أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ
Atau seperti hujan lebat dari langit, di dalamnya ada kegelapan, guruh, dan kilat; mereka memasukkan jari-jari mereka ke telinga mereka karena petir, karena takut akan kematian. Dan Allah meliputi orang-orang yang kufur.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِaw ka-sayyibin mina s-samaa'i fiihi zhulumaatun wa-ra'dun wa-barqun yaj'aluuna asaabi'ahum fii aadzaanihim mina s-sawaa'iqi hadzara l-mawtiatau seperti hujan lebat dari langit, di dalamnya ada kegelapan, guruh, dan kilat, mereka memasukkan jari-jari mereka ke telinga mereka karena petir, karena takut akan kematian
- وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَwa-llaahu muhiitun bi-l-kaafiriinadan Allah meliputi orang-orang yang kufur
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini membuka perumpamaan kedua, ditandai dengan kata "atau" yang menempatkannya sejajar dengan perumpamaan api sebelumnya, bukan menggantikannya.
Kata "hujan lebat" (كَصَيِّبٍ, ka-sayyibin) berasal dari akar yang oleh para penyusun kamus klasik dijelaskan sebagai sesuatu yang tercurah dan turun. Akar yang sama melahirkan kata kerja yang dipakai untuk sesuatu yang menimpa seseorang, dan dari akar yang sama pula berasal kata yang lazim diterjemahkan "musibah". Jadi hujan lebat dan sesuatu yang menimpa berasal dari satu keluarga kata: sama-sama turun dari atas dan mengenai tepat sasaran.
Di dalam hujan itu disebutkan tiga hal: "kegelapan, guruh, dan kilat" (ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ, zhulumaatun wa-ra'dun wa-barqun). Yang pertama memakai bentuk jamak, dua yang lain tunggal. Ini sesuai dengan pola yang berlaku di seluruh Al-Qur'an: kata untuk kegelapan tidak pernah muncul dalam bentuk tunggal, sedangkan kata untuk cahaya tidak pernah muncul dalam bentuk jamak.
Tanggapan mereka digambarkan sangat khusus: "mereka memasukkan jari-jari mereka ke telinga mereka" (يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ, yaj'aluuna asaabi'ahum fii aadzaanihim). Yang ditutup hanya telinga, dan yang dipakai menutup hanya jari. Sementara yang dihindari, menurut kalimat berikutnya, adalah kematian: "karena takut akan kematian" (حَذَرَ الْمَوْتِ, hadzara l-mawti), sebuah rangkaian yang muncul dua kali di Al-Qur'an (2:19 dan 2:243).
Penutup ayat memakai kata yang berarti mengelilingi dari segala sisi: "dan Allah meliputi orang-orang yang kufur" (وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ, wa-llaahu muhiitun bi-l-kaafiriina). Kata "meliputi" muncul sebelas kali di Al-Qur'an, dan salah satunya (4:108) dipakai dalam gambaran yang serupa: orang yang bersembunyi dari manusia namun tidak bersembunyi dari Allah. Rangkaian penutup ini sendiri hanya muncul satu kali.
Tafsiran
Perumpamaan ini disambungkan dengan kata "atau", bukan menggantikan perumpamaan sebelumnya melainkan berdiri di sampingnya. Yang pertama menggambarkan cahaya yang diambil; yang kedua menggambarkan orang yang tertimpa dari atas. Keduanya menyisakan keadaan yang sama, tetapi dari arah yang berbeda.
Yang paling menonjol dari ayat ini adalah ketidakseimbangan antara ancaman dan perlindungan yang diusahakan. Yang ditakuti adalah kematian, tetapi yang dilakukan hanyalah menutup telinga dengan jari. Jari tidak menghentikan petir; ia hanya meredam suaranya. Yang dilakukan bukan menghindari bahayanya, melainkan menghindari tanda yang memberitahukan bahaya itu.
Cara menghadapi ketakutan seperti ini bukan hal yang asing. Ketika sesuatu yang menakutkan tidak bisa dihindari, yang paling mudah dilakukan adalah memutus kabar tentangnya. Berita buruk tidak dibaca, pemeriksaan tidak dijalani, peringatan tidak didengarkan. Bahayanya tetap utuh; yang berkurang hanya kesadaran akan bahaya itu, dan pengurangan itu terasa seperti keamanan.
Penutup ayat menempatkan seluruh usaha itu dalam ukurannya yang sebenarnya. Sementara mereka menutup satu indra dengan sepuluh jari, mereka sudah diliputi dari segala sisi. Tidak ada yang perlu ditembus, karena tidak ada yang berada di luar. Jarak antara kedua gambaran itu, jari yang menutup telinga dan liputan yang mengelilingi segalanya, adalah jarak antara usaha manusia menyembunyikan diri dan kenyataan yang tak bisa disembunyikan darinya.
Implikasi (6)
- Yang ditakuti adalah kematian, tetapi yang dilakukan hanyalah menutup telinga dari suara petir. Jari tidak menghentikan petir; ia hanya meredam suaranya. Yang dihindari bukan bahayanya, melainkan tanda yang memberitahukan bahaya itu. Ketika sesuatu yang menakutkan tak bisa dihindari, memutus kabar tentangnya selalu terasa lebih mudah daripada menghadapinya.
- Berita buruk yang tidak dibaca, pemeriksaan yang tidak dijalani, peringatan yang tidak didengarkan: bahayanya tetap utuh, yang berkurang hanya kesadaran akan bahaya itu. Dan pengurangan kesadaran itu terasa persis seperti keamanan. Inilah sebabnya cara ini begitu sering ditempuh, dan begitu jarang dikenali sebagai penghindaran.
- Sementara mereka menutup satu indra dengan sepuluh jari, penutup ayat menyatakan mereka sudah diliputi dari segala sisi. Tidak ada yang perlu ditembus, karena tidak ada yang berada di luar. Jarak antara kedua gambaran itu adalah jarak antara usaha menyembunyikan diri dan kenyataan yang tidak bisa disembunyikan darinya.
- Kata untuk hujan lebat di ayat ini berasal dari akar yang sama dengan kata kerja untuk sesuatu yang menimpa seseorang, dan dari akar yang sama pula berasal kata yang lazim diterjemahkan musibah. Hujan dan musibah, dalam bahasa aslinya, sama-sama berarti sesuatu yang turun dari atas dan mengenai tepat sasaran. Yang membedakan keduanya bukan asalnya, melainkan bagaimana ia diterima.
- Perumpamaan ini disambungkan dengan kata "atau", bukan menggantikan yang sebelumnya melainkan berdiri di sampingnya. Yang pertama tentang cahaya yang diambil, yang kedua tentang tertimpa dari atas. Satu keadaan bisa digambarkan dari lebih dari satu arah, dan setiap arah menyingkap sisi yang tidak terlihat dari arah yang lain.
- Di dalam hujan itu disebut kegelapan dalam bentuk jamak, sementara guruh dan kilat disebut tunggal. Pola ini berlaku di seluruh Al-Qur'an tanpa kecuali: kegelapan tidak pernah tunggal, cahaya tidak pernah jamak. Yang menyesatkan selalu punya banyak wajah; yang menerangi hanya punya satu.