahui segala yang gaib, bukan Yang Berilmu lagi Bijaksana. Dua momen ini, satu di awal penciptaan dan satu di hari kiamat, sama-sama saat yang ditanya diuji soal sesuatu yang sepenuhnya di luar jangkauannya, dan keduanya memilih jawaban yang sama: mengaku batas, bukan berpura-pura.

“Yang telah Engkau ajarkan kepada kami” (عَلَّمْتَنَا, allamtanaa), bentuk “Engkau ajarkan kepada kami” ini, hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an. Akar kata yang sama baru saja dipakai tiga kali berturut-turut di tiga ayat sebelumnya: Dia berilmu akan segala sesuatu (2:29), Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui (2:30), Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama itu seluruhnya (2:31). Ayat ini menutup rangkaian itu dari sisi yang berbeda: bukan Allah menyatakan diri-Nya berilmu, melainkan malaikat sendiri mengakui bahwa pengetahuan mereka seluruhnya berasal dari pengajaran, tidak ada yang mereka miliki sendiri.

Penutup ayat, “Sang Berilmu lagi Sang Penuh Hikmah” (الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ, al-aliimu l-hakiimu, bentuk takrif berkata sandang al-, dipertahankan huruf besar sesuai konvensi yang sudah berlaku: sebutan takrif berkata sandang al- yang muncul setelah “innaka anta”/“huwa” ditulis “Sang X”, sedangkan bentuk nakirah tanpa kata sandang ditulis huruf kecil tanpa awalan), memakai penekanan ganda “sesungguhnya Engkau, Engkaulah” (إِنَّكَ أَنْتَ, innaka anta) yang muncul empat belas kali di seluruh Al-Qur'an, selalu pada momen penghambaan total diucapkan langsung kepada Allah. Pasangan dua sebutan takrif ini sendiri, “Sang Berilmu” bersanding “Sang Penuh Hikmah” tanpa dipisah kata lain, hanya muncul di empat tempat: di sini, dua kali dalam kisah Yusuf (kesabaran ayahnya menunggu anaknya kembali, dan saat mimpi Yusuf akhirnya terbukti nyata), dan sekali pada urusan sumpah pribadi dalam rumah tangga. Keempatnya bukan pernyataan hukum atau seruan kepada umat, melainkan momen personal, kecil, tentang kesabaran dan kepercayaan yang akhirnya terbukti benar.

Tafsiran

Ayat ini jawaban, bukan pembelaan. Ketika ditantang menyebutkan nama-nama yang tidak pernah diajarkan kepada mereka, para malaikat tidak mencari alasan dan tidak berusaha menutupi kekurangan mereka. Jawaban mereka justru mengulang kata yang biasa dipakai untuk menjauhkan diri dari tuduhan, padahal di sini tidak ada tuduhan yang dialamatkan kepada mereka. Yang mereka jauhkan bukan tuduhan, melainkan kesan bahwa mereka pernah mengklaim tahu sesuatu yang sebenarnya tidak mereka ketahui.

Pengakuan itu langsung menjawab pernyataan yang baru saja diucapkan dua ayat sebelumnya: ada yang Aku ketahui dan tidak kalian ketahui. Para malaikat tidak membantah, tidak juga diam. Mereka mengambil pernyataan itu dan menjadikannya jawaban mereka sendiri, dengan kata-kata yang bahkan tidak pernah dipakai di tempat lain mana pun: pengetahuan yang mereka punya, seluruhnya, adalah yang diajarkan.

Yang menarik dari susunan penutupnya, sebutan ganda “Yang Berilmu lagi Bijaksana” dalam bentuk yang paling tegas ini justru bukan muncul di tengah pernyataan besar tentang penciptaan langit dan bumi. Ia muncul di sini, dalam pengakuan kecil tentang batas pengetahuan, dan tiga kali lagi kelak, dalam kesabaran seorang ayah menunggu anaknya, dalam mimpi yang akhirnya terbukti benar, dan dalam urusan pribadi rumah tangga. Sebutan yang paling kokoh ternyata justru melekat pada momen paling personal, bukan yang paling megah.

Implikasi (8)
  • Yang diuji di sini bukan seberapa banyak yang diketahui, melainkan kejujuran mengakui yang tidak diketahui. Jawaban yang dipilih bukan tebakan, bukan pula diam menutupi. Di banyak ruang kerja dan forum modern, mengakui belum tahu justru sering dianggap kelemahan yang harus disembunyikan, padahal di sini ia menjadi jawaban yang benar.
  • Yang diakui bukan sekadar keterbatasan, melainkan sumbernya: seluruh yang diketahui adalah yang diajarkan, tidak ada yang berasal dari diri sendiri. Klaim keahlian mana pun, sejauh apa pun dirasa dimiliki, tetap bersandar pada apa yang lebih dulu diterima dari luar dirinya, bukan ditemukan sendiri dari nol.
  • Kata pembuka jawaban ini biasa dipakai saat sesuatu dituduh bertanggung jawab atas hal yang di luar kendalinya. Di sini tidak ada tuduhan, hanya ujian, tapi kata yang sama tetap dipakai, seolah kehati-hatian menjaga jarak dari klaim berlebihan berlaku bahkan sebelum ada yang menuduh, bukan cuma sesudahnya.
  • Bentuk penyebutan yang paling kokoh untuk sifat berilmu dan bijaksana ternyata tidak melekat pada pernyataan tentang penciptaan alam semesta, melainkan pada pengakuan kecil tentang batas pengetahuan sendiri, dan kelak pada kesabaran pribadi serta urusan rumah tangga. Kebesaran ternyata tidak selalu terletak di skala peristiwa.
  • Pengakuan ini tidak berdiri sendiri, ia jawaban langsung atas batas yang baru saja dinyatakan dua ayat sebelumnya. Menerima batas yang sudah dinyatakan pihak lain, tanpa berusaha melampauinya lebih dulu untuk membuktikan diri, adalah bentuk kerendahan hati yang jarang datang secara spontan.
  • Kalimat pengakuan yang sama akan diucapkan lagi kelak oleh golongan yang berbeda, pada hari yang jauh berbeda pula, bukan malaikat di awal penciptaan, melainkan para utusan yang ditanya tentang tanggapan kaum mereka. Ujian tentang batas pengetahuan bukan pengalaman sekali jadi milik satu golongan saja.
  • Pengakuan keterbatasan ini tidak disertai permintaan maaf berlebihan atau perendahan diri yang berkepanjangan. Ia dinyatakan singkat, lugas, tanpa berlama-lama meratapi diri. Ada perbedaan antara mengakui batas dan meratapi diri karena batas itu, dan yang dipilih di sini adalah yang pertama.
  • Yang mengucapkan pengakuan ini bukan pihak yang lemah atau diragukan kedudukannya, melainkan yang baru saja menyebutkan ketekunan pengabdian mereka sendiri sebagai bahan perbandingan. Kesediaan mengakui batas pengetahuan justru datang paling mudah dari yang paling mapan kedudukannya, bukan yang paling tak yakin.