يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai manusia, mengabdilah kepada Tuhan kalian yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَyaa ayyuhaa n-naasu buduu rabbakumu lladzii khalaqakum wa-lladziina min qablikum la'allakum tattaquunawahai manusia, mengabdilah kepada Tuhan kalian yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa
Penjelasan pilihan kata
Setelah dua puluh ayat yang menggambarkan tiga sikap manusia, ayat ini adalah seruan pertama dalam surah. Dan seruan itu tidak ditujukan kepada golongan tertentu, melainkan kepada semua: "wahai manusia" (يَا أَيُّهَا النَّاسُ, yaa ayyuhaa n-naasu), sebuah panggilan yang muncul dua puluh kali di seluruh Al-Qur'an.
Kata "mengabdilah" (اعْبُدُوا, buduu) berasal dari akar yang sama dengan kata "hamba", akar yang sama pula dengan kata yang dipakai dalam ikrar "hanya kepada-Mu kami mengabdi" (1:5). Yang diminta bukan serangkaian tindakan ritual, melainkan penempatan diri dalam kedudukan hamba di hadapan tuannya: penyerahan yang meliputi seluruh hidup, termasuk cara memperlakukan sesama.
Alasan yang diberikan bukan ancaman, melainkan hubungan: "yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian" (الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ, lladzii khalaqakum wa-lladziina min qablikum). Cakupannya melampaui yang sedang diseru: bukan hanya mereka yang mendengar, tetapi juga semua yang hidup sebelum mereka. Sebutan "Tuhan kalian" (رَبَّكُمُ, rabbakumu) berasal dari akar yang sama dengan sebutan "Tuhan seisi alam" di 1:2.
Penutup ayat menutup sebuah lingkaran yang dibuka di awal surah. Kata "bertakwa" (تَتَّقُونَ, tattaquuna) berasal dari akar yang sama persis dengan kata yang dipakai di 2:2, ketika Kitab ini disebut "petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa". Di sana ketakwaan disebut sebagai keadaan mereka yang menerima; di sini ketakwaan disebut sebagai tujuan yang hendak dicapai. Yang di awal tampak sebagai syarat, di sini muncul sebagai hasil.
Bentuk seruan "mengabdilah kepada Tuhan kalian" muncul dua kali di Al-Qur'an (2:21 dan 22:77), sedangkan penutupnya, "agar kalian bertakwa" (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ, la'allakum tattaquuna), muncul enam kali.
Tafsiran
Dua puluh ayat pertama surah ini menggambarkan tiga golongan tanpa menyapa siapa pun secara langsung. Ayat ini memecah pola itu dengan panggilan yang ditujukan kepada semua manusia, tanpa membedakan mereka yang sudah digambarkan sebagai golongan mana pun. Gambaran boleh membedakan; seruan tidak.
Yang diminta pun bukan sesuatu yang asing bagi yang diseru. Alasannya adalah penciptaan, sesuatu yang berlaku sama bagi siapa saja yang mendengarnya. Tidak ada yang perlu diyakini lebih dulu sebelum alasan itu berlaku; cukup mengakui bahwa keberadaan sendiri bukan hasil pilihan sendiri.
Dan cakupan alasan itu diperluas melampaui yang sedang diajak bicara: bukan hanya kalian yang diciptakan, tetapi juga semua yang hidup sebelum kalian. Penyebutan ini menempatkan yang diseru dalam barisan panjang yang jauh lebih tua daripada dirinya sendiri. Pengabdian yang diminta bukan sesuatu yang baru diperkenalkan, melainkan sesuatu yang sudah berlangsung jauh sebelum yang mendengar ini lahir.
Penutupnya menutup lingkaran yang dibuka di awal surah. Kitab ini disebut petunjuk bagi orang yang bertakwa, dan pengabdian ini diminta agar kalian bertakwa. Ketakwaan muncul di kedua ujung: sebagai bekal untuk menerima, dan sebagai hasil yang dituju. Yang terlihat seperti lingkaran tertutup sebenarnya lebih menyerupai tangga: setiap kali dijalani, ia mengantar ke tingkat yang sama namun lebih tinggi.
Implikasi (6)
- Dua puluh ayat sebelumnya membedakan manusia menjadi tiga golongan. Ayat ini menyapa semuanya tanpa membedakan: wahai manusia. Gambaran boleh membedakan; seruan tidak. Tidak ada yang dikeluarkan dari panggilan ini, termasuk mereka yang baru saja digambarkan sebagai menutupi, sebagai mengaku tanpa bukti, atau sebagai berjalan bolak-balik dalam gelap.
- Alasan yang diberikan bukan ancaman, melainkan penciptaan. Dan alasan itu berlaku bagi siapa saja yang mendengarnya, tanpa perlu meyakini apa pun lebih dulu. Cukup mengakui bahwa keberadaan diri sendiri bukan hasil pilihan sendiri. Dari pengakuan sesederhana itu, seluruh seruan ini berdiri.
- Alasan itu diperluas melampaui yang sedang diajak bicara: bukan hanya kalian yang diciptakan, tetapi juga semua yang hidup sebelum kalian. Penyebutan ini menempatkan yang mendengar dalam barisan yang jauh lebih tua daripada diri sendiri. Yang diminta bukan sesuatu yang baru diperkenalkan, melainkan yang sudah berlangsung lama sebelum ia lahir.
- Di awal surah, Kitab ini disebut petunjuk bagi orang yang bertakwa. Di sini, pengabdian diminta agar kalian bertakwa. Ketakwaan muncul di kedua ujung: sebagai bekal untuk menerima, dan sebagai hasil yang dituju. Yang tampak seperti lingkaran tertutup lebih menyerupai tangga: setiap kali dijalani, ia mengantar ke tempat yang sama namun lebih tinggi.
- Penutupnya berbunyi "agar kalian bertakwa", bukan "maka kalian pasti bertakwa". Kata yang dipakai menyisakan kemungkinan, bukan jaminan. Pengabdian membuka jalan menuju ketakwaan tetapi tidak menghasilkannya secara otomatis. Ada bagian yang tetap bergantung pada yang menjalaninya, dan bagian itu tidak bisa diambil alih oleh siapa pun.
- Kata yang dipakai berasal dari akar yang sama dengan kata "hamba", bukan dari akar yang berarti tindakan ritual. Yang diminta adalah penempatan diri dalam kedudukan hamba di hadapan tuannya, penyerahan yang meliputi seluruh hidup. Membaca kata ini sebagai perintah menjalankan upacara akan menyempitkan sesuatu yang sejak awal dimaksudkan seluas hidup itu sendiri.